
Untunglah selama hampir dua bulan Aileen tinggal di rumah itu, tak pernah sekalipun orang tua maupun mertuanya datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Bahkan mereka jarang sekali muncul.
Justru Aileen dan Samuel yang seminggu sekali rutin datang mengunjungi mereka. Hari Sabtu siang merupakan jadwal bagi pasangan suami-istri itu berkunjung ke rumah keluarga Manasye. Lalu keesokan harinya mereka bertandang ke kediaman keluarga Benyamin.
Kehidupan pasangan itu bisa dikata cukup harmonis. Jarang sekali terjadi percekcokan. Kalau salah satu pihak sedang tidak senang hati, yang lain cenderung bersikap diam demi tak memperkeruh persoalan. Tak sampai keesokan harinya, pihak yang tidak senang hati itu mulai luluh dan mengajak bicara kembali pasangannya.
Bahkan Aileen lambat-laun merasa lebih dapat berkomunikasi dengan suaminya daripada kekasihnya. Kalau keinginan James tidak dipenuhi, pemuda itu langsung ngambek, tidak mempedulikan Aileen, dan ujung-ujungnya berlagak mau memesan ojek online untuk mengantarnya pergi ke restoran. Akhirnya perempuan itu terpaksa memenuhi keinginan pria yang dicintainya itu.
Bagaimanapun juga dia merasa bersalah telah membuat James berada pada posisi yang sulit. Merelakan kekasihnya menikah dan tinggal seatap dengan pria tak dikenal. Lalu mereka harus menjalin hubungan cinta secara sembunyi-sembunyi dengan cara tak pergi ke tempat umum.
Aileen berusaha memahami perasaan pemuda itu. Oleh karenanya dia selalu bersikap mengalah dan membiarkan James menyentuh dirinya sesukanya. Melihat kekasihnya tersebut tertawa senang merupakan kebahagiaan tersendiri bagi perempuan naif itu.
***
Pada suatu hari Tina pergi ke mal untuk mengambil pesanan kain gorden rumahnya dan rumah putranya. Kain-kain itu diimpor langsung dari Belanda sehingga membutuhkan waktu agak lama untuk tiba di negeri ini. Menurut informasi dari customer service yang meneleponnya kemarin sore, kain-kain itu sudah dijahit menjadi gorden-gorden sesuai dengan ukuran yang dulu diberikannya. Tina ditawari untuk mengambilnya sendiri di counter atau menggunakan jasa home delivery dengan biaya tertentu.
Ibu Samuel itu memutuskan untuk mengambil sendiri gorden pesanannya. Tujuannya selain untuk refreshing sebentar di mal, juga supaya dia bisa langsung komplain pada toko tersebut jika barang yang dipesannya tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Untunglah toko tersebut benar-benar profesional. Tina puas sekali dengan gorden-gorden hasil karyanya. Jahitannya halus tanpa cela. Motif dan bentuknya pun sesuai pesanan wanita itu.
__ADS_1
“Kalau begitu kain-kain gorden ini saya bawa langsung ya, Mbak,” kata wanita itu pada pelayan toko yang seorang perempuan muda.
Dikeluarkannya kartu kredit platinum miliknya untuk melunasi pembayaran. Pelayan toko menerimanya sambil tersenyum manis. Dia menanyakan apakah tidak sebaiknya gorden-gorden tersebut diantar saja ke rumah Tina oleh pegawai mereka yang bertugas memasangnya di lokasi.
“Oh, tidak usah,” tolak perempuan itu tegas. “Gorden-gorden ini saya bawa pulang saja sekarang. Nanti biar pegawai Anda datang ke rumah saya langsung untuk memasangnya. Kira-kira besok jam dua siang bisa?”
Pelayan toko tersebut mengangguk setuju. Dia lalu menggesek kartu kredit pelanggan setianya itu pada mesin yang tak lama kemudian menyetujui transaksi tersebut. Perempuan muda itu lalu memberikan instruksi pada rekannya yang laki-laki untuk mengemas kain-kain gorden tersebut dengan baik karena akan dibawa pulang langsung oleh si pelanggan.
