MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
Bab 5


__ADS_3

Nara menuju kamar, diotaknya masih memikirkan jawaban yang sangat sulit untuk ia berikan.


"Apa Rey itu sudah kerasukan, kok tiba-tiba minta aku yang jadi calon ... eh bukan, tapi pura-pura menjadi calon tunangannya ...," lirih Nara. "Dan kenapa harus aku, bukannya masih ada cewek lain, atau ..."


Tiba-tiba ponsel Nara berbunyi, ia mengambil dari dalam saku celannya. Ternyata, Rey yang menelepon. Nara terlihat bingung. Terdengar suara Mama dari arah ruang tengah memanggil namanya. Nara segera beranjak ke sumber suara. Begitu sampai di hadapan Mama, ponsel Nara masih juga berbunyi. Mama melihat ada yang aneh dari Nara, ia tampak gugup saat ponselnya berbunyi.


"Nara, itu HP kamu bunyi terus. Angkah gih, bising tau," ucap Mama.


"Bentar lagi aja, Ma. Mama ada apa manggil Nara?" tanya Nara.


"Siapa yang nelepon? Pacar kamu si Willy itu, ya?" tanya Mama balik.


"Ih, bukan Ma. Willy bukan pacar Nara, kita cuma dekat, dan belum ada kejelasan," jawab Nara. "Ya udah, Nara angkat telepon dulu, Ma ..."


Nara pergi ke teras rumah untuk kembali menelepon Rey, baru beberapa detik ia langsung mengangkat telepon dari Nara dengan suara lantangnya. Rey sedikit marah karena sejak tadi ia tak juga mengangkat telepon darinya.


"Heh, gadis tengil. Dari mana saja kamu?" tanya Rey melalui telepon.


"Anu ... tadi saya masih sibuk, Rey ...," jawab Nara. "Ada apa sih?"


"Kita nanti ketemu jam 7 malam, aku mau bahas sesuatu," ucap Rey.


"Kenapa gak dari telepon aja sih ...," lirih Nara.


"Jangan banyak protes!!" balas Rey dengan tegas, lalu mematikan ponselnya.


"Dih, tu cowok kenapa nyebelin banget," gumam Nara.


Nara pun segera menemui Mama kembali. Baru saja beberapa langkah, tiba-tiba kolektor datang dengan memberikan surat tanah mereka. Wajah Nara terlihat bingung.


"Ini surat tanah hak milik kalian, karna tunggakannya sudah lunas," ucap kolektor itu sambil menyodorkan amplop berisi surat tanah.


"Bukannya saya belum membayarnya hari ini, Pak? Kenapa suratnya sudah dikembalikan?" tanya Nara.


"Ini surat pelunasannya sebagai bukti, saya permisi," jawab kolektor lalu pergi meninggalkan Nara yang masih berdiri di depan pintu.


Aneh, perasaan masih 5 kali angsuran lagi. Kenapa bilangnya sudah lunas, apa Papa yang bayar? Aku harus kasih tau Mama sekarang.


Nara berjalan menghampiri Mama, dengan rasa penasaran yang masih melekat dibenaknya. Terlihat Mama sedang berada di dapur menyiapkan makan malam, Nara datang mengagetkan Mama.


"Ma ... Mama ...!!" teriak Nara dengan semangat.

__ADS_1


"Nara, kamu ngagetin Mama aja," ucap Mama.


"Nih, Ma ..." Nara menyodorkan surat tanah itu ke hadapan Mama.


"Loh, kok bisa? Apa sudah lunas?" tanya Mama heran.


"Nara juga bingung, kolektor bilang sudah lunas, Ma. Tapi Nara masih cari tau siapa orang yang melunasi itu," ungkap Nara.


Nara melihat ponselnya, jam menunjukkan pukul 18.00 WIB, ia tersentak kaget karena hampir saja lupa akan janjinya bertemu Rey. Nara segera bersiap-siap. Selah hampir setengah jam berdandan, Nara berjalan menuju teras rumahnya. Tanpa ia sadari, Rey sudah menunggu di depan pagar rumahnya dengan kaos hitam yang membuatnya terlihat begitu tampan. Nara terbengong, saat Rey memanggil namanya, ia tidak mendengar karena sedang melamun.


"Nara!!" teriak Rey.


Nara kaget dan tersadar dari lamunnya itu. Terlihat Rey sedang berdiri di hadapannya.


