MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
Bab 4


__ADS_3

Rey terpaksa mengatakan masalah pertunangan itu, karena tidak tahu meminta bantuan kepada siapa kecuali Nara. Sudah dua bulan terakhir ini kekasihnya pergi keluar negeri untuk bekerja dan akhir-akhir ini Rey curiga bahwa kekasihnya mendua. Sementara, keluarga Rey meminta calon tunangannya segera dibawa pas acara besar keluarga seminggu yang akan datang.


"Nara, kamu bisa kan membantuku. Ini antara hidup dan matiku ...," lirih Rey sambil memegang kepala.


"Dari kemarin minta bantuan, tapi bantuan apa juga gak ngerti. Dasar gak jelas," cetusnya.


"Heh, saya serius kali ini. Kamu jangan bercanda terus, dan jangan meledekku. Kamu mau kan utang itu lunas?" tanya Rey.


"Ya mau dong, kalau bisa hari ini lunas semuanya. Capek dikejar kolektor terus-terusan ...," rintihnya.


"Kalau gitu hari ini juga saya kasih cash ke kamu," ucap Rey. "Dengan syarat ..."


"Syarat apa itu?" tanya Nara penasaran.


"Kamu harus berpura-pura menjadi calon tunanganku," jawab Rey sambil menatap tajam mata Nara.


"Hah? Calon tunangan? Anda sudah gila? Ya gak mungkinlah, saya sedang dekat dengan seseorang," tutur Nara dengan wajah cemberut.


"Ini hanya sementara, jadi kamu tidak bisa membantu saya? Oke, uangnya tidak jadi saya berikan ke kamu. Saya mau pergi kalau begitu!!" ucap Rey sambil menghentakan meja.


Nara begitu heran melihat tingkah Rey yang agak aneh hari ini. Ia masih mencermati kalimat yang diucapkannya oleh Rey barusan.


"Dia nyuruh aku pura-pura jadi calon tunangannya, untuk apa coba? Aneh tau gak, emang tu cowok kayaknya stres," ucap Nara sambil berjalan keluar ruangan itu.


Nara berjalan menuju ruangan kerjanya, ia masih sibuk mencerna apa yang dikatakan Rey. Tiba-tiba ada seorang pria tak sengaja menabrak hingga Nara terjatuh, ternyata pria itu adalah Abim, mantan Nara sewaktu ia masih sekolah dulu. Abim mengulurkan tangan untuk membantu Nara berdiri.


Dia Abim kan? Ngapain di sini ...


"Kamu Nara alias Zea, kan?" tanya Abim.


"Menurut kamu? Lain kali jalan lihat-lihat," jawab Nara lalu pergi meninggalkan pria itu.


Abim mengejar Nara, ia ingin mengatakan sesuatu kepada gadis yang pernah mengisi hatinya dulu. Tapi, Nara tetap tak mempedulikan pria itu. Abim terus memaksa Nara untuk berbicara dengannya.

__ADS_1


"Nara, aku cuma ingin ngobrol sebentar sama kamu ...," lirih Abim. "Segitu bencinya kamu sama aku, Nara ..."


"Mau bicara apa?" tanya Nara dengan wajah kesal. "Kayaknya gak ada yang perlu kita bicarakan."


"Aku minta maaf soal hubungan kita dulu, aku terlalu egois," ucap Abim.


"Sudahlah lupakan, aku juga gak ingin mengingat hal yang menyakitkan," balas Nara.


Tanpa sengaja Rey yang sedang berjalan menuju ruangannya mendengar percakapan Nara dan Abim. Mereka tampak berdebat soal masa lalunya.


"Jadi gimana? Apa kamu mau maafkan aku?" tanya Abim. "Dan kita ulang dari awal."


"Sudah gila kamu ya, aku udah maafin kamu. Kalau soal balikan, mohon maaf aku gak bisa, permisi," tutur Nara lalu kembali melanjutkan langkah kaki menuju ruangan kerjanya.


Nara melewati Rey, mereka berpapasan saat itu. Rey sejenak menghentikan langkah kakinya. Ia melihat tingkah Nara yang begitu lucu hingga membuat Rey tertawa. Rey mengamati dengan seksama sikap kocaknya, Nara memarahi Rey yang menatap seakan ingin menerkam gadis kecil itu.


"Apa lihat-lihat!!" ucap Nara dengan kesal.


"Dasar!!" teriak Nara sambil melajukan langkah kaki.


