MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
ANGIN SEGAR


__ADS_3

"Anak-anak mu sangat menggemaskan, Raffaella", ucap Liam menatap kedua gadis kembar di hadapannya yang sedang menikmati es krim kesukaan masing-masing.


"Zanetta-Zanetti, jika kalian masih ingin menambah es krimnya tentu saja boleh. Paman yang akan membayarnya", ucap Liam tersenyum ramah pada kedua gadis kecil dihadapannya.


"Benarkah paman Liam?", jawab Zanetta senang. Ia sudah bangun dan menikmati es krim kesukaannya juga bersama saudara kembarnya.


"HM...tuan saya rasa sudah cukup", balas Raffaella.


"Ya bibi Raffaella, tetapi aku masih mau lagi", ucap Zanetta Zanetti hampir berbarengan.


"Bibi tidak mau mama kalian marah pada bibi karena putrinya flu dan batuk selama bersama bibi. Atau mama kalian tidak akan diizinkan tidur bersama bibi lagi", jawab Raffaella menatap bergantian wajah kecewa keponakannya.


Liam yang mendengar percakapan itu, terkejut mengetahui ternyata Zanetta Zanetti bukanlah anak Raffaella seperti pikirannya beberapa saat yang lalu.


"Jadi mereka adalah keponakan mu Raffa?", tanya Liam menopang wajahnya dengan tangan dan menolehkan kepalanya menatap Raffaella yang duduk disampingnya.


"Iya, mereka keponakan ku", jawab Raffaella sambil menyesap jus alpukat kesukaannya.


Terlihat Liam menarik nafas dalam-dalam dan melukiskan senyuman penuh makna setelah mengetahui kebenaran tentang Raffaella.


"Tuan Liam terimakasih atas traktirannya. Sekarang kami harus pulang, karena mobil yang ku pesan sudah datang. Sekali lagi maafkan keponakan saya sudah menumpahkan es krim ke celana tuan", ucap Raffaella dengan tulus.


"Batalkan mobilnya, aku akan mengantarmu", ucap Liam menatap lekat wajah cantik Raffaella.


"Oh, tidak usah. Aku akan mengantar keponakan ku pulang ke rumah orangtuanya".


"Ya, aku akan mengantar mu kemanapun", jawab Liam sedikit memaksa.


"Bibi Raffaella, bukankah kata bibi kita harus pergi bersama orang yang kita kenal? Kita mengenal paman Liam kan", ucap Zanetti menatap bibinya yang menolak ajakan Liam. Sementara Zanetta yang memiliki tubuh lebih berisi masih menghabiskan makanannya.


"Agree. Paman menyukai mu Zanetti", Seloroh Liam sambil menunjuk gadis kecil itu, menganggukkan kepalanya dan mengedipkan satu matanya pada Zanetti.


"Itu berbeda sayang..


"Tidak ada bedanya Raffaella. Ayo princess...paman akan mengantar kalian pulang", ucap Liam beranjak dari duduknya. Yang di sambut gembira oleh Zanetta Zanetti.


Jika sudah begitu Raffaella tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menurutinya.


Setelah membatalkan dan membayar dua kali lipat biaya mobil yang di pesan Raffaella, Liam mengajak semuanya menuju mobilnya.


"Paman Liam...apakah mobil


paman masih jauh? Aku lelah berjalan paman", ucap Zanetta terlihat mulai ngos-ngosan.

__ADS_1


"Baiklah, paman akan menggendong mu menuju mobil", jawab Liam sambil mengangkat tubuh berisi Zanetta. Tentu saja tindakan Liam itu membuat hati Raffaella menghangat. Ia tidak menyangka ternyata laki-laki yang dijumpainya semalam dan sempat berdebat dengannya adalah laki-laki sangat penyayang dan menyukai anak kecil.


Perlahan Liam melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Terdengar kicauan Zanetta Zanetti di bangku belakang. Perbincangan anak-anak yang terdengar begitu lucu. Sementara hujan masih mengguyur kota Barcelona.


Beberapa menit perjalanan tidak terdengar lagi kicauan Zanetta Zanetti. Liam bisa melihat dari kaca keduanya sudah tertidur dengan kepala saling menyandar satu dan lainnya. "Keponakan mu anak-anak yang lucu, Raffaella", ucap Liam membuka pembicaraan pada Raffaella. "HM... aku kira mereka anak-anak mu Raffa", ucap Liam terdengar akrab menatap sekilas gadis yang duduk di sampingnya.


Raffaella tersenyum mendengar perkataan Liam. "Setiap weekend begini mereka sering bersama ku semenjak aku tinggal di kota ini".


"Selama ini kau tinggal dimana?".


