MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
Pertanyaan Harris


__ADS_3

Akhirnya Aileen menjalani operasi penguretan kandungannya. Samuel dengan setia menemaninya di dalam ruang operasi selama masih menunggu kedatangan dokter. Begitu orang yang dinanti-nantikan itu tiba, suami siaga tersebut dengan berat hati meninggalkan istri tercintanya dan duduk menunggu di luar.


Dalam hati Samuel berdoa agar tindakan kuretase itu berjalan dengan lancar. Dirinya berserah pada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia percaya Aileen akan segera pulih dan bisa menjalani hidup dengan baik kembali.


Orang tuanya dimintanya untuk tidak datang ke rumah sakit. “Menurut dokter, tindakan kuretase ini risikonya kecil sekali. Aileen bisa langsung pulang ke rumah dua jam setelah tindakan selesai,” kilahnya pada Tina yang bersikeras menemani anak dan menantunya di rumah sakit.


Aileen pun mengatakan hal yang sama pada Ernie. Ibunya itu bisa mengerti. Namun dia meminta agar sepulang dari rumah sakit, Aileen tinggal di rumahnya untuk sementara waktu.


“Kamu harus banyak beristirahat dan mengkonsumsi makanan sehat setelah dikuret, Nak,” ujar Ernie penuh perhatian. “Supaya kondisi kesehatanmu cepat pulih dan rahimmu sehat kembali.”


Aileen sebenarnya mau saja memenuhi permintaan ibunya tersebut. Tapi dia merasa tak enak hati kalau mengambil keputusan tanpa berunding terlebih dahulu dengan suaminya. Bagaimanapun Samuel telah memperlakukannya dengan baik selama ini. Meminta izin suaminya itu  terlebih dahulu merupakan bentuk penghormatan dan rasa terima kasih Aileen kepadanya.


“Nggak apa-apa,” jawab Samuel lembut. “Tinggal saja di rumah orang tuamu sampai kesehatanmu pulih. Aku akan menjengukmu setiap hari.”


“Atau…,” kata Aileen memberanikan diri. “Barangkali kamu mau sekalian ikut menginap di sana, Sam? Nggak lama, kok. Paling cuma satu minggu. Daripada tinggal di rumah  ini sendirian.”


Suaminya itu terkejut. Aileen ingin ditemani tinggal di rumah orang tuanya? Tapi itu berarti kan, mereka harus tinggal dalam satu kamar!


Ditatapnya istrinya itu lekat-lekat. Perempuan itu sampai tersipu malu. Wajahnya menunduk. Hati Samuel menjadi segar bagaikan disiram air dingin. Dia merasa tersanjung dengan permintaan Aileen itu. Tapi lagi-lagi rasa rendah diri mengusik sanubari pria itu.


“Leen…,” ucapnya kemudian. “Aku sih, nggak keberatan menemanimu tinggal di rumah orang tuamu. Tapi itu berarti kan kita harus tidur sekamar. Kamu nggak apa-apakah?”


Seketika sang istri menengadahkan wajahnya. Senyuman yang teramat manis mengembang dari parasnya yang ayu. Membuat hati suaminya bergetar tiada tara.

__ADS_1


“Aku nggak masalah, Sam. Sungguh.”


Jawaban penuh makna sang istri membuat hati Samuel bersukacita sekaligus cemas. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan selanjutnya? jerit pria itu dalam hati. Menghadapi Aileen yang jatuh cinta padaku rasanya jauh lebih sulit daripada dia waktu masih acuh tak acuh!


***


Setelah tindakan kuretase dinyatakan berjalan lancar dan Aileen melewati masa observasi tanpa kendala selama dua jam, Samuel membawanya pulang ke rumah Harris dan Ernie. Di dalam mobil telah siap dua buah koper yang berisi keperluan-keperluan pribadi pasang suami-istri selama satu minggu ke depan.


Sesampainya di tempat tinggal sang mertua, Samuel dengan hati-hati membimbing istrinya masuk ke dalam rumah. Harris dan Ernie menyambut kedatangan mereka dengan perasaan haru.


“Kamu baik-baik saja, Leen?” tanya ibunya itu kepada Aileen. “Masih terasa sakitkah?”


Putri semata wayangnya tersebut menggeleng pelan. “Nggak kerasa apa-apa kok, Ma,” ucapnya lirih. “Kan Aileen dibius tadi. Nanti habis makan malam disuruh minum obat pereda rasa sakit juga.”


