
Wajah Aileen memerah. Dia merasa begitu naif. Dikiranya dulu setelah menghabiskan malam pengantin dengan James, pemuda itu akan merasa puas dan tak lagi memintanya melakukan hubungan badan. Ternyata setiap kali sang kekasih datang ke rumah, itulah hal yang tak pernah absen dimintanya dari Aileen!
Maafkan aku, Sam, sesal wanita itu dalam hati. Karena janin yang kukandung ini adalah buah cintaku dengan James, aku harus meminta pendapatnya tentang masa depan anak kami nanti. Jadi tidak bisa seenaknya kuserahkan padamu kelak setelah kita bercerai. Semoga kamu mengerti….
Dan malam itu pasangan suami-istri sandiwara tersebut berbaring di kamar tidur masing-masing dengan perasaan berkecamuk dalam dada. Berita kehamilan Aileen membuat rencana mereka berubah. Entah itu akan membawa kebaikan atau justru keruwetan dalam perkawinan yang tak diharapkan tersebut.
***
Keesokan harinya Aileen bangun kesiangan. Semalam dia menangis terus karena tak berhasil menghubungi James. Pesan WA yang dikirimnya centang satu melulu. Pertanda tidak sampai pada kekasihnya itu. Ketika James ditelepon malah terdengar suara operator yang mengatakan bahwa nomor ponselnya sudah tidak aktif.
Firasat Aileen mengatakan bahwa pemuda itu telah memblokir nomor ponselnya. Hatinya sedih sekali. Air mata perempuan itu mengalir terus tanpa henti. Akhirnya dia tertidur karena kelelahan.
Jam dinding menunjukkan waktu pukul sembilan pagi tatkala istri Samuel itu membuka matanya. “Wah, Sam pasti sudah berangkat ke kantor,” ucapnya sedikit menyesal. “Padahal aku mau membuatkan sarapan yang enak buatnya. Sebagai tanda terima kasih karena mengantarku pergi ke dokter kemarin.”
Dengan berjalan perlahan, perempuan yang tengah hamil muda itu meninggalkan kamar tidurnya. Tubuhnya sudah tidak meriang lagi seperti kemarin. Mungkin karena semalam dia sudah meminum suplemen dan vitamin yang diresepkan dokter. Samuel sempat membeli roti di kantin rumah sakit kemarin. Diberikannya pada Aileen untuk dimakan sebelum mengkonsumsi suplemen dan vitamin tersebut.
Wanita itu terharu mengingat perhatian suaminya yang begitu besar. Seharusnya James yang berbuat seperti itu padaku, batinnya pilu. Hatinya merasa kecewa sekali.
Dia lalu melangkah menuruni anak tangga satu per satu. Perutnya terasa lapar. Aileen tiba-tiba teringat akan bubur ayam bitan yang kemarin dibelikan suaminya. Tiba-tiba dia ingin makan menu itu lagi.
Ah, aku masak bubur ayam aja, deh, putusnya dalam hati. Lagi pengen. Mungkin ini yang namanya ngidam. Ingin makan sesuatu di saat hamil dan harus dipenuhi.
“Selamat pagi, Aileen. Kamu bangun di saat yang tepat. Bubur ayam yang kumasak sudah matang dan siap disantap.”
__ADS_1
Wanita itu terkejut. Dia sudah berada di anak tangga terakhir. Dilihatnya Samuel tengah duduk manis di meja makan sembari menatapnya ceria.
“Lho, Sam. Kamu kok masih di sini? Nggak pergi ke kantor hari ini?” tanya Aileen ingin tahu.
Suaminya itu tengah mengenakan kaos oblong berwarna putih dan celana pendek selutut berwarna pastel. Santai sekali penampilannya. Seperti akan menghabiskan waktu sepanjang hari di rumah.
“Aku cuti, Leen. Langsung minta izin sama Papa. Aku bilang kamu sedang nggak enak badan. Jadi lebih baik aku menjagamu di rumah. Takut ada apa-apa.”
“Wah…,” cetus sang istri merasa tidak enak. “Aku nanti bisa disalahkan sama Mama dong, Sam. Dikiranya aku yang minta kamu temani di rumah.”
Samuel terkekeh. “Tenang saja, Leen,” ucap pria itu ceria. “Aku tadi sudah bilang sama Papa supaya nggak cerita sama Mama. Papa bisa dipercaya, kok.”
Syukurlah, batin Aileen lega. Jangan sampai aku disindir oleh ibu mertuaku karena bersikap manja pada anak kesayangannya!
