
James menurut. Dilepaskannya tubuh ramping kekasihnya itu. Lalu pasangan muda-mudi tersebut berjalan beriringan menuju wastafel. Setelah mencuci tangan terlebih dahulu, Aileen berinisiatif mengambilkan nasi bagi James dan dirinya sendiri.
Dibukanya rice cooker di atas meja makan. Diambilnya nasi lalu diletakkannya pada dua buah piring kosong. Ditanyakannya pada sang kekasih apakah porsi nasi yang diperuntukkan baginya sudah cukup.
James mengangguk. Dia sudah selesai mencuci tangan. Dilihatnya piringnya sudah berisi nasi dan gurami goreng bagian kepala dan separuh badan. Sedangkan separuh badan lainnya dan bagian ekor berada di piring kekasihnya.
James tersenyum. Aileen memang sangat perhatian. Perempuan itu tahu bahwa kekasihnya tidak suka bagian ekor ikan. Setiap kali makan ikan goreng maupun bakar bersama James, dia selalu mengalah dengan menyantap bagian ekor dan separuh badan ikan.
Mereka berdua makan langsung dengan memakai tangan. Lahap sekali. Sambal buatan Aileen terasa sekali pedasnya. Mulut James sampai mendesis-desis kepedasan. Tapi pemuda itu tak berhenti menambah sambal. Memang dia suka sekali makan pedas. Aileen sangat senang melihat kekasihnya sungguh menikmati masakan buatannya.
“Mau tambah nasi, Sayang?” tanya perempuan itu menawari.
Sang kekasih menggeleng. “Aku nanti masih mau makan lagi soalnya,” jawabnya pemuda itu enteng. Diminumnya air putih untuk mengurangi rasa pedas pada mulutnya.
Dahi Aileen berkerut. Dia bingung. Cuma ada gurami goreng dan lalapan di atas meja makan ini, cetusnya dalam hati. Sudah hampir habis dimakan oleh kami berdua pula. Terus James mau makan apa lagi?
Ekspresi wajah kekasihnya rupanya tertangkap oleh sudut mata James. Pemuda itu tergelak. Lalu dengan sorot mata nakal dia berkata keras, “Habis ini aku mau makan…ini, lho.”
Disenggolnya pelan bagian depan tubuh Aileen yang menonjol dengan sikunya. Kekasihnya itu berpura-pura merengut. Tapi melihat sorot mata James yang begitu mendamba, dia tak mampu menahan tawanya.
Ya sudahlah, pikir Aileen mengalah. James udah kadung puas menikmati masakanku. Masa kubuat dia kecewa dengan menolak ajakannya untuk bercinta?
Tak lama kemudian dua insan itu selesai makan, Aileen segera membereskan meja. Dibawanya semua peralatan makan yang sudah kotor ke dapur. Dicucinya benda-benda itu dengan hati sukacita.
Dia sangat bahagia suasana hati kekasihnya baik sekali hari ini. Meskipun James tak pernah sekalipun membantu Aileen mencuci piring kotor bahkan yang dipakainya sendiri, perempuan itu tak mempermasalahkannya. Yang penting pemuda itu bersikap baik dan manis padanya, Aileen sudah merasa puas.
Begitu pekerjaannya di dapur selesai, sepasang kekasih itu berjalan bersama menaiki tangga. Tangan James memeluk pinggang ramping Aileen dengan mesra. Hatinya senang sekali. Tak lama lagi dia akan mereguk kenikmatan tubuh sintal perempuan itu.
__ADS_1
Ah, alangkah indahnya dunia ini! batin pemuda itu bersorak-sorai. Datang ke rumah ini satu minggu tiga-empat kali untuk dijamu dengan hidangan lezat. Lalu diakhiri dengan permainan cinta yang menggairahkan di atas ranjang! Aku hanya mengeluarkan biaya transportasi yang sangat murah dengan menyewa ojek online. Hahaha…. Dasar Samuel Manasye, crazy but stupid rich. Bisa-bisanya membiarkan istrinya yang molek ini digarap habis-habisan oleh pemuda biasa-biasa saja sepertiku!
“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Sayang?” tanya Aileen ingin tahu.
Mereka sudah sampai di ujung tangga. Hanya beberapa langkah lagi dia dan kekasihnya ini akan sampai di ruangan yang mereka tuju. Yaitu kamar tamu tempat keduanya biasa memadu kasih.
