
Ketika dirinya menatap tajam Aileen, istrinya itu tertunduk malu. Samuel menghela napas dalam-dalam. Dia berusaha menguasai dirinya.
Bagaimanapun juga Aileen tidak bisa disalahkan. Sejak awal pernikahan kami hanya sandiwara belaka, keluh pria itu dalam hati. Akulah yang mengatakan bahwa dia bebas berbuat apa saja di belakangku!
Kemudian pandangannya beralih pada dokter yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua. “Dokter,” kata pria itu datar. “Saya setuju istri saya dirujuk ke dokter spesialis kandungan saat ini juga. Tolong direkomendasikan dokter yang sabar dan telaten, ya.”
Dokter di hadapanya terkekeh. Dia berkata, “Saya senang Bapak sangat perhatian terhadap istri dan anak. Calon ayah siaga yang hebat rupanya. Hehehe….”
Samuel tersenyum tulus. “Ini kehamilan istri saya yang pertama, Dok,” jelasnya kemudian. “Apalagi kami berdua belum lama menikah. Baru sekitar tiga bulan. Masih awam tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan.”
“Jangan kuatir, Pak Samuel,” ujar si dokter menenangkan. “Ini saya buatkan surat rujukan buat dokter spesialis kandungan yang cocok buat merawat istri Bapak. Sebentar lagi suster saya akan mengantar Bapak dan Ibu untuk periksa ke dokter tersebut. Mudah-mudahan pasien beliau sedang tidak banyak. Jadi Bapak Samuel dan Ibu Aileen tidak sampai menunggu lama.”
‘Terima kasih banyak, Dokter.”
“Sama-sama.”
Selanjutnya Samuel dan Aileen mengikuti suster berjalan keluar dari ruang praktik dokter umum tersebut. Ternyata tempat praktik dokter spesialis kandungan yang dimaksud tidak jauh letaknya. Begitu sampai di sana, mereka melihat seorang perempuan setengah baya keluar dari ruang praktik dokter dengan diikuti seorang perawat.
Suster dokter umum tadi segera memberikan berkas rekam medis Aileen pada perawat yang baru keluar itu. Mereka berdua berbicara sebentar. Lalu suster memperkenalkan Aileen pada perawat tersebut.
“Oh, kebetulan pasien dokter tinggal dua orang, Bu Aileen,” kata perawat tersebut memberitahu. “Apakah Ibu bersedia menunggu?”
Aileen mengangguk pasrah.
__ADS_1
“Kalau begitu, silakan Ibu duduk dulu di sini,” kata si perawat sembari menunjuk deretan bangku penunggu di depan mereka. “Mungkin Bapak bisa mendaftar dulu di bagian pendaftaran rawat jalan. Nanti akan diberi nomor antrian.”
Samuel mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. Sementara itu suster dokter umum berpamitan untuk kembali ke ruang praktik bosnya.
Singkat cerita, kandugan Aileen akhirnya diperiksa melalui USG oleh dokter spesialis kandungan. Menurut pria setengah baya berkacamata tebal itu, kandungan si pasien masih terlalu muda. Barangkali usianya baru enam minggu.
Aileen sendiri agak lupa ketika ditanya tanggal terakhir mendapatkan menstruasi. Dia berkata akan memeriksanya nanti di kalender yang ditaruh di dalam kamar tidurnya. Dirinya selalu mencatat tanggal haid di sana.
“Karena ini kehamilan pertama dan masih muda sekali, mohon berhati-hati sekali ya, Bu,” pesan dokter tersebut. “Jangan bekerja berat, stres, ataupun sering makan di luar. Lebih baik masak sendiri biar lebih higienis. Terus rutin minum susu ibu hamil. Terserah merek apa. Mau bentuk cair atau bubuk sama saja. Yang penting Ibu suka dan konsisten mengkonsumsi. Nanti akan saya buatkan resep untuk menebus vitamin dan suplemen yang berguna bagi tumbuh kembang janin. Tapi satu minggu lagi harap kontrol kembali, ya. Supaya bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Karena kehamilan trimester pertama itu rentan sekali. Jadi harus sering dipantau.”
“Siap, Dokter,” jawab Samuel sungguh-sungguh.
