
Sementara perasaan Ernie sibuk berkecamuk sendiri, putri kandungnya yang sejak tadi memperhatikan mobil Samuel dari balik jendela kamar tidurnya menghembuskan napas lega.
“Akhirnya pergi juga mereka. Lagian ngapain sih, dari tadi kok nggak segera berangkat? Ngobrol apa aja Mama sama Sam?” celoteh Aileen pada dirinya sendiri. Dia bergegas merapikan meja kerjanya. Setelah itu diraihnya ponselnya untuk memesan taksi online.
Setelah memperoleh driver yang siap mengantarkan dirinya ke tempat yang hendak dituju, Aileen lalu menelepon James. Terdengar nada sambung satu kali yang kemudian berganti dengan suara yang teramat dikenalnya.
“Halo, Sayang,” sapa suara di seberang sana ceria. “Sudah siap datang ke kos-ku?”
“Yes. Sepuluh menit lagi taksi online datang ke rumahku, James. Habis itu aku langsung berangkat ke tempat kos-mu. See you.”
“Siap, Sayang,” jawab James sembari tersenyum senang.
Demikianlah kedua anak muda itu bertemu dengan sembunyi-sembunyi untuk memadu kasih di dalam kamar kos James. Setidaknya sampai Aileen resmi menikah, itulah tempat yang aman bagi kedua insan tersebut untuk melampiaskan perasaan rindu.
Setelah itu, batin James nakal. Aku bisa sesuka hati menemui Aileen di rumah yang ditempatinya bersama suaminya yang kaya raya itu. Hmm…, menantang sekali rasanya bercumbu dengan istri orang dan bahkan difasilitasi sepenuhnya oleh suaminya sendiri! Seolah-olah aku sudah memenangkan pertandingan sebelum bertarung. Hahaha….
***
Tibalah hari yang ditunggu-tunggu sekaligus mendebarkan bagi Aileen Benyamin. Ditunggu-tunggu karena itu merupakan tanda kebebasannya bertemu dengan James kapanpun dia mau. Mendebarkan karena gadis itu harus menjalani ritual pernikahan yang ribet dengan lelaki yang sama sekali tak dicintainya, yaitu Samuel Manasye.
Ya, karena seluruh konsep pernikahan tersebut diatur sesuai dengan kehendak Tina yang perfeksionis, maka segala sesuatunya harus tampak rapi, menawan, mewah, dan tanpa cela. Demikian pula halnya dengan gaun pesta yang dikenakan ibu kandung Samuel itu. Pada pagi dan siang hari dia mengenakan gaun berbahan sifon berwarna emas yang tampak begitu glamor dengan taburan kristal berwarna senada. Ekor gaunnya panjang sekali menyaingi ekor gaun pengantin yang dikenakan mempelai wanita.
Aileen sampai tertawa dalam hati menyaksikan betapa ibu mertuanya itu seolah-olah tak mau kalah dengan menantunya yang seharusnya menjadi ratu sehari pada acara itu. Adapun Ernie sendiri sebagai besan juga mengenakan kain yang sama dengan Tina. Namun taburan kristal pada gaunnya tidak begitu banyak. Selain itu gaunnya bermodel cukup simpel dan tanpa ekor.
“Mama cantik sekali,” puji sang putri setulus hati. “Gaun ini pas banget dipakai Mama.”
__ADS_1
“Terima kasih, Nak,” sahut ibunya lega. “Mama sempat nggak pede waktu mencobanya di tempat desainer. Rasanya kok keganjenan sudah umur segini pakai gaun pesta yang menyolok.”
“Nggak kok, Ma,” jawab Aileen sambil tersenyum manis. “Mama kelihatan cantik dan anggun sekali. Betul kan, Pa?”
Mempelai wanita itu menoleh pada Harris meminta pendapatnya. Ayahnya tersebut mengangguk mengiyakan. Dirangkulnya mesra bahu sang istri.
“Anak Papa juga cantik sekali hari ini. Benar-benar jadi ratu sehari. Semoga kamu bahagia menjalani hidup bersama Sam ya, Nak. Percayalah, dia pemuda yang baik dan cocok sekali buatmu.”
Terserah apa kata Papa, batin putrinya sinis. Toh, aku nggak punya pilihan selain menyetujui pernikahan ini.
