
Selanjutnya suasana ruang makan tersebut menjadi hening. Pasangan suami-istri itu asyik menikmati bubur masing-masing. Selesai makan, Samuel memandangi istrinya yang masih menghabiskan makanannya. Ekspresi wajahnya tampak serius. Dia ingin membicarakan suatu hal yang sangat penting.
Setelah bubur Aileen habis, pria itu memberanikan diri untuk berkata, “Aku sudah berpikir masak-masak semalam. Tentang kehamilanmu, Aileen….”
Jantung sang istri berdegup kencang. Apa yang akan dibicarakan Sam, ya? pikirnya cemas. Aku takut….
“Aku setuju dengan pendapatmu kemarin bahwa…ehm…James perlu tahu tentang janin yang ada dalam rahimmu. Bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungnya. Tentang nasib anak itu ke depannya, kita nanti bisa membicarakannya bertiga.”
Hati Aileen bagaikan disiram air dingin mendengar ucapan suaminya barusan. Dia bahagia sekali. Rasanya beban di pundaknya berkurang separuh. Terima kasih, Tuhan, batin perempuan itu penuh rasa syukur. Engkau sungguh maha pengasih. Kini aku bisa memberitahu James tanpa merasa was-was.
“Kamu kan bilang kalau pacarmu itu masih ngambek. Susah sekali dihubungi,” kata Samuel lagi. “Mumpung aku sedang cuti hari ini, gimana kalau kamu kuantar menemui dia? Akan kujelaskan padanya bahwa selama tinggal berdua denganku di rumah ini, dirimu benar-benar tak pernah kusentuh. Jadi janin dalam kandunganmu itu adalah murni hasil buah cinta kalian berdua. Kalau dia masih juga tak percaya, bisa dilakukan tes DNA untuk membuktikan hal itu. Bagaimana?”
“James pasti percaya, Sam,” sergah Aileen yakin. “Dia tahu aku setia sekali padanya. Dia tahu….”
Samuel mengangguk. Dia setuju sekali istrinya ini wanita yang sangat setia. Papa nggak salah memilih Aileen menjadi istriku, cetusnya dalam hati. Sayang sekali waktunya terlambat. Hati Aileen sudah menjadi milik orang lain….
Hati pria itu terasa perih sekali. Benar-benar tak mudah baginya mendukung keinginan Aileen memberitahukan kehamilannya pada James. Namun hati kecilnya mengatakan bahwa itu adalah hal yang harus dilakukannya. James merupakan pasangan Aileen yang sesungguhnya. Bukan dia. Samuel Manasye, yang hanyalah berpura-pura menjadi suaminya!
“Te…terima kasih banyak atas pengertianmu, Sam. Ka…kamu benar-benar orang yang baik,” ucap sang istri terbata-bata. Sorot matanya menatap sang suami penuh rasa terima kasih.
Samuel tersenyum tulus. “Aku senang kita selalu bisa menyelesaikan masalah dengan baik, Leen. Sekarang kamu mandi saja dulu. Biar kubereskan meja makan sekaligu mencuci mangkuk-mangkuk kotor ini.”
“Biar aku saja yang melakukannya, Sam,” tolak istrinya halus. Ia merasa sungkan dilayani terus-terusan oleh sang suami.
__ADS_1
“Sudahlah,” kata pria itu lembut. “Aku senang melakukannya, kok. Biar cepat selesai. Kamu juga jadi bisa segera bertemu James, kan?”
Akhirnya Aileen mengalah. Dibiarkannya Samuel membereskan meja makan. Dia sendiri naik kembali ke lantai dua. Bersiap-siap untuk mandi keramas lalu berdandan secantik mungkin. Semuanya itu dilakukannya demi bertemu dengan sang kekasih tercinta. Ayah kandung dari janin yang telah tumbuh dalam rahimnya.
***
“Sekarang kan masih jam sebelas siang. James kok sudah nge-gym?” tanya Aileen keheranan.
Dia sedang berada di rumah makan milik paman James. Salah seorang karyawan di sana mengatakan kalau James tadi jam sepuluh pagi datang sebentar meninjau restoran tersebut. Namun tak lama kemudian pemuda itu pamit pergi ke pusat kebugaran yang juga terletak di dalam mal tersebut.
