
Alvaro memikirkan apa yang diucapkan Assensio barusan. "Ide mu sangat beresiko. Lebih baik jangan kau lakukan. Karena kemungkinan terjadinya kegagalan sangat besar Assensio. Kau bisa terluka untuk yang kedua kalinya. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi", tegas Alvaro menatap Assensio.
"Semuanya memang ada resikonya. Tapi aku sanggup menghadapi resiko itu? Aku ingin mengingat semuanya kak. Aku mengutuk perbuatan jahat Leonardo pada ku jika ialah dalangnya".
"Aku tahu. Kau harus bersabar dan teruslah ikuti terapi untuk pemulihan mu. Jangan pernah lagi berpikiran seperti tadi, untuk menjadikan diri mu umpan. Jika terjadi apa-apa lagi pada mu tentu saja akan melukai orang-orang yang menyayangi mu. terutama istri mu Tatiana", ujar Alvaro.
Nikolas memijat keningnya. Apa yang di ucapkan kakak nya memang benar. Tentu saja Nikolas tidak mau membuat istrinya Tatiana dan yang lainnya bersedih. "Iya kak", jawab Nikolas.
*
Ceklek..
Alvaro membuka handle pintu kamar, melangkahkan kakinya. Tak terasa ia dan adiknya berbincang lama. Tanpa di sadari sudah pukul dua belas malam.
Bahkan Alvaro melupakan Lethicia yang biasanya selalu menginginkan dekapannya saat ingin tertidur jika tidak Lethicia sulit sekali untuk memejamkan matanya karena kondisi perut yang semakin membesar membuatnya sering kali mengalami keram.
Lethicia sudah terlelap tidur. Alvaro tersenyum melihat istrinya terlihat begitu damai dalam lelap. Alvaro menarik selimut tebal menutupi tubuh Lethicia yang hanya menggunakan lingerie tipis berwarna merah sebatas pahanya saja.
Alvaro belum merasakan kantuknya sama sekali. Ia mengambil rokok dan pemantiknya yang ada di nakas melangkahkan kakinya ke balkon.
Alvaro menatap ke langit gelap yang di cahayai oleh ribuan bintang berkelap-kelip. "Aku senang akhirnya keluargaku bersama lagi", Ucap Alvaro sambil menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya.
Perasaan Alvaro bahagia dengan kedatangan Assensio, namun ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Ia memikirkan siapa dalang di balik kekacauan ini. Menyebabkan keluarganya hampir berada di bawah titik nadir. Alvaro penuh kebencian pada ayahnya. Montana sakit parah dan Assensio mengalami amnesia. Begitu runutan kejadian yang harus mereka hadapi.
Beruntung, di detik terakhir sang penjahat tersenyum menyambut kemenangannya, harus mengubur impiannya. Alvaro datang dan merubah situasi kondisi keluarga Montana.
"Aku yakin semuanya saling berkaitan. Ada seseorang yang ingin mengambil keuntungan dari kemarahan ku selama ini pada papa. Ada orang yang senang dengan kondisi papa yang sedang sakit. Dan ada orang yang sengaja ingin melenyapkan Assensio", Alvaro kembali menghembuskan asap rokoknya. Entah sudah berapa banyak ia menghisap rokok malam ini.
__ADS_1
"Ada apa Varo, kenapa kau sampai menghabiskan rokok sebanyak itu? Apa ada yang mengganggu pikiran mu?".
Lethicia berdiri bersandar di pintu kaca tepat di belakang Alvaro.
"Sayang...kenapa kau bangun", ucap Alvaro menolehkan kepalanya dan dengan cepat ia mematikan rokoknya.
Alvaro mengibaskan tangannya supaya asap segera menghilang. "Aku sedang merokok, ini tidak baik untuk mu, Lethi. Kau tidak boleh menghisap asap ini".
"Aku tanya, kenapa kau merokok seperti itu. Aku tahu kau bukan seorang perokok Varo. Kau akan merokok bila sedang banyak pikiran. Jadi apa yang mengganggu pikirkan mu sehingga kau merokok sebanyak itu", tanya Lethicia dengan tatapan tajam dan penuh selidik menatap wajah suaminya.
"Sebaiknya kita bicara di dalam, tidak baik kau berada luar. Di sini udaranya dingin tidak baik untuk mu".
"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan, Varo. Aku tidak suka jika kau menutupi sesuatu dari ku", ketus Lethicia membalikkan badannya meninggalkan Alvaro seorang diri di balkon yang menatap punggung putih mulus Lethicia. Ia tersenyum melihat istrinya kesal seperti itu padanya, Lethicia pasti tetap akan terus meminta penjelasan jika Alvaro tidak menjawab semua pertanyaan tadi.
"Alvaro mulai menghitung, Satu...dua...ti..
