MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
Bab 3


__ADS_3

Pagi yang cerah, secerah hati Nara. Hari ini ia begitu bersemangat untuk berangkat kerja. Setelah bersiap-siap, Nara pun sarapan lalu berpamitan kepada Mama.


"Ma, Nara berangkat kerja dulu," ucap Nara.


"Hati-hati, Nara sayang ...," jawab Mama.


Nara berjalan keluar rumah, terlihat di depan rumahnya ada mobil mewah terparkir. Terlintas dibenaknya, ia seperti mengenali mobil itu. Lalu, ia melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan siapa yang berada dalam mobil itu. Tiba-tiba, pintu mobil terbuka. Dan muncul pria berjas hitam yang turun dari mobil mewah itu. Ternyata, itu adalah Reynand. Bau parfumnya yang membuat para wanita jatuh cinta, hingga tak bisa move on. Terkecuali Nara, ia bahkan meledek Rey saat itu.


"Uhuk ... uhuk ... anda memakai parfum satu botolkah?" tanya Nara. "Sampai-sampai saya batuk gini mencium aromanya."


"Kamu meledek saya? Kamu saja yang norak, tidak pernah pakai parfum mahal, tentu berbeda aroma dengan parfum murah kamu," jawab Rey dengan angkuh.


"Heh, gak heran. Dia emang pantas tidak memiliki pasangan, karna kesombongannya," gumam Nara.


"Hei, saya mendengar perkataan kamu barusan, ya," ucap Rey sedikit kesal.


"Sudah ... sudah ... anda ada apa ke rumah saya?" tanya Nara sambil mengecek ponselnya.


"Kamu pergi ke kantor sama siapa? Sekarang musim perampokan, bahaya buat wanita yang berjalan sendirian," jawab Rey.


"Naik angkot, saya bisa bela diri. Tenang saja, Rey ...," lirih Nara.


"Cepat naik, jangan membantahku!!" ucapnya dengan keras.


Nara pun akhirnya masuk ke dalam mobil mewah itu. Begitu ia masuk, tampak ada foto wanita cantik terletak disela-sela setir mobil. Nara langsung mengambil foto itu.


Wah, cantik sekali cewek ini. Pasti dia model, kapan ya aku bisa kayak dia.


"Kenapa kamu?" tanya Rey. "Kamu ngelihat apa itu?" Rey mengambil foto yang Nara pegang.


"Pacar kamu ya? Cantik," ucap Nara.


"Bukan, dia bukan pacar saya!! Saya tidak memiliki pacar," jawab Rey dengan tegas.


"Oh ya? Tapi ada bagusnya anda tidak punya pacar ...," lirih Nara.

__ADS_1


"Kenapa? Atau jangan-jangan kamu udah lama ngincar saya, kamu suka sama saya. Makanya kamu ngomong gitu," tuturnya dengan candaan.


"Hih, saya tidak tertarik dengan anda sedikit pun. Siapa coba cewek yang tahan dengan sifat dingin begitu. Ogah," ucapnya dengan berbisik.


Perjalanan menuju kantor memakan waktu lima menit. Begitu sampai di parkiran, Nara langsung turun tanpa basa basi ke Rey. Ia menghentakkan pintu mobil dengan cukup keras, sehingga membuat Rey kaget.


"Hei, bisa kamu pelan sedikit menutupnya. Kamu tidak tau saya baru saja mengganti cat mobil itu, awas jika sampai lecet!!" teriak Rey dari dalam mobil.


Nara berjalan menuju ruangannya sambil menggerutu. Saat ia baru saja membuka pintu ruangannya, terlihat ada seorang pria yang menahan tangannya untuk tidak membuka pintu itu dahulu. Nara membalikkan badan, ternyata pria itu adalah Bobby anak teman Papa sekaligus teman kecil Nara. Bobby emang tampan, baik hati, dan sopan terhadap wanita. Tapi, kelemahannya ia tukang selingkuh. Dan hanya Nara yang mengetahui sifat asli Bobby.


"Bobby ...," sapa Nara. "Kok bisa di sini?"


"Hei, Zea alias Nara," sahut Bobby. "Ketemu lagi kita semenjak bertahun-tahun aku pindah rumah."


"Kamu masih ingat nama kecilku dulu ternyata," ucap Nara kaget.


"Tentu. Kamu sekarang jauh berbeda, ya ...," lirih Bobby. "Sekarang jauh lebih cantik, top pokoknya."


"Halah, bilang aja ada maunya," bisik Nara.