“Akhir-akhir ini Mas James memang suka begitu, Mbak,” jawab si karyawan lugas. “Jam sepuluh pagi begitu mal buka langsung ngecek restoran sebentar, terus lanjut ke gym. Nggak lama kok Mas James di sana. Paling lama jam dua belas siang udah balik ke sini lagi.”
“Sendirian?” tanya Aileen curiga.
“Yaaa…nggak mesti, Mbak. Kadang-kadang sendirian, kadang-kadang sama temennya….”
“Temen cewek atau cowok?” cecar perempuan di hadapannya.
“Nggak mesti juga. Kadang cewek, kadang cowok. Mas James kan banyak temennya, Mbak,” jawab karyawan tersebut asal-asalan.
Deg! Firasat Aileen mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan orang itu. Ingin sekali dia mencecarnya lagi. Saking sungkan terhadap Samuel yang sejak tadi berdiri di sampingnya. Suaminya itu tak bersuara sejak tadi. Tapi Aileen yakin sekali pria itu memperhatikan semua percakapannya dengan si karyawan.
“Terima kasih, Mas. Kalau begitu saya coba cari James di gym,” ujar wanita itu kemudian.
__ADS_1
Lawan bicaranya mengangguk. Dia tersenyum lebar. Hati Aileen semakin tak enak melihat senyum itu. Seakan-akan pemuda tersebut sedang mengejeknya.
Dengan hati galau ditinggalkannya restoran tempat kerja kekasihnya itu. Samuel yang sejak tadi diam saja mendesah pelan. Pria itu merasa kecewa. Sepertinya James telah menyia-nyiakan cinta suci kekasihnya ini. Dari cara karyawan rumah makan itu tersenyum lebar pada Aileen tadi, dia dapat menduga bahwa James telah menduakan cintanya.
“Sekarang kita pergi ke gym ya, Sam,” kata wanita itu mengajaknya.
Samuel mengangguk setuju. Dia menyahut, “Di lantai paling atas kan, gym-nya? Kamu jalan pelan-pelan aja ya, Leen. Nggak usah buru-buru. Ingat, kamu sedang berbadan dua sekarang.”
Aileen mendesah. Ingin sekali rasanya dia berlari secepat mungkin agar bisa segera bertemu dengan kekasihnya di pusat kebugaran. Tapi Samuel benar. Dia tidak boleh gegabah. Kandungannya masih muda. Harus dijaga baik-baik.
“Atau kamu mau naik lift aja, Leen? Biar nggak kecapekan,” kata pria itu menawari.
Sang istri menggeleng. Dia lebih suka naik eskalator. Karena pandangannya masih bisa diarahkan kesana-kemari untuk mencari-cari sosok James. Kalau tiba-tiba melihat pemuda itu dari kejauhan, dirinya masih bisa berteriak memanggil.
“Mal kan masih sepi, Sam,” kata Aileen spontan. “Nggak perlu naik lift. Kita jalan pelan-pelan aja menuju eskalator.”
Suaminya terpaksa setuju. Dia tak ingin berdebat dengan perempuan yang kelihatan jelas sedang gundah itu. Samuel ingat dokter kemarin berpesan agar istrinya tidak stres. Karena trimester pertama masa kehamilan itu rentan sekali.
Pasangan itu berjalan beriringan menuju eskalator. Saat berdiri di atas tangga berjalan tersebut terlihat jelas pandangan mata Aileen mengarah ke segenap penjuru mal. Sama sekali tak terlihat sosok orang yang dicarinya. Samuel diam saja memperhatikan tindak-tanduk istrinya itu. Rasa iba timbul dalam hatinya.
Setelah menaiki beberapa eskalator akhirnya sampailah mereka di lantai tempat pusat kebugaran itu berada. Setelah berjalan beberapa langkah, Aileen berkata, “Kita menunggu di sini saja, Sam. Nggak usah masuk ke dalam gym.”
Suaminya itu mengangguk. Mereka berdua berdiri di depan void lantai tertinggi mal itu. Kedua tangan Aileen bertumpu pada pinggiran void. Pandangan matanya fokus tertuju pada pintu depan pusat kebugaran yang terbuka lebar.
__ADS_1
Dua orang laki-laki tampak masuk melalui pintu itu. Pada bahu mereka tersampir tas olahraga. Aileen mendesah. Tubuhnya mulai terasa lelah. Tapi dia masih ingin menunggu kemunculan James. Mumpung Samuel bisa menemaninya sepanjang hari ini.