
Ernie menatap anaknya lekat-lekat. Hatinya masih diliputi keragu-raguan. Kuatir putrinya itu hanya bermaksud menyenangkan hatinya.
“Kenapa Mama menatap Aileen seperti itu?” tanya sang putri penasaran. “Apakah Mama nggak percaya sama kata-kata Aileen?”
Sang ibu mengangkat bahunya tanda tidak tahu. Aileen jadi gemas melihatnya. “Lalu gimana caranya agar Mama percaya bahwa aku sungguh-sungguh mencintai Sam?”
Ernie mendesah. Lalu dia berkata, “Mama sama Papa sudah berunding. Kami berdua sepakat jika kamu sudah tidak tahan menjadi istri Sam, sebaiknya perkawinan kalian tidak usah diteruskan lagi. Biarlah rumah Papa dan Mama dijual saja untuk melunasi hutang pada ayah Sam. Saham bengkel juga akan dijual sebagian pada beliau. Uangnya akan dipakai sebagai uang muka untuk membeli rumah kecil buat tempat tinggal kita bertiga selanjutnya. Sisanya akan dilunasi secara KPR….”
Dor! Kata-kata ibunya itu bagaikan peluru yang mengenai jantung Aileen. Ya Tuhan, keluh perempuan itu dalam hati. Kok bisa jadi begini? Di saat aku sudah membuka hati untuk suami pilihan Papa dan Mama, mereka malah mendukung untuk mengakhiri perkawinan kami. Bahkan mereka sudah berpikir dengan detil bagaimana cara melunasi hutang Papa pada ayah Sam!
“Mama,” ucap Aileen sungguh-sungguh. “Aku nggak mau bercerai dengan Sam. Dia suami yang baik. Mungkin selama ini aku agak kurang menghargai dia karena masih kesal dengan perjodohan kami. Tapi Sam sudah membuktikan bahwa dia layak diperlakukan lebih baik lagi olehku. Jadi untuk selanjutnya aku berjanji akan menjadi istri yang terbaik buat Sam. Mama percaya kan, aku mampu melakukannya?”
Sorot mata penuh ketulusan sang putri membuat Ernie merasa terharu. Dipeluknya Aileen erat-erat. Tumpahlah air mata perempuan itu lagi. Putrinya mengelus-elus punggung sang ibu penuh kasih sayang. Dalam hati dia berjanji akan menepati kata-katanya tadi. Yaitu menjadi istri yang terbaik buat Sam!
***
Malam harinya sebelum tidur, Aileen mencegah suaminya meletakkan guling sebagai pembatas di tengah-tengah mereka.
“Nggak usah dikasih pembatas lagi, Sam,” ucap perempuan itu lembut. Ditatapnya sang suami penuh cinta.
__ADS_1
Samuel malah bergidik menyaksikan sorot mata istrinya itu. Mati aku, keluh pria itu dalam hati. Sepertinya Aileen sudah mulai mendekatiku. Aku harus bagaimana sekarang? Masa kujelaskan terus terang kalau aku tak mampu membahagiakannya? Malu sekali rasanya menceritakan kelemahanku sebagai laki-laki!
Dan dia tersentak tatkala tangannya disentuh oleh istrinya. “Sam, terima kasih sudah menjadi suami yang baik selama ini. Aku benar-benar tersentuh dengan ketulusan hatimu. Maukah kamu memberiku kesempatan untuk menjadi istri yang baik bagimu?”
Tak terdengar jawaban dari Samuel. Suaminya itu malah menundukkan wajahnya dalam-dalam. Aileen mendesah. Hatinya merasa cemas. Takut kalau pernyataan cintanya ditolak mentah-mentah oleh sang suami.
Dengan mengandalkan keberanian terakhirnya, perempuan itu kemudian berkata, “Aku tahu sebenarnya tidak pantas bagiku untuk mengucapkan hal ini. Aku perempuan yang sudah ternoda. Bahkan sampai hamil benih laki-laki lain. Musibah janin kosong yang menimpaku mungkin adalah pertanda bahwa Tuhan tak merestui kehamilanku itu. Dan sekarang aku sudah move on, Sam. Masa lalu sudah kutinggalkan jauh-jauh. Selanjutnya aku berharap bisa mewujudkan kehidupan perkawinan yang sesungguhnya denganmu. Maukah kamu memberiku kesempatan, Sam?”
“Aku ini impoten, Leen,” aku sang suami pada akhirnya. Dia sudah tak sanggup menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Biarlah istrinya ini tahu sebelum dirinya berharap terlalu jauh. Apapun keputusan Aileen akan diterimanya dengan besar hati.
Aileen sendiri melongo mendengar pengakuan Samuel. Dia masih tak percaya pada pendengarannya. Oh, my God! jerit perempuan itu dalam hati. Apa aku nggak salah dengar? Sam impoten?