“Aku mau kita mandi bareng, Sayang,” sahut James menjawab pertanyaan kekasihnya. “Kita belum pernah melakukannya di rumah ini, kan?”
Aileen tersenyum. Dia mengangguk setuju. “Kita masuk ke kamarku dulu aja, yuk,” usul perempuan itu. “Lepas baju di sana. Lalu pakai handuk ke kamar mandi. Jadi baju-baju kita nggak basah kena air. Kamu pasti aneh-aneh soalnya di kamar mandi.”
“Aneh-aneh gimana sih, Sayang?” tanya sang pemuda sembari mengerling genit.
Perempuan di hadapannya tertawa-tawa lalu berlari masuk ke dalam kamar tidurnya. James langsung mengejar sang kekasih. Sorot matanya penuh nafsu. Akan dilahapnya Aileen Benyamin bertubi-tubi hari ini. Adik kecilnya benar-benar tak tahan lagi ingin berkelana menyusuri liang sempit yang teramat disukainya.
***
Sudah berkali-kali Tina menekan bel pintu rumah anaknya, tapi tak seorang pun tampak keluar untuk membukakan pagar putih yang tertutup rapat itu.
“Kemana sih, Aileen? Masa menerjemahkan novel online begitu seriusnya sampai-sampai tidak mendengar bel berbunyi berkali-kali!” gerutu perempuan setengah baya yang masih tampak sangat cantik itu kesal.
Dia sudah menelepon Aileen tiga kali tadi. Tapi hanya terdengar nada sambung tanpa henti. Menantunya itu tak mengangkat teleponnya.
“Apa kutelepon Sam aja, ya? Biar dia menelepon istrinya agar membukakan pintu untukku? Tapi…ah, takutnya malah mengganggu anakku itu bekerja. Aduh, kamu kemana sih, Aileen? Mobilmu lho, ada di carport. Berarti kamu ada di rumah, kan? Kecuali kalau kamu pergi dijemput orang….”
Seketika mata wanita itu terbelalak. Memangnya siapa yang berani menjemput menantunya itu keluar rumah? Jangan-jangan orang itu berjenis kelamin laki-laki….
Tiba-tiba pintu utama rumah itu terbuka lebar. Muncul Aileen yang tergopoh-gopoh membawa satu set kunci. Tina tersenyum masam melihat menantunya itu.
__ADS_1
“Maafkan Aileen, Ma,” ucap istri Samuel itu sungguh-sungguh. “Tadi Aileen sedang berada di kamar mandi lantai dua. Perut sakit sekali habis makan nasi sama sambal pedas. Tidak dengar kalau ada orang datang. Mama sudah lama menunggu di depan sini, ya? Maaf sekali lagi ya, Ma.”
Wajah perempuan itu tampak pucat. Membuat hati Tina jadi luluh. Jangan-jangan anak ini sakit, pikirnya agak kasihan. Tapi karena masih merasa jengkel akibat menunggu lama di luar, wanita itu bertahan pada sikapnya yang dingin.
Begitu masuk ke dalam rumah, matanya jelalatan kesana-kemari mencari-cari sesuatu yang mencurigakan. Aileen yang menyadari tatapan ibu mertuanya itu bersyukur dalam hati tadi sempat menyembunyikan sepatu James di dalam rak sepatu. Ibu kandung Samuel itu tak mungkin memeriksa begitu detil sampai ke sana.
“Tadi Pak Sopir sebenarnya yang menekan bel pintu. Tapi karena lama sekali nggak dibukain, akhirnya Mama memutuskan untuk menekan bel sendiri. Juga sudah telepon kamu berkali-kali tapi tidak diangkat.”
Sang menantu jadi semakin tidak enak hati. Ekspresi wajahnya tampak bersalah. Dia lalu meminta maaf lagi.
“Sudahlah, nggak usah dibahas lagi. Terus perutmu sekarang gimana? Masih sakit?”
“Udah nggak, Ma.”
“Diarekah?”
Aileen mengangguk malu. “Iya, Ma. Tapi udah nggak pa-pa, kok. Beneran.”
“Memangnya kamu masak apa hari ini?” tanya Tina penasaran.
“Gurami goreng sama lalapan, Ma,” jawab menantunya jujur.
“Oh, terus sambalnya bikin kamu sakit perut? Memangnya kamu beli di mana?”
“Aileen bikin sendiri, Ma.”
“Kok bisa sakit perut? Berarti kamu nggak teliti masaknya. Apa cabenya ada yang busuk?”
__ADS_1