
Ah, sudahlah, pikir Aileen tak peduli. Cuek aja kalau aku nanti melewati restoran James. Nggak usah noleh kanan-kiri. Jalan santai aja. Pandangan lurus ke depan. Kayak pake kacamata kuda!
Demikianlah perempuan itu menguatkan batinnya untuk melewati tempat kerja pemuda yang pernah mengisi relung hatinya yang terdalam. "Let's go!" tegasnya pada dirinya sendiri.
Sesampainya di ujung eskalator, dia lalu melangkah dengan mantap dan penuh rasa percaya diri. Dilewatinya koridor mal yang kanan-kirinya terdapat restoran-restoran yang menjual berbagai menu masakan kelas menengah keatas. Pengunjung tidak terlalu ramai karena waktu itu sudah lewat jam makan siang.
Tiba-tiba pandangan Aileen terarah pada sebuah restoran di sebelah kiri depan yang dikerumuni beberapa orang laki-laki berbadan tegap. Pakaian yang dikenakan orang-orang itu biasa saja. Tapi sikap mereka yang sangat serius begitu menarik perhatian.
Seketika itu juga perasaan Aileen menjadi tidak enak. Dia menyadari bahwa restoran tersebut adalah tempat James bekerja.
Ada apa, ya? batinnya penuh tanda tanya. Kenapa ada banyak orang berdiri di depan resto itu? Padahal kalau mau makan kan tinggal masuk aja ke dalam. Masih banyak meja yang kosong, kok.
Semakin dekat dengan restoran itu, hati Aileen semakin was-was. Tiba-tiba dia terbelalak. Seorang pemuda yang wajahnya tertunduk lesu digelandang keluar dari resto dengan kedua tangan dalam keadaan terborgol. Pemuda itu James!
Ya Tuhan, jerit Aileen dalam hati. Apa yang terjadi? Kenapa James ditangkap polisi?!
Di belakang James terlihat Yashinta tengah diborgol juga tangannya. Rambut panjang perempuan itu menutupi wajahnya yang tertunduk dalam-dalam. Hati Aileen menjadi iba melihat kedua orang itu mengalami hal memalukan seperti ini di depan umum.
Rombongan pihak yang berwajib itu menggiring pasangan kekasih tersebut laiknya penjahat-penjahat kelas kakap. Ketika mereka berjalan ke arah Aileen dan akan melewatinya, tanpa sadar mantan kekasih James itu menyapa, "James, ada apa ini?"
Pemuda itu sontak mengangkat wajahnya. Alangkah terkejutnya dia melihat orang yang berdiri di hadapannya.
"Aileen...," desisnya pelan.
Senyuman getir tersungging dari sudut bibirnya. Terlihat jelas pemuda itu merasa malu kepergok ditangkap polisi.
__ADS_1
Petugas-petugas yang bersamanya menggiring James terus berjalan. Yashinta yang berada di belakangnya sempat menengadahkan wajahnya untuk melihat siapa yang barusan menyapa kekasihnya. Begitu tahu orang itu adalah Aileen, perempuan itu langsung menundukkan wajahnya kembali. Rasa malunya sudah tak tertahankan.
Sementara Aileen sendiri tampak terpaku memperhatikan rombongan tersebut terus berjalan meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki menyapanya.
"Mbak Aileen, kebetulan sekali lewat sini. Lagi jalan-jalan?"
Yang disapa menoleh. Tampak olehnya seorang pemuda yang merupakan pegawai lama restoran milik paman James. Perempuan itu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Dia lalu bertanya apa yang telah terjadi.
"Oh, itu polisi sama petugas BNN, Mbak," jawab pegawai James itu jujur.
Aileen tersentak. "Hah?! BNN? Memangnya James pake narkoba?" tanyanya tak percaya. Meskipun mantan pacarnya itu mata keranjang, tak pernah sekalipun dia memergoki pemuda itu mengkonsumsi benda terlarang.
Lawan bicaranya mengangkat bahu tanda tidak tahu. "Selama ini sih, nggak pernah kelihatan gelagat Mas James makai narkoba, Mbak," aku pegawai tersebut. "Mukanya fresh terus. Dan Mbak Aileen tahu sendiri kan, dia selalu menjaga penampilan."
"Betul, Mbak," potong si pegawai mengiyakan. "Tadi orang-orang itu tiba-tiba datang dan memeriksa restoran. Katanya ada yang melaporkan bahwa telah terjadi transaksi jual-beli narkoba di sini. Semua orang diperiksa, termasuk saya. Barang-barang yang ada di resto juga. Terus di dalam tas olahraga Mas James ditemukan sebungkus kecil bubuk berwarna putih. Diduga itu adalah heroin...."
