
"Lethi, hari ini kau istirahat saja dulu di rumah. Besok baru ke galeri mu", ucap Alvaro sesaat keluar dari kamar mandi dan melihat Lethicia sedang menyiapkan pakaian kerja untuk nya.
"Tapi, pekerjaan ku menumpuk Varo. Sementara Audri belum kembali dari Madrid", jawab Lethicia.
"Kau kan bisa meminta Raffaella menggantikan tugas mu dan Audri. Raffaella bisa mengerjakan apapun, ia cekatan dalam bekerja", ucap Alvaro.
"Iya aku tahu Varo. Tapi ada hal-hal tertentu yang tidak bisa aku bagi dengan orang mu. Yang sifatnya rahasia perusahaan. Entahlah, rasanya masih asing bagi ku. Berbeda dengan Audri, ia sudah lama menjadi asisten ku. Misalnya urusan kerja sama dengan rekan bisnis ku, aku lebih nyaman jika Audri yang mengaturnya", ujar Lethicia sambil memasang kancing kemeja Alvaro.
Alvaro tersenyum mendengar jawaban Lethicia. "Ternyata kau termasuk pemimpin yang sulit ya".
"Tidak mudah membangun perusahaan ku, Varo. Galeri ku benar-benar aku rintis dari nol", ucap Lethicia lugas sambil membetulkan simpul dasi suaminya itu.
"Tapi apapun itu aku tidak mau kau kelelahan bekerja. Ingat kau sedang hamil anak kita. Makanya aku menempatkan orang ku membantu mu, supaya bisa meringankan beban pekerjaan yang kau tanggung dengan asisten mu. Kau terlalu paranoid sayang, akhirnya kau hanya mempekerjakan sedikit orang. Akibatnya, pekerja yang ada rangkap jabatan. Itu tidak efektif Lethicia".
"Bisa kau bayangkan saat Audri asisten mu itu tidak lagi bersama mu, misalnya suatu hari nanti ia menikah dan resign, kau pasti akan ketah-ketir".
Lethicia terdiam mendengar penuturan suaminya. Ia menyadari selama ini tidak pernah memikirkan tentang itu. Tapi sekarang pikiran Lethicia terbuka, apa yang di katakan Alvaro benar adanya.
"Jadi, mulai sekarang berusaha lah berbagi beban pekerjaan mu pada orang lain, hem", ucap Alvaro sambil mengusap lembut wajah istrinya.
"Iya Varo", jawab Lethicia dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
Alvaro tersenyum melihat tingkah istrinya seperti itu. Persis seperti anak-anak yang patuh pada orangtuanya.
"Sekarang ayo kita sarapan".
"Iya Varo", jawab Lethicia sambil bergelayut manja pada lengan suaminya.
Beberapa pelayan tersenyum melihat bos mereka begitu romantis. Dan mereka juga mengetahui bahwa Lethicia sekarang sedang hamil. Tentu saja kabar itu membuat pekerja di mansion sangat bahagia mendengarnya. Bagi mereka Lethicia ada atasan yang sangat baik dan perhatian pada semua orang tanpa membeda-bedakan derajat dan kedudukan. Sudah selayaknya Lethicia hidup bahagia.
*
Audri dan Moreno sedang menikmati makan pagi bersama di lounge hotel.
__ADS_1
"Bagaimana tidur mu semalam?", tanya Moreno menatap lekat wajah Audri sembari menyeruput kopi susu hangat miliknya.
"Baik. Tidurku sangat berkualitas", jawab Audri sambil menyuapkan pancakes madu ke mulutnya.
Moreno tersenyum melihat kekasihnya itu, setiap makan pasti ada saja yang belepotan di ujung bibirnya seperti madu saat ini.
Moreno gemas melihatnya. Laki-laki itu menarik lembut tengkuk Audri dan me*umat dengan lembut bibir kekasihnya itu. Manis. Terasa manis madu dari bibir ranum Audri.
Tentu saja tindakan spontan Moreno membuat Audri terkejut. Terdengar suara desisan yang keluar dari mulut Audri. Ia terdiam dicium begitu intim seperti itu.
"M-Moreno..", lirih Audri dengan tubuh bergetar.
"A-pa yang kau lakukan..", ucap Audri melebarkan kedua matanya. Ini kedua kalinya Moreno menciumnya.
"Mencium kekasih ku, memangnya apa lagi. Aku gemas melihat madu tertinggal di ujung bibir mu", jawab Moreno sambil mengusap lembut bibir Audri.
Audri melihat-lihat sekitar mereka. Untunglah orang-orang yang berada di lounge itu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tidak menyadari perbuatan Morena padanya beberapa saat yang lalu.
"Aku malu kau mencium ku di tempat umum Reno", protes Audri memukul pelan lengan Moreno.
"Ahh Reno... bukan begitu juga maksud ku", ralat Audri mencebikkan bibirnya sambil memukul-mukul bahu Moreno yang tertawa melihat Audri sewot seperti itu.
"Hentikan tawa mu itu Moreno, kau sangat menyebalkan", seru Audri kesal.
Moreno masih terlihat terpingkal. "Aku senang sekali melihat mu ngambek begini, apa lagi saat melihat mu panik seperti kemarin di depan kamar ku. Kau hilir mudik sambil menangis dan bergumam memeluk lutut mu. Kau seperti anak kecil yang terpisah dari orangtuanya", ledek Moreno tertawa. Ia tidak menyadari perubahan raut wajah Audri mendengar perkataan nya. Audri melebarkan kedua matanya. Matanya melotot kemudian menautkan alisnya.
"MORENO ANTERAS...jadi kau sengaja mempermainkan aku kemarin. Berarti lift itu mati karena ulah mu, hah??"
"Ahh kau ini kenapa menyebalkan sekali Moreno. Kau tega membuatku ketakutan", seru Audri sambil memukul-mukul punggung Moreno.
Seketika Moreno menghentikan tawanya. "Ups.. keceplosan", ucapnya dengan konyol sambil menggaruk kepalanya.
Sementara Audri masih memukul punggung berotot Moreno, gadis itu tidak peduli beberapa pandang mata menatap kearah mereka sambil tersenyum lucu. Bagi Audri ia puas melakukan seperti itu.
__ADS_1
"Wah, ternyata pukulan mu enak juga sayang. Kau menghilangkan rasa pegal di punggung ku", seloroh Moreno kembali menggoda Audri yang semakin cemberut.
"Awas saja kau Moreno, aku akan membalas perbuatan mu. Aku akan menghukum mu!", ketus Audri mencebikkan bibirnya.
"Oh sayang...dengan senang hati aku akan menerimanya", jawab Moreno masih menahan tawanya.
"Hm...abis kan makan mu. Lima belas menit lagi kita kebandara".
"Aku tidak mau makan lagi. Kau membuat mood ku buruk sekarang", ketus Audri.
"Alright, apa artinya kau tidak jadi pulang ke Barcelona? Jika begitu dengan senang hati aku akan menghabiskan waktu dengan mu di Madrid.
Bahkan aku tidak keberatan jika kau tidur di kamar ku", seloroh Moreno sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Moreno...hentikan menggoda ku. Baiklah aku akan abiskan makanan ku", seru Audri dengan wajah tertekuk.
...***...
HAI KAKAK² MUMPUNG HARI SENIN NIH, BAGI VOTE NYA DONG 🙏
*
YUK BACA JUGA :
PENGANTIN PENGGANTI
MENJADI YANG KEDUA
FIRST LOVE LAST LOVE
AIR MATA SCARLETT
__ADS_1
SERPIHAN HATI ELLENA