MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
ASSENSIO MEMBAIK


__ADS_3

Pagi menyingsing, langit mendung berselimut awan hitam. Hujan deras membasahi kota Barcelona.


Assensio sedari tadi sudah membuka matanya. Saat matanya terjaga, bagaikan mimpi ia melihat wajah cantik yang tertidur di kursi menyandarkan wajahnya pada kasur ranjang sambil menggenggam jemari tangan Assensio.


Saat mata Assensio terbuka sejenak ia lupa dengan keadaan nya, namun senyuman terlukis di wajahnya setelah ingatannya kembali seutuhnya. Assensio membawa tangan nya mengusap lembut wajah istrinya. "Kau masih asing bagi ku, tapi aku tahu aku mencintaimu sayang. Aku bisa merasakannya. Bersabarlah semuanya akan kembali seperti semula".


Merasakan seperti ada yang menyentuh wajahnya, Tatiana perlahan membuka matanya. "Aw.." Tatiana meringis saat hendak menegakkan posisi duduknya.


"Ada apa Tatiana?", tanya Assensio melihat Tatiana seperti kesakitan begitu.


"Badanku sakit semua. Sepertinya karena posisi tidur ku", jawab Tatiana dengan wajah menahan sakit.


"Aku kan sudah menyuruh mu untuk tidur di ranjang, kenapa kau bandel sekali. Kau masih memaksakan diri mu untuk tidur seperti tadi. Kau juga butuh istirahat Tatiana".


"Aku ingin dekat dengan mu Assensio".


Tok tokk tokk


"Masuk!", jawab Tatiana sambil berdiri dari tempat duduknya.


Ceklek.. terlihat perawat membuka pintu.


"Selamat pagi", ucap dokter Arthur tersenyum.


"Pagi... Kebetulan sekali dokter sudah datang. Aku sudah tidak betah tinggal di ruangan ini dengan alat-alat ini. Aku ingin pindah di kamar rawat inap agar Istri ku bisa istirahat dengan tenang", ucap Assensio.


"Sayang, biarkan dokter memeriksa keadaan mu dulu", ucap Tatiana tersenyum tidak enak pada dokter Arthur karena suaminya sangat ketus.


Dokter Arthur tersenyum mendengar keluhan pasien. "Tidak apa-apa nona, berada ruangan ini memang sangat tidak nyaman, berbeda jika dirawat di ruangan biasa bisa berkumpul dengan keluarga. Bukan begitu tuan Assensio?"


"Ya itu maksudku. Di ruangan ini aku seperti orang mau mati saja. Ya kecuali jika kondisi seperti kemarin masih kritis", jawab Assensio.


Terdengar dokter memberi perintah perawat untuk melepaskan semua alat bantu medis di tubuh Assensio. "Kondisi tuan sudah jauh membaik, sekarang tinggal pemulihan saja. Namun tangan kiri tuan tetap menggunakan Ars sling penyanggah tangan tuan Assensio karena mengalami retak tulang yang menghubungkan tulang dada dan bahu. Setelah luka luar tuan mengering tuan harus di terapi untuk melatih tulang dan sendi agar tidak kaku".


Tatiana tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya mendengar keterangan dokter yang menyatakan kondisi Assensio semakin membaik.


"Sebentar lagi tuan Assensio bisa pindah ke kamar rawat inap", ucap dokter sebelum keluar ruangan itu.

__ADS_1


Aku senang sekali mendengarnya sayang", ucap Tatiana tersenyum sambil menggenggam erat jemari tangan Assensio.


*


"Aku senang melihat kondisi mu cepat membaik Assensio", ucap Alvaro siang harinya ia dan Lethicia melihat Assensio yang sudah di pindahkan ke kamar rawat inap.


Wajah Assensio terlihat jauh lebih segar, setelah di pindahkan dari ruang ICU. Ia bahkan sudah bisa duduk meskipun tangan sebelah kiri masih menggunakan penyangga.


"Berkat istriku Tatiana kak, aku lebih semangat untuk sembuh biar bisa pulang dan melakukan pemulihan di rumah saja", jawab Assensio menggenggam erat tangan Tatiana yang duduk di tepi tempat tidur nya.


Alvaro dan Lethicia senang melihatnya. "Assen... Setelah ini aku dan Lethicia akan pulang ke mansion, karena kondisi mu dan Tatiana sudah membaik. Kasihan papa pasti kesepian".


"Bibi Sofia juga masih berduka setelah kepergian paman Pedro", ujar Alvaro.