Begitu sampai di ruang kerjanya, Nara mengambil segelas air minum. Ia menghela nafas lalu duduk di bangku kerjanya. Ia mengerjakan tugas sambil memikirkan jawaban dari pertanyaan yang menyebalkan itu.


Walaupun itu cuma berpura-pura, sama aja bikin kesel. Yang jelas, cowok itu bukanlah tipeku mana mungkin aku bisa menyetujuinya. Tapi disatu sisi, aku juga butuh uang. Aku harus gimana sekarang?


Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, Nara segera membereskan meja kerjanya, karena sudah jam pulang. Nara pun berjalan ke parkiran untuk mengambil sepeda motornya. Ia baru teringat, bahwa ia diantar oleh pria yang mendadak menyuruh Nara menjadi calon tunangannya itu. Ia pun berjalan menuju pos security untuk mencari angkot, tapi sayangnya tak ada satu pun yang lewat.


"Gimana caranya ini, angkot gak ada yang lewat ...," lirih Nara. "Gara-gara si cowok setengah waras itu, aku jadi susah begini."


Tiba-tiba Rey menghampiri gadis itu. Ia memberikan Nara minuman yougurt untuk yang kedua kalinya. Nara tampak heran dengan sikap aneh Rey hari ini.


Aneh kali dia, bukannya dia gak suka minum yougurt. Sekarang juga meminumnya. Memang dia sudah tidak waras lagi kayaknya. Sebaiknya aku pergi dari sini.


Nara beranjak dari pos security itu, wajahnya ketakutan. Saat baru melangkah, tangannya ditarik oleh Rey. Sehingga hampir saja tubuhnya terjatuh kepelukan Rey.

__ADS_1


"Kamu mau kemana? Bukannya saya yang mengantarkan kamu ke kantor tadi pagi? Saya akan bertanggung jawab mengantarkan kamu balik ke rumah," ucap Rey. "Buruan ikut ke parkiran sekarang!!"


Nara pun terpaksa mengikuti walaupun sebenarnya ia takut untuk dekat-dekat dengan Rey. Begitu sampai di parkiran, Rey membuka jasnya, lalu melemparkan ke wajah gadis itu. Selanjutnya giliran kemejanya yang akan ia buka, Nara semakin takut sampai ia memicingkan mata.


Mau ngapain sih dia, malah di sini cuma berdua lagi.


"Stop ... Rey, stop!!!" teriak Nara ketakutan.


"Kamu kenapa?" tanya Rey heran.


"Kamu jangan mesum, awas kamu berani macam-macam. Saya hajar kamu," jawab Nara sambil mengepalkan tangan ke wajah Rey.


"Kamu kali yang mesum, coba kamu lihat saya emangnya ngapain? Dasar gadis tengil," ucap Rey kesal.


Nara membuka matanya, ternyata di dalam kemejanya ada kaos hitam yang ia kenakan. Nara begitu malu saat memarahinya tadi. Rey tersenyum tipis melihat tingkah Nara yang membuatnya ingin tertawa keras, tapi ia menahannya dihadapan Nara.


"Kenapa kamu ketakutan gitu tadi, ha?" tanya Rey penasaran.


"Tentu, soalnya anda kan cowok, saya cewek. Wajar saya takut, saya kira anda mesum," jawabnya dengan polos.


"Hahaha, gila kamu. Saya tidak seperti itu dengan cewek, kamu itu yang mesum pikirannya ...," tutur Rey mengejek Nara.


Raut wajah Nara memerah, ia sangat malu dengan perkataannya tadi. Begitu sampai di depan rumah Nara, ia segera membuka pintu mobil. Rey menahannya agar tak turun terlebih dahulu.


"Nara, saya harap kamu bisa menolong saya. Jika tidak perusahaan itu akan jatuh ke Adik saya," ucap Rey dengan wajah sedih.


Baru kali ini ngelihat cowok cuek kayak dia bisa sedih juga.


"Nanti saya pikirkan lagi," balas Nara. "Saya pamit dulu, ya. Kapan-kapan anda singgahlah ke gubuk kami."


"Baik, kapan saya tidak sibuk saya akan mampir ke rumah kamu," jawab Rey.


Nara pun turun dari mobil itu, kemudian berjalan ke arah rumahnya dan berjalan menuju kamar sambil memikirkan jawaban yang sangat sulit untuk diungkapkan.

__ADS_1


__ADS_2