MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
Bab 2


__ADS_3

Nara merasa aneh, karena tiba-tiba Rey ingin bertemu dengannya. Dengan hati terpaksa, Nara segera untuk berangat menaiki taksi. Ia turun dipersimpangan, dan harus jalan kaki menuju mall itu. Rey melihat Nara sedang berjalan kaki, ia segera menghampiri gadis itu.


"Hei, buruan naik!!" perintah Rey.


"Loh, kok di sini?" tanya Nara.


"Udah, buruan naik sekarang biar cepat!!" perintah Rey sekali lagi.


Nara pun membuka pintu belakang dan ingin segera masuk ke dalam mobil mewah itu. Rey memarahinya, lalu meminta Nara untuk berpindah ke depan tepat disebelah pria tampan itu.


"Kenapa kamu duduk dibelakang, bagaimana saya mau mengobrol dengan kamu?" tanyanya dengan sedikit kesal.


"Tentu bisa, Tuan. Saya tidak bisa duduk bersebelahan dengan atasan ...," lirih Nara.


"Cepat kamu pindah ke depan!!" bentak Rey.


Ni orang hoby banget marah-marah, cewek mana sih yang betah sama dia. Hih.


Nara pun berpindah tepat disebelah Rey, ia sedikit gugup dengan situasi itu. Tangannya berkeringat sangking takut oleh ocehan Rey. Nara menunduk memperhatikan tangan Rey yang begit u mulus dan kulit yang putih. Nara sedikit membayangkan jika ia adalah jodohnya.


Nara, apa yang sedang kamu bayangkan. Rey itu cowok yang super aneh, lagian aku juga gak akan berminat sama cowok dingin kayak es batu itu.


Mobil pun berhenti di suatu mall besar, mereka segera turun dan segera beranjak ke dalam mall itu. Rey begitu serius memperhatikan wajah Nara dari samping, ia terlihat seperti sedang menahan kesedihan. Rey menghentikan langkahnya. Nara pun ikut berhenti dan membalikan badan ke arah Rey.


"Ada apa, Tuan Rey? Kenapa berhenti?" tanya Nara.


"Tidak apa-apa," jawabnya.


Ya begitulah Reynand, pria yang super dingin terhadap wanita. Ntah ada apa dengan dirinya, sehingga sifatnya begitu cuek. Saat sampai di dalam mall, Nara yang memilih tempat buat mereka nongkrong.


"Kita ngobrol di sini aja, ya Tuan," ucap Nara.


"Terserah, aku ikut aja," jawab Rey.


"Terserah, gakada, dasar cowok nyebelin," gumamnya.


"Kamu bilang aku nyebelin? Berani ya kamu!!" ujarnya dengan nada kesal.


Nara melajukan langkah kakinya saat itu, Rey yang masih tertinggal dibelakang tersenyum melihat tingkah Nara. Rey pun segera menyusul Nara. Begitu sampai di cafe yang dipilih gadis itu, mereka tanpa basa-basi langsung memilih tempat duduk yang tidak terlalu banyak orang disekeliling mereka.

__ADS_1


"Duduk di sini aja," ucap Rey.


"Baik, terserah anda," jawab Nara cuek.


Rasain, giliran aku yang cuekin kamu Rey.


Mereka pun memesan makan dan minuman. Sembari menunggu, Rey membuka obrolan. Awalnya ia masih agak ragu untuk membicarakan hal yang pastinya ditolak oleh gadis mungil berambut lurus itu.


"Nara ...," sapa Rey.


"Ya, ada apa Tuan Rey terhormat?" tanya Nara.


"Kamu mau gak nerima ...," lirihnya sambil memikirkan kalimat yang akan ia ucapkan.


"Nerima apa maksudnya, Tuan? Haduh, bikin orang bingung," ucap Nara.


"Bisa gak kamu berhenti memanggilku Tuan, Tuan, Tuan!! Aku bukan Tuan kamu dan tidak akan pernah menjadi Tuan kamu!!" ucap Rey sedikit mengeraskan suaranya. "Panggil aku Rey aja, ngerti gadis kecil?"


Serba salah ya, kalau tidak karna aku perlu uang itu, aku gak akan mau berhadapan dengan cowok ngeselin ini.


"Hei, kamu dengar tidak!!" bentak Rey.