Raut wajah Ernie tampak lega. Dia bersyukur sekali tindakan kuretase pada putrinya ini tampaknya tidak menimbulkan efek negatif. Diantarkannya buah hatinya itu menuju ke kamar tidurnya dulu.  Adapun Samuel keluar rumah kembali untuk mengeluarkan koper-koper dari dalam mobilnya.


“Nggak usah, Pa,” tolak Samuel halus. “Cuma narik aja ini. Nggak berat, kok. Kan sudah ada rodanya di bawah. Hehehe….”


Sang ayah mertua meringis saja. Akhirnya dibiarkannya saja menantunya itu mengurus dua buah koper tersebut. Setelah memasukkan dua benda itu ke dalam kamar tidur yang akan ditempatinya bersama Aileen, Samuel bergegas menuju ke wastafel untuk mencuci tangan.


Selanjutnya pria muda itu diajak duduk di sofa ruang keluarga oleh Harris. Ayah kandung Aileen itu mengajaknya bercakap-cakap.


“Kondisi Aileen kelihatannya baik-baik saja, Sam,” kata pria setengah baya itu memulai percakapan. Ekspresi wajahnya tampak serius. Terlihat sekali dia sebenarnya menguatirkan keadaan putri tunggalnya.

__ADS_1


“Kata dokter sih, begitu, Pa,” jawab sang menantu sopan. “Tindakan kuretasenya tadi berjalan lancar. Setelah menjalani masa observasi dua jam, kelihatannya tidak ada komplikasi apapun. Tapi satu minggu lagi Aileen harus kontrol ke dokter untuk dipantau  perkembangannya.”


Harris manggut-manggut mendengarkan penjelasan suami anaknya itu. Dia terdiam selama beberapa saat. Samuel tak berani mengusik ayah mertuanya itu. Dia sendiri sudah merasa agak lelah.


Tiba-tiba terdengar Harris berkata, “Sam, kalian kan baru menikah sekitar empat bulan. Kemudian terjadi peristiwa yang memprihatinkan ini. Hati kecil Papa merasa bersalah.…”


Sang menantu terperangah. Apa maksud kata-kata papa Aileen ini? batin pria itu penuh tanda tanya. Kenapa dia merasa bersalah dengan kejadian janin kosong yang dikandung anaknya?


Terdengar helaan napas panjang ayah mertuanya itu. Lalu kata-katanya yang menyusul kemudian, “Papa merasa…seandainya perjodohan diantara kamu dan Aileen tidak terjadi, kalian tidak akan menderita seperti ini. Ah, kadangkala orang tua dapat bertindak egois dengan dalih melakukannya demi kebahagiaan anak-anaknya. Maafkan Papa, Sam. Sudah membuatmu mengalami masalah seserius ini. Papa juga akan meminta maaf pada Aileen. Benar-benar Papa sudah membuatnya susah….”


Mata Harris tampak berkaca-kaca. Terlihat sekali rasa penyesalan dari tatapannya yang sendu. Hati Samuel berdesir.


“Sudahlah, Pa. Tak ada yang perlu dimaafkan. Kejadian ini adalah musibah. Kata dokter biasa terjadi pada pasangan yang baru menikah dan mengalami kehamilan pertama. Biasanya kehamilan berikutnya akan baik-baik saja, kok,” hibur Samuel tulus.


Ekspresi wajahnya tampak tenang. Membuat hati ayah mertuanya tersentuh.


“Nak Sam, ada sesuatu yang ingin Papa tanyakan. Tolong dijawab dengan jujur. Karena ini penting sekali buat Papa dan…ehm…masa depan perkawinanmu dengan Aileen.”


Dahi Samuel berkerut. Kenapa perkawinanku dibawa-bawa? batinnya penasaran. Semuanya toh sudah telanjur terjadi. Buat apa diungkit-ungkit lagi?


“Apakah Nak Sam bahagia menjalani kehidupan rumah tangga dengan Aileen? Seandainya tidak, Papa tidak masalah jika perkawinan kalian diakhiri secepatnya….”


Samuel terbelalak. Tak diduganya kata-kata itu akan keluar dari mulut ayah mertuanya ini. Mengakhiri perkawinan dengan Aileen? Bercerai dengannya? Wow!

__ADS_1


“Jangan kuatir, Nak Sam,” kata Harris lagi. “Papa bisa menerima apapun keputusan Nak Sam. Dua-tiga hari dari sekarang Papa juga akan menanyakannya langsung pada Aileen. Sekaligus meminta maaf padanya. Kalau sekarang rasanya kurang tepat waktunya. Kondisi anak Papa belum pulih.”


Mulut Samuel masih tertutup rapat. Dia tak tahu harus berkata apa.


__ADS_2