
Alvaro dan Moreno terlihat tergesa-gesa melangkahkan kakinya menuju ruang ICU disalah satu rumah sakit mewah yang berada di tengah kota Barcelona.
Dengan sorot mata tajam dan raut muka tidak bersahabat Alvaro menuju tempat Assensio di rawat.
Terlihat orang-orang Alvaro berjaga di depan pintu masuk.
Terlihat pula Hector sedang berbincang dengan salah satu bodyguard yang di tugaskan melindungi Assensio. Hector segera menemui Alvaro ketika ia menyadari kehadirannya.
"Apa yang terjadi?".
"Sebuah mobil minibus lah yang lalai, tiba-tiba keluar jalur dan melaju dengan kecepatan penuh hingga menabrak mobil tuan Assensio dan menyebabkan Pedro tewas seketika di tempat kejadian".
"Bagaimana dengan pengemudi yang lalai itu? Apa kau sudah menyelidiki semuanya?", tanya Alvaro menatap tajam Hector.
"Pengemudi itu tewas juga di tempat. Laki-laki itu bernama Edgardo yang sehari-harinya bekerja sebagai pemilik bengkel las di pinggiran kota Barcelona. Ia hidup sebatang kara, bercerai dari istrinya lima tahun yang lalu. Memiliki seorang putra yang di asuh mantan istrinya yang saat ini tinggal di kota Granada".
"Artinya ia tidak ada tanggungan hidup lagi kan? Aku ingin kau selidiki lagi tragedi yang menimpa Assensio ini. Aku mencurigai kejadian ini bukanlah kecelakaan biasa. Jika dugaan ku benar segera temukan dalang dari semua ini Hector. Ia sudah mencelakai Assensio dan istrinya. Ia juga membuat paman Pedro tewas".
"Baik tuan".
"Kau juga harus mensterilkan tempat ini Hector. Jauhkan dari orang-orang yang bisa saja berniat jahat atau pun wartawan yang ingin memotret keadaan adikku".
"Baik tuan, saya segera berkoordinasi dengan keamanan disini", jawab Hector dengan hormat.
Beberapa saat kemudian terlihat dokter keluar dari ruangan Assensio. Alvaro segera menemui nya.
"Bagaimana kondisi adikku Assensio?"
Dokter itu menatap Alvaro. "Kita bicarakan di ruangan saya", jawab dokter membalikan badannya dan diikuti juga oleh seorang perawat. Alvaro juga mengikuti dokter ke ruangannya yang tak jauh dari ruang ICU tempat Assensio di rawat.
Dokter bernama Arthur itu mempersilahkan Alvaro untuk duduk. Begitupun dengan dirinya, yang duduk di kursi nya.
"Begini tuan, kondisi pasien saat ini kritis akibat benturan keras di kepalanya yang menyebabkan pasien tidak sadarkan diri. Beruntungnya, pasien bisa langsung di tangani dengan cepat setelah mengalami kecelakaan jadi pasien tidak mengalami banyak kehilangan darah", ucap dokter menjelaskan kondisi Assensio dengan Alvaro.
"Berapa lama adikku akan mengalami kondisi kritis ini?"
"Akan kami observasi selama dua puluh empat jam. Jika belum ada perkembangan, tetap akan di observasi dua puluh empat jam berikutnya", jawab dokter Arthur menjelaskan.
__ADS_1
"Kondisi organ dalam tubuh tuan Assensio jantung dan yang lainnya dalam kondisi normal. Tuan Assensio mengalami luka luar saja. Yang membuatnya kritis karena benturan keras di kepalanya menyebabkan Cedera eksternal melukai kulit kepala. Saya sudah memberikan obat untuk menghilangkan rasa sakit jika tuan Assensio mendapatkan kesadarannya".
Alvaro mendengar penjelasan dokter Arthur dengan seksama.
"Sebelum kecelakaan ini, adik saya dalam kondisi amnesia. Enam bulan yang lalu ia mengalami kecelakaan juga yang menyebabkan ingatannya hilang. Apakah hal itu dapat menambah parah kondisi kritis adikku?", tanya Alvaro serius menatap tajam dokter Arthur.
"Hasil Scan otak yang sudah dilakukan menunjukkan tidak ada lagi pendarahan yang terjadi di pusat otak. Pembekuan darah nampak terlihat di batang otak yang di sebabkan kecelakaan saat ini. Jadi kalau melihat hasil scan saat ini kondisi otak pasien baik dan tak nampak cedera otak yang sifatnya lama. Untuk mengetahui kebenarannya nanti saat pasien keluar dari masa kritisnya".
"Apakah untuk saat ini adikku sudah bisa di pindahkan ke kamar khusus? Sehingga lebih aman dan pihak keluarga bisa selalu mengawasi nya", tanya Alvaro.
"Sebaiknya pasien tetap ditempat sekarang untuk menghindari terganggunya alat-alat bantu yang terhubung pada organ inti tubuh pasien. Setelah melewati masa kritis pasien bisa langsung di pindahkan keruangan rawat inap khusus", jawab dokter Arthur.