Kenapa dia terus melihatku, apa ada yang salah denganku. Bahkan dia tersenyum, sepertinya dia mulai tidak waras.


Rey masih melamunkan gadis dihadapannya. Dengan secepat kilat Nara menyadarkan lamunan pria yang menurutnya aneh itu.


"Heh, Rey!! Hello, apakah anda masih waras?" tanyanya.


Rey tersadar, melihat tangan Nara berada dihadapan mukanya, ia segera memindahkan agar tak menghalangi penihatannya.


"Jadi kamu pikir saya gila? Kalau saya gila tidak akan mungkin saya setampan ini," jawab Rey memuji dirinya.


Tampan? Dasar aneh. Mataku melihatnya biasa saja.


Setelah menghabiskan minuman itu, Nara masih penasaran maksud tujuan Rey mengajaknya bertemu. Saat Nara ingin menanyakan hal itu, tiba-tiba saja ponsel Rey berbunyi, ia mengangkat telepon itu. Setelah selesai menelepon, Rey kembali ke tempat duduk tadi, Nara dengan cepat langsung melontarkan pertanyaan.


"Rey!!" teriak Nara.


"Apa? Bisa tidak kamu jangan berteriak, emangnya telingaku ini pekak," ucap Rey.

__ADS_1


"Maaf ... Saya ingin bertanya. Apa tujuan kita bertemu?" tanya Nara dengan penasaran.


Rey bingung ingin menjelaskan yang sebenarnya ke gadis itu. Ia takut Nara jadi salah sangka. Rey berusaha mencari jawaban yang tidak mencurigakan.


"Itu ... Saya ingin menjelaskan tentang pinjaman kamu ...," lirih Rey.


"Bagaimana? Apakah saya sudah bisa mendapatkan uangnya?" tanya Nara dengan cepat.


Sebenarnya bukan itu gadis oon. Aku ingin kamu membantuku pura-pura menjadi calon tunanganku. Batin Rey.


"Ya, tapi kamu belum bisa menerima seluruhnya, masih setengah dulu saya berikan. Sampai kamu bisa membantu saya," jawab Rey.


"Bantu apa? Anda perlu bantuan apa? Saya pasti selalu menjawab bisa," tuturnya dengan senyuman.


Rey mengalihkan pembicaraan agar Nara tak terus bertanya. Tiba-tiba saja ponsel Nara berbunyi, ada pesan yang masuk. Ia segera membukanya, ternyata isi pesan itu dari kolektor bank yang meminta angsuran dipercepat. Wajah gadis itu yang tadinya ceria kini berubah menjadi sedih. Terlihat ia sedang menahan air matanya agar tidak menetes dipipi. Rey mencoba membuka obrolan ke Nara.


"Hei, kamu kenapa tiba-tiba diam?" tanya Rey. "Ada masalah?"


"Masalah saya bertambah rumit, saya harus bagaimana ...," lirihnya.


"Apa masalah hutang itu? Bukankah saya akan memberikanmu hari ini setengahnya, bisa kamu bayarkan dulu itu," tutur Rey.


"Kolektor itu memajukan jatuh temponya, dan memintanya untuk mengangsur 75% dari hutang pokok. Bisa-bisa saya gila ini," jelas Nara dengan raut wajah sedih.


"Bisa kamu bawa saya ke kolektor itu? tanya Rey. "Biar saya yang atasi."


"Jangan, jangan ... saya tidak mau anda terlibat dalam masalah ini ...," lirih Nara.


Setelah cukup lama mengobrol, Rey mengantarkan Nara pulang ke rumahnya. Lalu, ia memberikan uang beserta koper yang sudah ia janjikan. Nara tampak bahagia, akhirnya ia bisa membayar hutang itu walaupun ia harus menjadi babu atasannya.


"Sudah, kamu jangan bersedih. Sisanya besok saya akan antarkan ke rumah kamu," ucap Rey dengan senyuman.


Tumben dia senyum, biasanya jutek. Tapi, kalau dia senyum gitu terlihat manis. Ya ampun, apa yang sedang aku pikirkan.


Rey pamit untuk pulang, Nara pun mengangguk.


"Terima kasih ya, Rey. Katakan apa yang harus saya perbuat ke anda, pasti akan saya lakukan," ucap Nara.


Saat Rey sudah pergi, Nara segera masuk ke dalam rumah sambil membawa koper itu.

__ADS_1


__ADS_2