MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
ALVARO KEHILANGAN PEDRO


__ADS_3

Tatiana sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya jelas-jelas di penuhi Nikolas. Rasa perih di bagian wajah dan bahunya pun tidak di dirasakannya lagi.


Tatiana memikirkan bagaimana mana kondisi Nikolas tiap detiknya menghitung dentingan jarum jam di dinding, berharap pagi segera datang dan dokter memeriksa kondisinya untuk memastikan bahwa ia sudah melewati masa kritis atau belum, agar bisa melihat dan menjaga suaminya.


Namun Tatiana yakin ia tidak apa-apa. Tubuhnya baik tidak merasakan mual sama sekali atau pun pusing. Ia bisa berdiri dan berjalan walaupun tertatih-tatih.


Tatiana kembali menatap jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. "Kenapa daddy lama sekali di ruangan dokter. Apa kondisi Nikolas memburuk?", tanya Tatiana pada Alma yang menjaganya semalaman.


Bahkan Tatiana tahu wanita itu sama sepertinya tidak memejamkan matanya barang sejenak. Hubungan mereka selama ini juga tidak dekat seperti sekarang berada dalam satu ruangan hanya berdua saja. Sementara Dimitri di minta Alma untuk istirahat di kamar rawat inap yang sudah di sediakan Alvaro.


Tatiana membenci Alma yang merupakan sekertaris Dimitri kala itu. Belum lama Silviana ibunya wafat Dimitri memutuskan untuk menikahi Alma. Bak gayung bersambut Alma juga menerimanya.


Tatiana merasa tidak dianggap karena Dimitri tidak meminta izin kepadanya sama sekali ketika hendak menikah lagi. Tahu-tahu Dimitri memberi kabar sehari sebelum pernikahannya pada Tatiana. Itulah mengapa Tatiana sangat kecewa hingga memberontak sampai nekat meracuni makanan Alma. Yang membuat Alma harus dilarikan kerumah sakit kala itu.


Kenekatan Tatiana itu membuat Dimitri marah besar, saat itu juga ia mengirim putrinya ke asrama yang terletak di desa terpencil dan sulit di jangkau siapapun.


Tahun pertama di pengasingan, kemarahan dan kebencian Tatiana pada Dimitri dan Alma masih sangat besar. Beberapa kali Dimitri berkunjung, Tatiana tidak mau menemuinya. Sementara Alma sangat pengertian, ia tahu kemarahan Tatiana belum surut. Alma tak henti menunjukkan kasih sayangnya untuk mendekati Tatiana.


Seperti saat ini, Alma selalu menunjukkan kasih sayangnya untuk Tatiana layaknya putrinya sendiri.


Sekilas Tatiana menatap wajah wanita yang berusia empat puluh tahunan itu. Nampak jelas wajah lelahnya dan lingkaran hitam di bawah matanya.


"Alma..."


"Iya sayang, apa kau membutuhkan sesuatu?", jawab Alma menghampiri tempat tidur Tatiana. Dengan lembut ia mengusap punggung tangan Tatiana.


Tatiana menggelengkan kepalanya pelan, namun tangan kanannya menggenggam erat jemari tangan Alma dan membawa ke dadanya. "Terimakasih karena kau sudah menjaga ku", ucap Tatiana tulus.


Senyuman terlukis di wajah Alma, ia membawa satu tangannya lagi mendekap tangan kanan Tatiana. "Aku melakukan kewajiban ku, menjaga dan merawat mu sayang".


"Selama ini aku selalu membenci mu Alma, aku sama sekali tidak mau mengenal mu. Maafkan aku", ujar Tatiana dengan mata berkaca-kaca.


"Kau tidak salah sayang, aku mengerti perasaan mu. Kau membenciku karena kita tidak pernah saling mengenal sebelum pernikahan aku dan ayahmu. Tapi percayalah nak, aku benar-benar mencintai ayahmu dan juga dirimu".

__ADS_1


Jika seluruh hati mu milik nyonya Silviana, aku tidak akan mengambilnya. Aku hanya meminta mu menerimaku sedikit saja walau pun tempat nya tidak di hatimu. Kau bisa menempatkan kasih sayang ku dimana pun kau mau sayang", Ucap Alma yang membuat kristal bening Tatiana jatuh menyentuh wajahnya.


Tatiana memeluk erat tubuh Alma dan menangis menumpahkan perasaannya. "Maafkan aku selama ini mama, mata hatiku tertutup untuk semua kebaikan mu pada ku", isak Tatiana.


Alma mendengar jelas ucapan Tatiana padanya. "Mama...