“Sudah. Berhenti melongonya. Lekas cuci tangan sana. Terus kita sama-sama makan bubur ayam buatanku. Aku sudah mencicipinya tadi. Menurutku sih, lumayan…Masih layak dimakan. Hahaha….”
Pasti gara-gara si kunyuk James itu! pikir Samuel gemas. Masa sampai sekarang dia masih marah sama Aileen? So childish!
Beberapa saat kemudian sang istri sudah duduk di hadapannya. Dia menuangkan bubur hangat yang berada di dalam slow cooker ke atas mangkuk bersih.
“Sori ya, Leen. Nggak ada bitan. Aku lihat di kulkas cuma ada dada ayam. Jadi kucuci, kupotong-potong, dan kucemplungin ke dalam slow cooker sama beras. Hehehe…. Kutambahin potongan wortel, telur mentah yang kutuangin langsung, sama garam. Jadilah bubur campur aduk. Beginilah caraku dan temen-temen di Amerika dulu bikin bubur kalau lagi pengen dan malas beli di luar. Mudah-mudahan kamu bisa makan ya. Leen. Sori kalau ternyata nggak enak.”
“No problem,” sahut Aileen tulus. “Aku justru berterima kasih sekali kamu sampai repot-repot bikinin aku bubur. Sampai nggak masuk kerja. Sori ya, Sam. Aku…aku sudah membuatmu susah….”
__ADS_1
Mata perempuan itu berkaca-kaca. Entah kenapa dia jadi sentimentil begini. Apa mungkin karena bawaan si jabang bayi?
Samuel yang tak tahan melihat orang yang dicintainya itu bersedih buru-buru menyahut, “Sudahlah, Leen. Aku sendiri kan juga ikut makan. Lihat nih, aku makannya banyak, lho. Kamu jangan mau kalah. Karena sekarang tubuhmu butuh nutrisi tinggi. Ada janin yang butuh makanan bergizi.”
“Thanks a lot, Sam,” ucap istrinya sambil tersenyum sendu.
Pria itu membalasnya dengan tulus, “Your welcome.”
Selanjutnya Aileen menyuapkan sendok berisi bubur hangat itu ke dalam mulutnya. Hmm, enak, pujinya dalam hati. Rasanya pas.
“Gimana rasanya?” tanya Samuel ingin tahu pendapat istrinya itu. “Kurang apa? Tadi waktu sudah matang kutambahin sedikit kecap asin, sih. Biar lebih sedap.”
“Kurang banyak. Hehehe….”
“Eh, beneran?”
Aileen mengangguk mengiyakan. “Iya, bener. Aku ngambilnya kurang banyak. Mau nambah. Boleh, ya?”
“Silakan, silakan. Aku senang kalau kamu bisa banyak makan, Leen. Supaya tubuhmu lekas sehat. Demikian juga janin dalam kandunganmu….”
Perempuan itu tersenyum getir. Ayah kandung janin ini saja tak peduli sama sekali! pikirnya sedih. Kok orang yang sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan dia malah begitu perhatian. Ah, dunia benar-benar sudah terbalik!
“Bubur buatanmu ini enak, Sam. Rasanya pas. Belajar masak bubur dari mana kamu?” tanya Aileen penasaran. Padahal selama hidup berumah tangga dengannya, tak pernah sekalipun Samuel turun ke dapur memasak sesuatu.
__ADS_1
Suaminya itu lalu bercerita, “Dulu aku ini penggemar bubur. Terus sebelum berangkat untuk menempuh studi di Ohio, Mama mengajariku cara memasak bubur ayam yang praktis dengan menggunakan slow cooker. Teknik ini menjadi populer di kalangan teman-temanku sesama pelajar Indonesia di Ohio. Tapi nggak tahu kenapa, menurut beberapa orang temanku di sana, akulah yang paling pas meracik bahan dan bumbu kalau masak bubur. Padahal lho bumbunya cuma garam sama kecap asin sedikit. Bahan-bahannya ya, sederhana aja. Beras, ayam, wortel, telur, sama daun bawang. Sederhana, kan?”
Aileen manggut-manggut membenarkan. Tapi dia juga setuju dengan pendapat teman-teman Samuel bahwa bubur buatan laki-laki itu enak sekali. Barangkali karena diracik dengan sepenuh hati, pikir gadis itu menduga-duga. Segala sesuatu yang dilakukan dengan hati bukankah hasilnya selalu istimewa?