Aileen melotot mendengar penjelasan pemuda itu. Mulutnya ternganga lebar. Dia shock sekali. Sampai tak sanggup berkata-kata.
"Mbak...Mbak Aileen. Mbak nggak apa-apa?" tanya pegawai tersebut prihatin. "Masuk dulu Mbak, ke resto. Minum apa gitu biar tenang."
Aileen menolak halus. Dia lalu berpamitan. Alasannya masih ada hal penting yang harus diurusnya. Dengan tergesa-gesa dia melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.
Ya ampun, James! batin perempuan itu sedih. Kenapa kamu sekarang mengkonsumsi narkoba?!
***
__ADS_1
Akibat peristiwa penangkapan James tadi siang, Aileen jadi kelihatan murung sepanjang hari itu. Samuel yang sepulang dari kantor memergoki istrinya sering melamun jadi bertanya-tanya dalam hati.
Ada apa sama Aileen, ya? tanya pria itu dalam hati. Sejak tadi muram terus mukanya. Ada masalah apa lagi? Apa dia frustasi karena belum juga menemukan cara yang jitu untuk membuat kejantananku bangkit kembali?
Pemikiran itu jadi membuat Samuel ikut-ikutan murung. Perasaannya jadi tertekan. Dia merasa bersalah karena kemampuannya terbatas sekali dalam memberi nafkah batin pada perempuan yang dicintainya.
Malam itu kemudian dilewatkan pasangan tersebut dengan tidur di atas ranjang yang sama namun saling membelakangi punggung masing-masing. Aileen larut dalam keprihatinan karena ditangkapnya James akibat kepemilikan narkoba.
Dia sebenarnya sudah tak mencintai lelaki itu. Hanya merasa kasihan mengingat mantan kekasihnya itu sudah susah payah merantau dan bekerja keras di kota ini hingga akhirnya dipercaya mengelola restoran milik pamannya.
Om-nya James pasti sangat kecewa dengan kejadian ini, batin perempuan itu iba. Entah dia mau menolong keponakannya atau tidak. Tapi masa sih, James makai narkoba? pikirnya tak percaya. Senakal-nakalnya dia, nggak pernah kelihatan gelagatnya mengkonsumsi barang haram itu!
Sementara itu, pikiran dan perasaan Samuel sibuk berkecamuk sendiri. Aku harus gimana lagi, ya, supaya nggak mengecewakan Aileen? Baru saja aku berhasil mendapatkan cintanya. Perkawinan kami sekarang lagi bahagia-bahagianya. Tapi ternyata masalah kejantananku masih dipersoalkan oleh Aileen. Haizzz.... Apakah rumah tangga kami bisa langgeng kalau begini terus?
***
Beberapa hari kemudian Aileen kembali berkunjung ke klinik psikiater. Dia berkata telah mengikuti saran dokter jiwa tersebut untuk sesekali meluangkan waktu demi kebahagiaan batinnya sendiri.
"Saya mampir ke kafe kue favorit saya di mal. Makan berbagai jenis cake yang saya suka. Terus minum coklat panas. Hmm..., langsung fresh rasanya otak dan badan ini, Dok. Terima kasih atas anjurannya agar saya rutin melakukan waktu untuk me-time," tutur perempuan itu ceria.
Si dokter manggut-manggut sambil tersenyum bijak. Hatinya senang melihat pasiennya datang kembali dengan kondisi yang jauh lebih baik.
Aileen lalu bercerita tentang pertemuannya secara kebetulan dengan James dan Yashinta di mal. Raut wajahnya tampak prihatin saat mengutarakan bahwa pasangan itu digerebek pihak yang berwajib akibat dugaan kepemilikan narkoba. Juga ekspresi malu kedua orang itu saat mengetahui Aileen berada di sana dan menyaksikan penangkapan itu.
"Terus terang saya tidak percaya James melakukannya, Dok," ujar Aileen serius. "Senakal-nakalnya dia, nggak pernah terlihat gelagatnya memakai narkoba. Hati saya sampai bertanya-tanya apa mungkin barang itu milik Yashinta, ya? Entahlah, Dok. Kasus mereka sekarang sedang ditangani oleh pihak yang berwajib. Saya ingin membantu James, tapi tidak tahu bagaimana caranya."
__ADS_1