"Iya Señora", jawab Alvaro memeluk tubuh Lethicia dari belakang dan mengecup lembut punggung putih mulus Lethicia. "Aku senang jika melihat mu marah, kau membuatku bergairah", ucap Alvaro menggoda tubuh bagian belakang Lethicia.
"Hentikan Alvaro Montana! Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dari ku, kau mengalihkan perhatian ku kan?".
Alvaro membalikkan tubuh Lethicia menghadapnya. Ia berjongkok mengusap lembut perut istrinya itu. "Lihatlah mommy mu sangat cerewet pada daddy. Daddy tidak sabar melihat mu di dunia ini agar bisa membantu daddy saat mommy cerewet seperti sekarang", ucap Alvaro sambil mengusap dan menciumi perut Lethicia yang semakin besar.
Tindakan Alvaro tentu saja membuat Lethicia tersenyum lucu melihat tingkah suaminya itu. "Kau bau rokok, bersihkanlah tubuh mu. Kemudian kita tidur", ucap Lethicia sambil mengusap rambut Alvaro yang masih berjongkok.
*
Alvaro baru selesai membersihkan tubuhnya, seperti biasa laki-laki itu memilih bertelanjang dada jika tidur, hanya memakai training panjang saja.
__ADS_1
Alvaro bergabung dengan Lethicia di atas tempat tidur. Lethicia yang tidur memunggungi suaminya itu terlihat sudah memejamkan matanya. Namun Alvaro tahu bahwa Lethicia sebenarnya belum tidur. Lethicia tidak akan bisa tidur jika Alvaro tidak memeluknya.
"Aku senang adikku Assensio atas kemauannya sendiri datang kemari. Tapi aku sangat cemas dengan keadaan papa Montana", ucap Alvaro sambil memeluk tubuh Lethicia dari belakang. Ia mulai pembicaraan walaupun Lethicia tidak meresponnya dengan jawaban.
"Tadi saat aku dan Assensio mengantar papa beristirahat, ucapan papa sangat mempengaruhi pikiran ku.
"Papa bilang...'Papa senang melihat ku dan Assensio bersama-sama dalam suasana saling menyayangi dan tidak ada kebencian terhadap satu dan lainnya. Papa harap, suasana seperti sekarang akan selalu ada selamanya. Meskipun suatu hari nanti papa tidak bisa melihatnya lagi", ucap Alvaro pelan di telinga Lethicia. Menceritakan tentang pembicaraan antara ia dan Montana serta adiknya beberapa jam yang lalu.
Lethicia mendengarkan penjelasan Alvaro, ia membuka matanya. Tanpa menjawab sepatah katapun.
"Saat berbicara pada Assensio, ia mengutarakan ide nya untuk menjadikan dirinya umpan untuk memancing siapapun yang sudah berniat menghabisi nya", ucap Alvaro menyandarkan wajahnya antara tengkuk dan leher Lethicia.
"Sejujurnya aku sangat sedih melihat kondisi papa yang naik turun, seperti sekarang. Aku juga sedih jika melihat Assensio masih kehilangan ingatannya. Namun untuk Assensio, aku senang melihat telah mendapatkan kebahagiaan bersama Tatiana".
"Iya Varo, aku tahu kau sangat menyayangi keluarga mu. Tapi kau jangan lupa untuk menjaga diri mu juga sayang. Aku dan anak-anak ku membutuhkan mu", ucap Lethicia merubah posisi tidurnya terlentang dan membingkai wajah Alvaro.
"Aku akan selalu ada untukmu dan anak-anak kita sayang", balas Alvaro menundukkan wajahnya mencium lembut bibir Lethicia yang sudah menantinya.
Alvaro menundukkan kepalanya mencium bibir Lethicia yang terbuka menantang itu. Lethicia terlentang dibawah kungkungan tubuh atletis Alvaro yang hanya memakai training panjang saja. Lethicia mengusap lembut bahu Alvaro dan dada bidangnya.
Lethicia memeluk tubuh Alvaro yang berada diatas tubuh nya. Tentu saja Alvaro tidak menindih tubuh istrinya yang sedang hamil. Untuk urusan satu itu Alvaro sangat berhati-hati walaupun otaknya sudah di kuasai hawa na*su sekali pun.
Tangan kokoh itu tak henti menyusuri setiap jengkal tubuh Lethicia yang mengakibatkan pemiliknya mengeluarkan suara bergetar dan lirih..
...***...
MAU DI LANJUTKAN ATAU NGGAK 21++ NYA. ATAU DI CUT SAMPAI DI SINI AJA NIH. SOALNYA MASIH SIANG BLA BLA BLA (BANYAK LOH AUTHOR DI KOMEN BEGINI TP MEREKA HAPUS). BTW AUTHOR TETAP BISA BACA YA MESKI KALIAN HAPUS 😍
__ADS_1