Dipeluknya ayah dan ibunya bergantian. Timbul perasaan sedih dalam hati Aileen karena tak lagi tinggal seatap dengan kedua orang tuanya ini. Selama dua puluh dua tahun hidup di dunia ini tak pernah dirinya tinggal jauh dari Ernie dan Harris selain kalau ada acara menginap untuk kegiatan sekolah maupun rumah temannya.
Tiba-tiba sepasang mata indah gadis itu berkaca-kaca. Ernie yang cepat tanggap langsung menghibur anak semata wayangnya tersebut.
Ucapan lembut wanita itu berhasil menenangkan perasaan putrinya. Segenap ritual pernikahan berhasil dijalani mempelai wanita itu dengan baik. Dan ketika bertemu muka dengan Samuel yang tampak gagah dengan setelan jas berwarna putih cemerlang, Aileen berbisik menggoda, “Kamu kelihatan beda kalau begini, Sam.”
Sang mempelai pria langsung menanggapi, “Oya? Gara-gara setelan jasku ini, ya? Ini pilihan mamaku….”
“I know,” cetus pasangannya singkat. “Setelan jasmu ini keren banget kayak yang biasa dipakai artis cowok Korea. Hehehe….”
“Masa? Wah, itu pujian buatku. Thanks, ya. Berarti mamaku nggak salah milihin aku setelan jas ini.”
“Jangan-jangan Tante Tina suka nonton drakor, ya?”
“Definitely. Makanya seleranya kan bagus-bagus dan up to date.”
__ADS_1
“I see.”
Tiba-tiba seorang personil wedding organizer mendekati pasangan pengantin itu dan berkata, “Sudah waktunya untuk berangkat ke gereja. Mempelai wanita silakan merangkul lengan mempelai pria dan berjalan pelan-pelan keluar rumah. Senyum yang ceria, ya. Karena akan di-shoot kamera foto dan video.”
Kedua orang di depannya mengangguk. Lalu dengan canggung sang mempelai wanita merangkul lengan pasangannya. Jantung Samuel berdegup kencang. Dia merasa gugup sekaligus senang dapat berada begitu dekat dengan Aileen.
Tadi sewaktu ritual membuka kerudung pengantin wanita dan mencium kedua pipinya, hati Samuel serasa melayang di awang-awang. Dirinya tak dapat mengelak perasaannya lagi. Tanpa disadarinya, Aileen Benyamin telah menempati posisi spesial dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Sementara itu sang mempelai wanita justru tak henti-hentinya membayangkan bahwa pria yang sedang bersamanya kini adalah James. Hatinya merasa bersalah karena tak berdaya mencegah Samuel mencium kedua pipinya tadi.
Maafkan aku ya, James, cetusnya dalam hati. Tadi itu sekadar ciuman buat ritual membuka kerudung pengantin saja, kok. Adegan standar buat pengambilan foto dan video pengantin.
Kemudian dikuatkannya hatinya untuk berjalan bersama Samuel menuju ke mobil pengantin yang akan membawa mereka berdua ke gereja. Tempat sakral dimana akan terjadi pengesahan perkawinan secara agama dan hukum negara.
Ampuni aku, Tuhan Yesus, batin gadis itu pedih. Nanti aku terpaksa menandatangani akta pernikahan di hadapanMu. Kau tahu hal itu terpaksa kulakukan. Kau tahu aku tidak punya pilihan lain karena ingin berbakti kepada orang tua. Kau tahu aku tidak pernah mencintai Samuel Manasye dan bahkan belum mengenalnya saat dijodohkan padaku….
“Lagi mikirin apa, Leen?” tanya Samuel tiba-tiba. Mereka berdua sudah berada di dalam mobil pengantin. “Kamu gugupkah?”
Aileen mengangguk mengiyakan. Dia lalu berkata setengah berbisik, “Aku…aku takut mengikuti pemberkatan di gereja, Sam.”
“Oya? Kenapa?” tanya calon suaminya itu penasaran.
Si gadis menghembuskan napas panjang. “Aku merasa…anu…berdosa sekali. Karena…karena menikah pura-pura di rumah Tuhan,” ujarnya lirih.
Samuel tersentak. Bagiku sekarang ini pernikahan kita sudah tidak pura-pura lagi, Aileen Benyamin, aku pemuda itu dalam hati. Karena aku ternyata sudah jatuh hati padamu….
__ADS_1