"Di Mallorca. Aku bekerja di pabrik milik Álvaro", jawab Raffaella.


"Alvaro?", Liam merasa aneh Raffaella menyebut nama Alvaro tanpa embel-embel tuan. Terdengar akrab".


"Iya tuan Alvaro", jawab Raffaella meralat ucapannya.


Menit berikutnya..


"Sebenarnya kami berteman di bangku sekolah tingkat pertama. Aku bekerja di pabrik pengolahan lavender Alvaro di Mallorca. Beberapa bulan ini aku di pindahkan ke perusahaan Montana dan diperbantukan menjaga istrinya karena keahlian beladiri ku", jawab Raffaella menjelaskan dengan rinci.


Liam mendengarkan penjelasan Raffaella sambil fokus menyetir. "Jadi kau jago beladiri? Pantas saja kau semalam terlihat begitu menantang ku", seru Liam sekilas menatap wajah cantik Raffaella yang memiliki style rambut Bob cut potongan rambut pendek di atas bahu yang membuat gadis itu terlihat segar.


Huhhh..


"Maafkan aku tuan Liam, semalam aku benar-benar tidak tahu kalian berteman", jawab Raffaella. Sambil menunjuk ke depan meminta Liam berhenti disalah satu rumah bercat putih.


Raffaella menolehkan kepalanya pada kedua keponakannya yang masih tertidur pulas di kursi belakang. Kemudian menatap Liam.


"Terimakasih karena sudah mengantar kami tuan Liam. Terimakasih juga karena sudah mentraktir aku dan keponakan ku", ucap Raffaella dengan tulus sebelum ia membuka pintu, tapi di cegah Liam.


"Kau bisa memanggil teman ku Alvaro dengan namanya, Raffa. Kenapa kau masih memanggil ku, tuan? Aku ingin kau memanggil nama ku saja tanpa embel-embel, seperti kau memanggil Álvaro. Kita juga bisa menjadi teman bukan?", ucap Liam menatap lekat wajah Raffaella.


"Baik. Tentu saja kita teman Liam", jawab Raffaella tersenyum sambil membuka pintu begitu pula Liam.


"Aku akan menggendong Zanetta, kau pasti keberatan menggendongnya", ucap Liam tersenyum.


Raffaella tidak menolak Liam. Yang dikatakannya sangat benar, tubuh Zanetta sangat berat diusianya empat tahun.


Sementara Raffaella mengangkat tubuh Zanetti yang lebih ringan. Dan setelah masuk rumah, Raffaella merebahkan tubuh keponakannya di sofa. Begitupun Liam.


"Raffaella kau sudah datang? Ya ampun Zanetta Zanetti selalu saja berakhir seperti ini kalau di ajak pergi", ujar seorang wanita melihat kondisi anak-anaknya. Kemudian beralih menatap Raffaella dan Liam.


"Ini Liam temanku, yang sudah mengantar kami", ucap Raffaella.

__ADS_1


"Liam ini Arianna kakak ku, ibu Zanetta Zanetti".


Liam tersenyum mendengarnya, ia mengulurkan tangannya pada Arianna. Arianna menyambutnya. "Terimakasih karena sudah mengantar adik dan anak-anak ku pulang ke rumah".


"Bukan masalah, aku menyukai Zanetta Zanetti mereka gadis kecil yang menggemaskan", jawab Liam tersenyum ramah.


"Baiklah... sekarang aku permisi pulang, karena ada janji dengan teman ku", ucap Liam.


Arianna tersenyum. Sementara Raffaella mengantar Liam keluar.


"Raffaella, selama aku di Barcelona maukah kau menemaniku jalan-jalan berkeliling kota ini? Aku tidak terlalu banyak teman di kota ini", ucap Liam menatap Raffaella.


Terlihat Raffaella tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya aku bersedia menjadi guide mu selama kau di Barcelona", jawab Raffaella tersenyum.


"Bagaimana jika kita mulai besok berkeliling nya, karena esok hari Minggu?".


Raffaella menganggukkan kepalanya.


Liam tersenyum bahagia mendapatkan respon Raffaella. "Baiklah besok aku akan menjemput mu disini?".


"Iya", jawab Raffaella karena ia memang menginap di rumah kakaknya malam ini.


"Sampai jumpa besok", ujar Liam melambaikan tangannya sesaat sudah berada di belakang kemudi.


Raffaella pun membalas lambaian tangan Liam. "Hati-hati..


...***...


VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA YA 🙏


*


YUK BACA JUGA :



PENGANTIN PENGGANTI


MENJADI YANG KEDUA


FIRST LOVE LAST LOVE


AIR MATA SCARLETT

__ADS_1


SERPIHAN HATI ELLENA



__ADS_2