Mereka saling bercanda karena sudah lama tak bertemu. Tiba-tiba, Rey datang dengan mengagetkan mereka berdua.


"Maaf, Bos. Saya permisi ...," ucap Bobby.


Nara pun kembali membuka pintu untuk masuk ke dalam ruangannya. Tetapi, Rey membeehentikan niatnya untuk masuk.


"Nara, mau kemana kamu?" tanya Rey dengan mengerutkan kening.


"Mau masuk ruangan kerja sayalah," cetus Nara. "Emang anda tidak lihat?"


"Ikut saya!!" perintah Rey sambil berjalan.


Nara sedikit kesal dengan perlakuan Rey, tapi mau tak mau harus menuruti perkataannya sesuai perjanjian semalam. Nara masih saja berdiri di depan pintu masuk ruangan kerjanya. Rey memintanya untuk segera meninggalkan tempat itu.


"Hei, gadis kecil. Bisa kamu mendengar perintahku? Cepat kemari ikut ke ruanganku!!" teriak Rey dari jarak beberapa meter.

__ADS_1


"Ba ... baik, saya segera kesana," jawab Nara dengan mengeraskan suara.


Nara membuntuti Rey dari belakang. Dengan sedikit menggerutu sangking kesalnya. Saat Rey membalikkan badan, Nara tak melihat Rey sedang berhenti. Ia pun menabrak tubuh Rey dengan sangat kuat.


Brukk ...


"Aduh ... sakit ...," rintih Nara sambil memegang tangannya.


"Lain kali jalan lihat ke depan, coba lihat mana yang sakit," ucap Rey melihat tangan gadis itu. "Halah, gak kenapa-kenapa kok, gak patahkan tulang kamu?"


"Ih, ngeselin banget jadi orang," jawab Nara lalu melajukan langkahnya.


Begitu sampai di depan pintu ruangan, Rey meminta Nara untuk membukakan kunci pintu itu. Setelah pintu terbuka, Rey masuk lalu memerintah Nara untuk menyusun berkas-berkas yang sudah tak terpakai.


Jadi aku disuruh ngerjain ini, terus harus sering ngelihat dia. Oh tidak, lebih baik aku mengerjakan tugas setumpuk dari pada harus melihatnya ...


Saat hampir selesai Nara membereskan tempat itu, Rey memanggilnya. Nara pun berjalan ke mejanya dengan wajah yang tampak lelah.


"Kamu istirahat dulu. Minum itu, saya mau keluar sebentar," ucap Rey sambil meletakkan minuman yang tampak tak asing bagi Nara.


Setelah Rey keluar, Nara mengambil minuman yang ia letakkan di atas meja itu. Nara mengucek mata dengan kedua tangannya. Dilihatnya dengan teliti botol minuman itu.


"Ini kayak minuman yougurt yang sering aku minum, kok dia tau kesukaanku ...," lirih Nara. "Oh, aku baru ingat. Ya ya ya ... aku pernah nawarin minuman ini ke dia, tapi ditolak mentah-mentah."


Nara membuka minuman yougurt yang diberikan Rey, segera ia habiskan. Lanjut ia makan siang, Nara membuka makanan yang sudah disediakan di atas meja. Ia begitu kaget dan menutup mulutnya yang ternganga saat melihat menu makanan yang mahal itu.


"Makan siangnya aja mewah begini, wah wah ... enaknya jadi bos. Bolehlah aku cobain tempat duduknya, mumpung dia gak ada, hehehe ...," ucap Nara berbisik.


Nara duduk kursi putar itu, ia memperagakan sewaktu Nara meminjam uang.


"Hei, kamu sudah gila saya tidak semudah itu memberikan pinjaman kepada bawahan, apalagi seperti anda!!" ucap Nara memperagakan gaya bahasa Rey.


Saat Nara asyik mengulangi kalimat itu, Rey masuk dan sedang berdiri dihadapannya. Nara memutar kursi ke arah depan sambil menunjuk ke Rey. Nara pun terdiam saat melihat pria itu sudah berdiri memandanginya sejak tadi.


"Hehe, maaf Tuan. Maksud saya Rey saja tidak pakai Tuan," ujar Nara lalu berdiri dari kursi itu menuju tempat berkas tadi.

__ADS_1


"Sudah, tidak usah dilanjutkan. Kamu duduk di sini, ada hal penting yang akan saya omongkan," ucap Rey dengan suara lantang.


Duh, jangan bilang dia mau memecatku gara-gara duduk di kursi itu.


__ADS_2