Huhh.. Assensio menarik nafasnya dalam-dalam. "Iya kak, aku tahu. Aku sangat sedikit mengetahui kenyataan paman Pedro tewas karena menyelamatkan aku. Saat aku keluar nanti aku akan menemui bajingan Leonardo itu di penjara", ujar Assensio sambil mengetatkan rahangnya menahan emosi.


"Tenang lah Assensio. Pengacara kita sudah mengawal kasus Leonardo. Jika ia dinyatakan bersalah dan melakukan perencanaan ia akan dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Kau tidak udah banyak berpikir tentang Leonardo, yang terpenting kau cepat pulih dan keluar dari rumah sakit. Aku akan mengadakan penyambutan mu di perusahaan".


"Hector juga sudah melaporkan kondisi mu sekarang, untuk pembatalan tentang kematian mu".


"Sekarang aku dan Lethicia akan pulang ke mansion. Kau dan Tatiana tidak perlu kuatir, aku sudah menempatkan penjagaan ketat di depan kamar kalian".


*


"Ya ampun Tatiana aku tidak berminat makanan seperti itu. Apa tidak ada makanan yang lainnya di rumah sakit ini. Kalau makan bubur tidak enak itu lama-lama aku bisa dehidrasi karena membuat ku muntah", ketus Assensio saat Tatiana menyuapkan bubuk nasi yang di berikan pihak rumah sakit untuk Assensio.


"Tapi kau belum boleh makan makanan yang lainnya sayang. Ayo makan satu dua sendok saja kemudian kau harus minum obat", ujar Tatiana membujuk suaminya.


"Aku tidak mau. Rasanya sangat tidak enak. Apa mereka ingin meracuni ku lewat makanan seperti itu", ketus Assensio menolak ketika Tatiana menyendokan bubur nasi ke mulut Assensio.


Huhhh.. Tatiana terlihat hilang kesabaran nya.


"Baiklah sekarang apa yang harus aku lakukan supaya kau mau memakan bubur ini?", ucap Tatiana jengah. Ia lelah membujuk suaminya.


Tiba-tiba muncul ide jahil Assensio mengerjai istrinya itu.


"Aku mau memakan bubur itu tapi satu sendok yang ku telan satu ciuman dari mu untuk ku".

__ADS_1


Tatiana melebarkan matanya mendengar permintaan Assensio. "Tangan mu masih sakit Assen, aku tidak mau menyakiti mu seperti kemarin".


"Ya sudah kalau kau tidak mau, aku tidak mau makan bubur beracun itu!".


"Huuhh ...Kau ini menyulitkan ku saja", seru Tatiana tidak berminat sambil menyuapkan bubuk ke mulut Assensio.


Assensio langsung menelannya. Dan Tatiana menuruti permintaan suaminya itu mengecup kening, mata hingga bibir suaminya.


Ternyata Assensio malah menghabiskan bubur nya. Hingga sendok terakhir. Tatiana mencium bibirnya. Untuk kali ini Assensio menahan tengkuk Tatiana agar lebih lama mencium nya. Bahkan Assensio me*umat bibir Tatiana dengan hasrat yang menggebu. Lidahnya menerobos masuk hingga menyapu rongga mulut Tatiana.


tubuh Tatiana bergetar hebat menahan sensasi ciuman Assensio, seakan sudah bertahun-tahun tidak merasakan sentuhan itu.


"Kita bisa melakukannya sekarang sayang", bisik Assensio di telinga Tatiana.


"Sstt.. terdengar suara desisan dari mulut Tatiana.


"Yang benar saja Assensio, apa kau gila. Tubuh mu sedang sakit, luka mu bisa berdarah lagi nanti", seru Tatiana sambil melototkan matanya.


"Kau di atas, tidak akan menyakiti ku", seloroh Assensio.


"Aku tidak mau. Yang benar saja".


"Alright, kalau begitu kita lanjutkan lagi berciuman nya", ucap Assensio sambil menarik tekuk Tatiana dan me*umat bibir ranum yang terbuka menantang itu.


Tatiana yang duduk di tepi tempat tidur, mencondongkan tubuhnya menindih bahu bagian kanan Assensio. Keduanya berciuman panas, liar dan mesra meluapkan kerinduan dan hasrat yang tiba-tiba menguasai keduanya.


"Akh..suara de*ahan lolos dari mulut Tatiana.


Ceklek..


...***...


PENGGANGGU DATANG WKWKWK


*


MUMPUNG HARI SENIN BAGI VOTENYA DONG πŸ™

__ADS_1


__ADS_2