“Aku sama sekali nggak berpura-pura, Aileen!” tegas suaminya lagi. “Aku ini memang impoten. Karena itulah aku tak menolak dijodohkan papaku dengan gadis yang sama sekali tak kukenal, yaitu kamu. Karena itulah aku lalu mengatur skenario pernikahan kita. Semuanya demi memberi keturunan pada orang tuaku sebagai tanda baktiku sebagai seorang anak!”
“Sudah, sudah. Jangan lanjutkan kata-katamu, Sam,” sergah Aileen sembari menutup kedua telinganya. “Aku nggak mau dengar. Sama sekali!”
Selanjutnya wanita itu langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dibelakanginya Samuel yang sebenarnya masih ingin memberi penjelasan padanya. Tapi Aileen tak peduli lagi. Dia menutup matanya rapat-rapat, berusaha untuk tidur. Namun bukan rasa kantuk yang menghampiri perempuan itu, melainkan air mata yang keluar tanpa henti membasahi pipinya yang mulus.
Ya, Tuhan, jerit perempuan itu dalam hati. Kenapa cobaan tak henti-hentinya datang dalam kehidupanku? Satu masalah baru selesai, eh datang masalah lain. Setelah masalah lain itu usai, kembali muncul persoalan baru. Lalu bagaimana caranya aku bisa hidup dengan tenang, Tuhan?
__ADS_1
Demikianlah pertanyaan demi pertanyaan mengusik pikiran perempuan itu. Ingin sekali rasanya dia berteriak sekeras-kerasnya untuk melampiaskan kegundahan hatinya. Sayang sekali hal itu tak dapat dilakukan Aileen. Karena kedua orang tuanya akan mendengar dan menaruh curiga apa yang sebenarnya menimpa putri kesayangan mereka.
Aku nggak mau bercerai, putus Aileen dalam hati. Mata hatiku sudah terbuka. Samuel Manasye adalah seorang pria yang sangat layak untuk dipertahankan. Dia orang yang rendah hati, cerdas, dan sangat menghargai wanita. Dimana lagi aku bisa mendapatkan pasangan hidup sebaik dia?
Sementara Aileen sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri, suaminya pun tak kalah kalut. Dia berbaring di ranjang membelakangi istrinya itu. Aku sudah mengambil risiko yang sangat besar dengan mengaku pada Aileen, batinnya pasrah. Dia bisa menggugat cerai dan menghancurkan kesempatanku untuk membahagiakan Papa dan Mama. Ya sudahlah, kalau memang harus demikian. Berarti itulah kehendak Tuhan setelah berbagai upaya yang kulakukan untuk menolerir semua keadaan yang terjadi padaku.
Demikianlah pasangan suami-istri itu tidur saling memunggungi dan tak berbalik lagi hingga keesokan harinya. Aileen bangun kesiangan. Suaminya sudah berangkat ke kantor ketika dirinya keluar dari dalam kamar untuk makan pagi.
“Sam tadi terburu-buru pergi ke kantor, Leen,” kata Ernie memberitahu. “Jadi dia cuma makan sepotong sandwich buat sarapan. Oya, Mbak Tina tadi nelepon Mama. Katanya nanti siang mau datang kemari untuk menjengukmu. Dia bilang kemarin-kemarin nggak datang karena takut mengganggu istirahatmu. Sekarang kan sudah lewat beberapa hari sejak kamu dikuret. Dia merasa sudah waktunya datang untuk melihat keadaanmu.”
Aileen mengangguk pelan. Tubuhnya sudah semakin sehat akibat banyak beristirahat dan mengkonsumsi makanan sehat buatan Ernie. Dia sudah siap menghadapi Tina, ibu mertuanya yang perfeksionis.
***
“Aileen, kamu kelihatannya sudah sehat. Mama datang pada saat yang tepat rupanya,” ucap Tina ceria begitu melihat menantunya baik-baik saja. “Ini Mama bawakan tim burung dara yang diberi ramuan untuk booster staminamu. Ini merupakan resep turun-temurun dari keluarga Manasye. Mama sendiri lho, yang masak. Dulu diajari oleh mendiang nenek, ibu kandung papanya Sam.”
“Terima kasih, Ma,” sahut sang menantu sambil tersenyum sopan. Diterimanya panci berukuran sedang yang terbuat dari keramik dari tangan ibu mertuanya itu.
Diletakkannya panci tersebut di atas meja makan. Dengan wajah berseri-seri Tina berkata, “Dimakan sekarang aja, Leen. Mumpung masih hangat. Supaya kamu bisa segera merasakan khasiatnya.”
__ADS_1
Anak menantunya itu mengangguk. Dibukanya tutup panci tersebut. Bau harum masakan berkuah tersebut membuat selera makannya terbit.