"Kenapa kamu dekat-dekat," ucap Nara berpindah dari tempat ia berdiri.


"Dasar gadis tengil, kamu saya panggil tak menyaut, makanya saya datangi. Kamu pikir saya mesum, bukan tipe saya kamu," ucap Rey berjalan menuju mobil. "Buruan naik, ntar kemalaman lagi."


"Gak berubah tu anak, ya. Ganteng-ganteng songong, dasar!!" gumam Nara.


Nara pun segera masuk ke dalam mobil Rey, dengan wajah penuh harap agar Rey tak menanyakan tentang pertunangannya itu.


Semoga dia lupa dengan pertanyaannya ...


"Kamu mau celakai diri kamu? Lain kali pakai sabuk pengaman, saya gak mau kamu kenapa-kenapa, apalagi sampai terluka!!" ucap Rey dengan nada marah.


Wah, tumben dia perhatian. Kalau kayak gitukan aku jadi ... eh, apa-apaan kamu Nara, jangan gilak!!


"Ya maaf, Rey. Saya tidak biasa pakai ini, hehehe ...," lirih Nara dengan tertawa kecil. "Ngomong-ngomong, kamu kenapa perhatian ke saya?"


"Si ... siapa juga yang perhatian, ngaco kamu," jawab Rey beralasan.


Begitu sampai di suatu mall besar, Nara dan Rey turun dari mobil. Mereka berjalan mencari tempat makan untuk membahas suatu hal yang penting. Rey pun membawa gadis itu ke cafe yang menyediakan tempat privasi khusus untuk mereka berdua. Setelah sampai, Nara bingung dengan tempat yang sepi itu.


"Rey, kenapa tempatnya sepi? Kenapa tidak yang ramai tadi?" tanya Nara penasaran.


"Saya sengaja memesan tempat tertutup, agar kita bisa serius membahas masalah ini," jawab Rey.


Jangan-jangan dia ingat tentang tunangan itu lagi. Duh, aku harus gimana ini ...


"Saya tidak suka tempat tertutup ini, Rey. Atau kamu mau mesum, ya? Saya teriak ni," ucap Nara mencari alasan untuk bisa pergi.

__ADS_1


"Kamu sudah gila, ya? Mesum apanya, saya tidak berniat kesana sama sekali. Pikiran kamu terlalu kotor," balas Rey lalu memukul pelan jidat Nara.


Oke, kali ini aku gagal lolos dari si cowok ngeselin ini.


Nara dan Rey pun duduk di bangku yang sudah tersedia disana. Pelayan pun datang memberikan daftar menu kepada mereka berdua. Rey sedikit melirik Nara yang sibuk membolak balik daftar menu itu.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Rey.


"Saya stik aja deh, 1 ya mbak," ucap Nara.


"Saya juga, jadi 2 ya mbak," sambung Rey.


"Kamu bisa emangnya makan yang murah? Nanti sakit perut lagi ...," lirih Nara.


"Kamu mengejek saya?"


Nara langsung pura-pura mengambil ponsel agar Rey tidak memarahinya. Tidak sedikitpun suara diantara mereka berdua, sama-sama saling diam membisu. Nara terlihat kesal karena dari tadi menunggu sepatah kalimat dari mulut Rey.


Katanya pengen bahas masalah penting, kok diam aja ni orang.


Aku pengen ngomong, tapi kenapa jadi gugup gini. Takut ditolak juga, haduh ... Batin Rey.


Tak lama kemudian, Nara dan Rey saling mengeluarkan kalimat yang sama.


"Bicara dong!!" teriak mereke secara bersamaan.


"Kamu dulu yang ngomong," ucap Rey.


"Kamu aja dulu, Rey ...," lirih Nara.


"Kamu."


"Kamu aja."


"Kamu!!"


"Oke, aku yang ngomong!!" jawab Rey dengan kesal. "Gimana jawaban kamu soal tunangan itu?"


Aduh, dia ingat ternyata. Gimana dong, aku belum tau jawab apa ...


"Heh, jawab!!" ucap Rey.

__ADS_1


"Oke, saya jawab. Saya terima tawaran kamu, tapi hanya berpura-pura aja, kan?" tanya Nara. "Awas kamu kalau ngerjain saya!!"


"Beneran kamu terima? Syukurlah, karna minggu depan saya harus bawa calon tunangan ke keluarga. Terima kasih, Nara ...," lirih Rey dengan wajah bahagia.


__ADS_2