“Sepertinya saya butuh bantuan Mas ini juga untuk membawakan gorden-gorden itu ke mobil saya di tempat parkir,” kata Tina lagi. “Soalnya sopir saya takkan sanggup membawanya sendirian.”
“Siap, Bu,” jawab Mas yang dimaksud sigap. Begitu selesai mengemas, dia bersama-sama dengan sopir pribadi Tina langsung membawa barang-barang tersebut menuju ke mobil mewah milik wanita itu.
Anak itu pasti masih sibuk di kantor, batin Tina mengambil kesimpulan. Jadi istrinya yang menunggui rumah sendirian. Aku takkan memberitahu tentang kedatanganku. Supaya bisa kulihat dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya dilakukan perempuan itu kalau anakku tidak ada di rumah. Dia selalu berkata sibuk menerjemahkan novel online. Tidak pernah pergi kemana-mana. Akan kubuktikan apa benar perkataannya itu bisa dipercaya!
***
Sementara itu Aileen sendiri baru selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dia lalu membersihkan rambut dan tubuhnya di kamar mandi. Dipakainya sabun cair kesukaan James karena harum sekali baunya. Pemuda itu berjanji akan datang menemuinya hari ini.
Setelah mengeringkan rambutnya dan berdandan rapi, perempuan itu membuat coklat hangat untuk dirinya sendiri. Dia duduk santai di atas sofa ruang keluarga. Diteguknya pelan-pelan minuman kesukaannya itu.
__ADS_1
“Ah, enak sekali minuman coklat brand ini,” katanya puas. “Padahal aku coba-coba saja membelinya di toko online. Ternyata iklannya tidak bohong. Kalau stokku mau habis nanti, aku beli lagi, ah.”
Diteguknya lagi minuman coklat hangat itu. Dinikmatinya sungguh-sungguh cairan kental manis nan hangat itu masuk ke dalam mulut dan melewati kerongkongannya. Ketika minuman itu menyentuh perutnya, bagian tubuhnya itu terasa hangat dan melegakan. Aileen menghela napas dalam-dalam. Dia benar-benar puas dengan kelezatan minuman tersebut.
Hari ini dia memutuskan untuk tidak bekerja. Diambilnya cuti satu hari. Toh, kemarin-kemarin dia sudah menerjemahkan novel melebihi kuota yang harus diselesaikannya dalam minggu itu. Kini saatnya aku bersantai sejenak menikmati hidup, putus Aileen dalam hati.
Ting-tong!
Terdengar suara bel pintu pagar berbunyi. Perempuan itu langsung meletakkan gelas minumannya di atas meja. Dia mengambil tisu untuk mengelap mulutnya. Setelah membuang benda itu di tempat sampah, sang nyonya rumah bergegas meraih kunci pagar yang tergantung di dinding ruang tamu. Pria pujaannya sudah datang. Dia tak sabar lagi bertatap muka dan bercengkerama dengan pemuda itu!
James langsung masuk ke dalam rumah begitu pintu pagar dibuka oleh kekasihnya. Ojek online yang membawanya sudah disuruhnya pergi begitu mereka tiba di rumah berpagar putih tersebut. Aileen segera mengunci kembali pintu pagar dan bergegas menyusul kekasihnya masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di ruang tamu, pasangan yang tengah dimabuk asmara itu saling berpelukan meluapkan kerinduan mereka. Aileen berpura-pura merajuk karena sudah tiga hari kekasihnya tidak datang.
“Restoran lagi ramai-ramainya, Sayangku,” ucap James beralasan. “Kan sekarang tanggal muda. Orang lagi banyak duit. Mal penuh lagi. Tempat-tempat makan banyak pembeli.”
Dicubitnya lembut hidung mungil kekasihnya. Aileen berpura-pura menjerit kesakitan. Tingkahnya itu justru membuat James merasa gemas. Diciuminya bibir perempuan itu penuh gelora. Tak lupa tangannya dengan lincah mulai meraba-raba kemana-mana.
Aileen membalas ciuman itu tak kalah hot-nya. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu. Perlahan dilepaskannya bibirnya lalu berkata, “Aku masak makanan kesukaanmu, lho. Gurami penyet. Sambalnya kubikin pedas sekali. Cobain, deh. Enak mana sama masakan kokimu di restoran.”
__ADS_1