Dia menyukai dokter ini. Orangnya tegas, teliti, dan perhatian sekali terhadap pasien.
Setelah menebus resep dokter di bagian farmasi, pasangan suami-istri itu pulang. Dalam perjalanan, Samuel tiba-tiba membuka pembicaraan.
“Ternyata kita tak perlu sampai harus mengadopsi anak, Leen,” kata pria itu tenang.
Aileen terkejut. Tapi…tapi ini kan, buah cintaku dengan James! pikir perempuan itu tak terima. Kalau aku dan Sam nanti bercerai setelah dua tahun perkawinan kami, masa anak ini kuberikan begitu saja padanya?
Kegundahan hatinya itu disampaikannya secara terus terang pada sang suami. Samuel mendesah. Ternyata persoalannya malah menjadi runyam ketika Aileen sendiri yang hamil, pikirnya galau.
“Leen,” kata pria itu dengan suara parau. “Jadi maksudmu, begitu kita bercerai, kamu akan langsung menikah dengan James dan membawa anak itu tinggal bersama kalian?”
__ADS_1
Istrinya tersentak mendengar pertanyaan itu. Dia teringat akan James yang sama sekali tak menggubris telepon maupun pesan WA darinya akhir-akhir ini. Apa jadinya jika pemuda itu tahu kalau dirinya tengah mengandung buah cinta mereka? Bahkan sejatinya saat dia dan James terakhir kali memadu cinta dan terhenti di tengah jalan akibat kedatangan Tina, janin itu sudah tumbuh dalam rahimnya!
Tiba-tiba air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Aileen. Samuel terperangah melihat istrinya menangis. Dia merasa bersalah.
“So…sori, Leen. Bukan maksudku menyinggung perasaanmu,” ucap pria itu penuh penyesalan.
Aileen menggeleng berkali-kali. Diusapnya air matanya dengan tisu. Lalu dengan perasaan malu diceritakannya pada Samuel bahwa James ngambek. Penyebabnya karena Tina tiba-tiba datang di saat pemuda itu tengah bertandang menemui Aileen.
“Oh, begitu,” komentar Samuel singkat.
Dia berusaha bersikap biasa saja. Padahal dalam hati pria itu bersorak-sorai mensyukuri nasib naas James waktu itu. Makanya jangan sembarangan ganggu istri orang. Rasakan nggak enaknya pacaran sembunyi-sembunyi! maki pria tersebut dalam hati.
“Aku merasa James harus tahu tentang kehamilanku ini, Sam,” ucap Aileen lirih. “Biar bagaimanapun juga, janin dalam kandunganku ini adalah darah dagingnya….”
Deg!
Ulu hati Samuel sakit sekali mendengar kata-kata istrinya barusan. Jadi menurutmu aku sama sekali tidak punya hak atas janin itu? batin pria itu geram. Bagaimanapun juga anak itu secara hukum adalah buah hasil perkawinan kita!
Raut muka Samuel berubah menjadi kaku. Kelihatan sekali dia tidak suka mendengar pernyataan Aileen barusan. Perempuan itu merasa cemas.
“Ma…maafkan aku, Sam. Aku tahu kita sudah punya perjanjian sebelum menikah. Tapi…tapi itu kan kalau aku tidak hamil sungguhan. Anak yang kita adopsi akan jatuh ke tanganmu setelah kita bercerai. Nah, sekarang…sekarang ternyata aku mengandung anak James. Aku…aku merasa dia harus tahu….”
Samuel merasa terluka. Apa yang harus kulakukan selanjutnya, Tuhan? pikirnya sedih. Aku membutuhkan seorang anak. Dengan demikian orang tuaku akan bahagia. Mereka juga takkan memaksaku menikah lagi setelah bercerai dari Aileen!
__ADS_1
Pembicaraan itu tak berlanjut lagi hingga kedua insan itu sampai di rumah. Samuel tampak kecewa sekali. Aileen sendiri tak berani menyinggung-nyinggung tentang James lagi. Dia merasa bersalah karena telah mengacaukan rencana yang telah mereka sepakati sebelum menikah. Kenapa dulu tak terpikir sama sekali bahwa ada kemungkinan dirinya bisa hamil sungguhan?