
"Apa maksudmu Moreno?", Ketus Alice menatap tajam Moreno.
Tanpa menghiraukan wanita itu Moreno menyuapkan makanan kemulutnya.
"Alice, ada apa dengan mu? Kenapa kau berhenti makan? Putraku membawa berita baik untuk kita ia mengatakan Audri calon istrinya. Apa ada yang salah dengan itu?", ujar Anteras menatap sekilas istrinya Alice yang terlihat salah tingkah. Wanita itu mengatur kondisinya agar terlihat biasa-biasa saja.
Anteras menatap Moreno dan Audri bergantian. "Apakah kau serius dengan ucapan mu nak? Kalian sudah merencanakan pernikahan?".
"Tentu saja dad. Hal inilah yang akan aku bicarakan dengan mu. Aku serius dengan Audri. Kami saling mencintai", ucap Moreno bersungguh-sungguh.
Moreno menggenggam erat jemari tangan Audri yang ada di atas meja dan mengecupnya dengan mesra. Anteras menganggukkan kepalanya, ia tersenyum melihat putranya begitu menunjukkan bahwa ia sangat mencintai kekasihnya. Sementara Alice semakin menampakkan wajah kesalnya melihat pemandangan di depan matanya.
"Sayang aku sudah selesai makan, kepalaku pusing", ujar Alice beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu lah di ruang keluarga, Morena akan menyampaikan sesuatu", tegas Anteras pada istrinya.
"Tapi sayang, Aku..
"Alice...Putra ku satu-satunya akan berbicara dengan kita. Tidak ada bantahan. Kecuali kau bukan bagian keluarga ini!", Ketus Anteras dengan tegas. Anteras berdiri dan berjalan menuju ruang keluarga.
"Sayang, aku akan ke toilet sebentar. Kau berbincang lah dengan daddy dan istrinya dulu", ucap Moreno mengusap lembut wajah Audri. Sekilas ia menatap Alice yang juga menatapnya tajam tak berkedip.
Hm, Iya Reno", jawab Audri sambil membawa buah segar ke ruang keluarga. Sementara Moreno membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya masuk ke salah satu ruangan. Alice masih duduk di meja makan dan menikmati puding buah sebagai hidangan penutup.
Sesaat kemudian Alice mengelap ujung bibirnya. Sekilas ia melihat Audri sedang berbicara akrab dengan Anteras. Alice membawa piring dan gelas miliknya ke pantry yang berada di sebelah ruangan yang tadi di masuki Moreno.
*
__ADS_1
Moreno mencuci tangannya di wastafel. Ia melihat Alice datang dan mencuci tangan juga di sampingnya. Moreno mengeringkan tangannya, ia membalikkan tubuhnya hendak pergi dari sana tanpa berkata sepatah katapun.
"Moreno..aku merindukanmu sayang", Ucap Alice yang tiba-tiba memeluk tubuh Moreno dari belakang.
Seketika Moreno menghentakkan tangan Alice yang melingkar di perutnya. Moreno membalikkan tubuhnya menghadap Alice sambil mencengkram kuat pergelangan tangan Alice yang menatapnya dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan yang mendalam.
Tanpa keduanya sadari sepasang mata begitu terkejut melihat keduanya. Alice memeluk erat tubuh Moreno dan Moreno segera melepaskan tangan itu. Audri melihat semuanya.
Sebelum Moreno dan Alice menyadari kehadirannya cepat-cepat Audri mundur dan mengurungkan niatnya ke toilet. Gadis itu lebih memilih untuk berdiri balik pintu yang terbuka setengah. Namun ia bisa mendengar dengan jelas ucapan Alice beberapa saat yang lalu. Audri memilih tetap di sana dengan tubuh gemetaran dengan mata berkaca-kaca.
"Aku ingatkan pada mu Alice, jangan pernah berani menyentuh ku seperti tadi. Atau kau tidak akan menikmati hidup mu dengan tenang untuk selamanya!", ketus Moreno menghentakkan tangan Alice dengan kasar.
Moreno membalikkan tubuhnya hendak keluar.
"Jangan menikah dengan wanita itu, Reno. Aku mohon", lirih Alice memohon.
Tanpa menolehkan kepalanya Moreno tersenyum sinis. "Apa hak mu mengatur ku. Hubungan kita sudah lama berakhir semenjak kau menikah dengan ayah ku. Asal kau tahu aku benar-benar mencintai Audri. Ia gadis yang baik dan mampu membuat ku bersyukur akan setiap helaan nafas kehidupan ku. Audri bukan wanita gila harta seperti dirimu, yang mementingkan harta di atas segala-galanya", balas Moreno sarkas.
Moreno membalikkan tubuhnya seketika. Tangan kanannya mencengkram kuat wajah Alice yang menatapnya. "Jangan pernah kau menyakiti ayah ku atau ku buat hidup mu dan keluarga mu di jalanan saat ini juga!", ucap Moreno berusaha menahan amarahnya. Dengan keras ia melepaskan tangannya membuat wajah Alice tersentak dan memerah.