"Baik. Lakukanlah pengobatan yang terbaik baik untuk adik ku. Terimakasih", ucap Alvaro sambil menyalami tangan dokter Arthur sebelum ia keluar ruangan itu.
Alvaro masuk keruangan ICU di mana tempat Assensio di rawat. Saat tiba di depan ranjang tergolek lemah tubuh Assensio tiba-tiba kedua mata Alvaro memanas. Kondisi Assensio benar-benar mengkuatirkan.
Perban berwarna putih melingkar di kepalanya. Dan terlihat warna merah akibat luka yang di alami Assensio. Sementara pelipis bagian kiri terlihat lecet parah namun tidak di tutup kain kasa. Luka itu terlihat sudah bersih dan mendapatkan obat terbaik karena terlihat sudah mengering.
Dengan mata terpejam dan mulut terbuka yang di masukkan selang antara hidung dan mulut Assensio. Sementara bagian tubuh Assensio di biarkan terbuka tak mengenakan pakaian. Alat medis memenuhi tubuhnya yang tersambung ke layar monitor yang terdapat di sebelah tempat tidur nya.
Alvaro tidak dapat menahan tangisnya. Tangisan seorang kakak yang sedih melihat kondisi sang adik yang tak berdaya di atas tempat pasien.
Alvaro menggengam jemari jemari tangan sebelah kanan adiknya yang tak terluka.
"Aku sangat menyayangimu Assensio. Walaupun aku lebih mengenal mu setelah kau kehilangan memori mu tapi aku benar-benar menyayangimu adikku.
"Bertahanlah. Aku yakin kau mampu melewati masa kritis ini. Ingatlah pada papa dan Tatiana istrimu, Assensio. Mereka membutuhkan kehadiran mu".
"Apa kau ingat, bagaimana papa sangat antusias melihat kehadiran mu lagi, bahkan ia sangat bersemangat untuk sembuh dari sakit kanker yang menggerogoti tubuhnya, Assen. Apa kau ingat kata-kata yang papa ucapkan semalam. Ia ingin melihat kita tetap saling menyayangi dan melihat cucu-cucu nya. Aku dan Lethicia sebentar lagi akan mewujudkan impian papa. Kau dan Tatiana juga harus mewujudkan impian papa Assen".
"Segera buka mata mu. Dan berjuang lah melewati masa kritis ini adikku".
"Aku akan mencari tahu dalang dari semua kejadian ini. Aku yakin ada hubungannya dengan Leonardo. Aku yakin ialah yang sudah mencelakai mu untuk yang kedua kalinya. Dan menyebabkan paman Pedro tewas. Paman Pedro yang sudah aku anggap sebagai orang tua ku tewas di tempat", lirih Alvaro sambil menundukkan kepalanya membawa tangan Assensio keningnya.
"Sekarang istirahat lah. Aku akan melihat kondisi istri mu Tatiana. Kau harus bertahan untuknya Assen. Tatiana sangat mencintaimu. Aku bisa melihatnya", ucap Alvaro menaruh jemari tangan Assensio di sebelah tubuhnya.
Alvaro keluar kamar ICU. Ia mengusap air matanya mengalir sesaat yang lalu.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi adikmu varo?", tanya Moreno yang duduk di ruang tunggu di depan kamar Assensio.
"Menurut dokter ia belum melewati kritisnya. Semua kemungkinan bisa terjadi Reno. Jujur aku tidak mau kehilangannya. Situasi ini membuat ku benar-benar syok".
"Tenanglah. Aku akan membantu mu", ujar Moreno sambil menepuk pundak sahabat nya itu.
"Terimakasih", ucap Alvaro dengan mata memerah dan berkaca-kaca.
"Sekarang aku harus melihat Tatiana, memastikan kondisinya".
"Ayo aku temani", ujar morena merangkul pundak Alvaro yang nampak tegar namun Moreno tahu temannya itu sangat sedih.
Alvaro mendengarkan penjelasan dokter yang merawat Tatiana. Menurut dokter Tatiana hanya mengalami luka ringan saja. Namun ia mengalami trauma hingga harus di berikan obat penenang.
Alvaro dan Moreno melihat Tatiana yang tergolek lemah di ranjang pasien dengan mata terpejam. Terlihat memar di bagian wajahnya yang sudah terlihat membiru.
"Semoga adik-adik ku ini baik-baik saja. Mereka saling mencintai..
...***...
VOTE YA 🙏
AUTHOR AKAN UP 1-2 BAB LAGI UNTUK HARI INI. SEMUA DENGAN CHAPTER PANJANG DI ATAS 1200 KATA. SEMOGA PUAS BACANYA ❤️
YUK BACA JUGA :
PENGANTIN PENGGANTI
MENJADI YANG KEDUA
AIR MATA SCARLETT
FIRST LOVE LAST LOVE
SERPIHAN HATI ELLENA
__ADS_1