Alma mengendurkan pelukannya dan membingkai wajah pucat Tatiana yang masih tampak lebam. "Sayang, bisakah kau mengulangi nya?".


"Mama. Mama Alma", ucap Tatiana kembali memeluk erat tubuh Alma.


Alma tidak bisa menutupi kebahagiaan nya. Ia tersenyum.


"Oh sayang, terima kasih nak", balas Alma terharu dan mengusap lembut rambut Tatiana.


Keduanya tampak tersenyum bahagia. Tanpa menyadari kehadiran Dimitri diantara mereka. "Apa masih lama kalian berpelukan seperti itu?".


Tatiana mengurai pelukannya. "Daddy...kenapa kau lama sekali. Apa terjadi sesuatu pada Nikolas?", tanya Tatiana penasaran.


"Tentu saja tidak terjadi apa-apa dengan suami mu sayang. Semuanya baik. Kau pun dinyatakan sudah melewati masa kritis mu. Sekarang bersiaplah kau bisa melihat suami mu".


"Nik, aku akan segera melihat mu", ucap Tatiana.


Sementara Dimitri dan Alma mengusap pundak putrinya itu.


*


Lethicia perlahan membuka matanya. Wanita itu mengeratkan pelukannya pada tubuh suaminya. Selalu saja saat tidur ia berada dalam dekapan Alvaro. Hal yang tak pernah berubah setelah pernikahan keduanya.


Alvaro dan Lethicia bermalam di rumah sakit tempat Assensio di rawat.


"Sayang, bagaimana tidur mu semalam?", tanya Alvaro mengecup pucuk kepala Lethicia.


"Aku tidur nyenyak Varo. Maafkan aku saat kau belum ke kamar aku sudah terlelap", jawab Lethicia.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kau harus banyak istirahat. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kandungan mu", jawab Alvaro mengusap lembut perut istrinya yang semakin membesar.


Memasuki usia kehamilan lima bulan Lethicia cepat sekali merasa lelah. Dan saat malam hari ia akan merasakan keram di perut bagian bawahnya.


Makannya Alvaro mengajak Lethicia tidur di rumah sakit agar Alvaro bisa dekat dan mengawasinya. Tentu saja kamar yang di tempati mereka adalah kamar yang sangat steril dan bukan kamar biasa. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menempatinya, mengingat biaya semalam saja setaraf presidential suite room.


Semalaman Alvaro dan Héctor berada di ruang tunggu di depan kamar Assensio. Sementara Audri sudah di antar pulang oleh Moreno ke apartemen nya.


"Varo, apa ada perubahan kondisi Assensio semalam?".


"Belum ada, masih sama seperti kemarin siang. Kita berdoa saja semoga hari ini Assensio menunjukkan kondisi membaik".


"Iya Varo, hanya doa yang tak henti aku panjatkan untuk Assensio dan Tatiana, terutama untuk Assensio semoga kondisinya membaik", jawab Lethicia


"Namun Tatiana semalam sudah sadar. Aku tidak tega melihatnya begitu trauma dan histeris. Tatiana menangis tak henti apalagi saat menceritakan pengorbanan paman Pedro".


"Paman Pedro lah yang telah menyelamatkan Nikolas dan Tatiana. Saat melihat mobil dengan kecepatan penuh hendak menghantam mobil mereka tepatnya di bagian Nikolas, paman cepat-cepat memundurkan mobil. Hingga yang menjadi korban sangat parah yaitu paman Pedro. Bahkan ia harus kehilangan nyawanya", ucap Alvaro dengan sedih. Ia mengingat semua kebaikan Pedro padanya.


Seumur hidupnya, Alvaro tidak akan pernah lupa bagaimana Pedro menjadi sosok penting dalam hidupnya, ketika ia masih kecil dan menjauh dari ayahnya dulu. Pedro lah yang selalu bersamanya dan menghiburnya.


Sesaat kemudian..


Ting... Terdengar notifikasi dari iPad Alvaro.


Alvaro mengambil iPad miliknya di nakas dan melihat email dari Hector.


Seketika Alvaro mendudukkan tubuhnya dengan kedua tangan terkepal.


Sementara kedua matanya menggelap dengan rahang mengeras menatap beberapa foto yang sudah di kirim kan Hector di email nya.


Lethicia menyadari perubahan suaminya. "Ada apa Varo?"..


...***...

__ADS_1


WALAUPUN BAB2 SEDIH, AUTHOR BERHARAP KALIAN TETAP SUKA YA DAN MENINGGALKAN JEJAK KALIAN 🙏


__ADS_2