Moreno membalikkan badannya meninggalkan Alice yang menatap punggung dengan tatapan tajam.
Sementara Audri cepat-cepat kembali ke ruang keluarga. Perlahan ia mengusap air matanya. Sejujurnya ia terharu mendengar pengakuan Moreno di hadapan Alice yang mengatakan sangat mencintainya. Perasaan Audri benar-benar menghangat mendengarnya.
Namun Audri tidak tahu bahwa Alice dan Moreno adalah sepasang kekasih. Moreno tidak menceritakan tentang ini kepada kepadanya.
"Apa kau sudah ke toilet", tanya Anteras.
"Iya daddy. Hm daddy suka buah apa biar aku ambilkan", tanya Audri tersenyum pada Anteras. Gadis itu bersikap setenang mungkin seolah tak terjadi apa-apa. Beberapa saat yang lalu ia berbicara berdua dengan Anteras meminta Audri memanggilnya dengan sebutan daddy sama seperti Moreno. Tentu saja Audri bersedia.
"Daddy menyukai buah Charentais yang berasal dari Prancis", jawab Moreno yang sudah berada di antara Audri dan Anteras.
__ADS_1
Anteras tersenyum mendengar putranya sangat tahu buah kesukaannya Charentais yaitu melon yang dagingnya berwarna oranye terang.
"Daddy senang kau tidak pernah melupakan kesukaan daddy nak", ucap Anteras mengambil piring kecil yang sudah berisi potongan buah melon yang diberikan Audri padanya.
Audri duduk di samping Moreno. Moreno menggenggam erat jemari tangannya dan membawa ke atas pahanya. Sesaat Audri menundukkan kepalanya. Ia menyadari Alice juga telah bergabung bersama mereka.
"Alright, semua sudah berkumpul sekarang", ucap Moreno memulai pembicaraan.
"Dad, tujuan ku ke Marseille selain melihat keadaan daddy yaitu ingin memberi tahu daddy tentang hubungan ku dan Audri. Mengenalkan kekasih ku pada daddy. Aku sangat mencintai Audri. Begitupun sebaliknya. Kami serius menjalani hubungan ini".
"Seperti daddy tahu usia ku sudah matang. Bukan waktunya lagi untuk main-main dengan hati. Aku ingin segera menikah. Membina rumah tangga dan memiliki anak dari wanita yang aku cintai", ucap Moreno dengan yakin.
Perkataan Moreno membuat perasaan Audri di dilingkupi rasa haru. Ia menatap lekat Moreno dengan tatapan memuja dan berkaca-kaca. Audri mengeratkan genggaman tangannya.
"Apa kau sudah sangat yakin dengan pilihan mu Reno", ketus Alice sarkas. Kedua matanya tak hentinya menghunuskan tatapan tajam pada Audri. Alice membenci wanita itu. Ia berharap Anteras tidak langsung menyetujui keputusan Moreno untuk segera menikahi Audri.
"Apa kau sudah mengetahui asal usul kekasih mu ini? Yaa bukan apa-apa, bukankah zaman sekarang banyak wanita berpenampilan polos dan lugu ternyata bukan wanita baik-baik. Apalagi kau adalah pewaris perusahaan Anteras. Tentu banyak sekali yang mengincar mu", ketus Alice melancarkan aksinya niatnya tak lain yaitu mempengaruhi suaminya Anteras supaya tidak langsung merestui hubungan Moreno dan Audri.
Huhhh, Audri menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
"Maaf nyonya, sebelum Moreno mengajakku menemui tuan Anteras, Moreno terlebih dahulu menemui kedua orang tua ku beberapa minggu yang lalu. Kekasihku tahu betul asal usul ku. Tidak ada yang di tutupi dari hubungan kami", jawab Audri dengan tegas.
Moreno tersenyum mendengar jawaban Audri, begitu pun Anteras. Laki-laki itu begitu kagum dengan pilihan putranya Moreno.
"Kau tahu Moreno, sekarang daddy baru tahu selera mu tentang wanita. Kau mematok nilai yang tinggi, tidak hanya cantik tapi kau juga memilih wanita yang cerdas dan pekerja keras. Daddy merestui kalian. Daddy berharap kau dan Audri segera melangsungkan pernikahan kalian secepatnya", ucap Anteras. Ia melebarkan kedua tangannya. Moreno mengerti ia menarik tangan Audri memeluk Anteras.
Dibalik tawa bahagia ketiganya, terlihat Alice tidak menyukainya. Bahkan ia berulangkali mengumpat di dalam hatinya.
"Brengsek kau Anteras..
...***...
__ADS_1
MASIH MAU LANJUT ATAU UDAHAN DULU KARENA CHAPTER NYA PANJANG-PANJANG HARI INI. MUNGKIN SUDAH BOSAN ❤️