
Hmm, kelihatannya enak, batinnya melihat penampakan isi dalam panci tersebut. Tim burung dara dengan kuah yang berwarna kecoklatan. Di dalamnya terdapat jahe dan bahan-bahan herbal lainnya yang belum pernah dikonsumsi oleh Aileen.
Ah, yang penting mamanya Sam ini sudah beritikad baik memasakkan makanan sehat buatku, batin perempuan itu positive thinking.
Diambilnya mangkuk kosong dan sendok sup besar dari dalam lemari yang berisi perlengkapan makan. Dipindahkannya sebagian isi tim burung dara itu ke dalam mangkuk tersebut. Dipersilakannya Tina untuk duduk menemaninya di meja makan. Setelah itu dia mulai mencicipi masakan sehat buatan ibu mertuanya tersebut.
“Enak sekali, Ma,” puji perempuan itu tulus.
Hati Tina menjadi berbunga-bunga. Gembira sekali rasanya jerih payahnya dihargai sedemikian rupa. Dengan perasaan sukacita dia berkata, “Syukurlah kamu menyukainya, Aileen. Mama kuatir kalau kamu nggak suka, nanti siapa yang akan menghabiskannya?”
“Aileen suka kok, Ma,” jawab sang menantu bersemangat. “Akan kumakan sampai habis.”
Ibu mertuanya senang sekali. Diperhatikannya sang menantu menyantap masakan buatannya dengan lahap. Tiba-tiba raut wajah Tina berubah sedih. Sorot matanya tampak sendu.
“Leen, terus terang Mama merasa sedih waktu tahu kandunganmu ternyata blighted ovum,” ucap wanita itu jujur. “Padahal Mama dan Papa sudah telanjur senang sekali akan segera menimang cucu. Tapi ternyata kehendak Yang Maha Kuasa di luar dugaan….”
Sepasang mata Tina berkaca-kaca. Dia lalu mengambil sehelai tisu di atas meja makan. Dihapusnya air matanya yang hampir mengalir. Aileen terpaku menatap sang ibu mertua.
Ya Tuhan, batinnya tersentuh. Rupanya musibah yang kualami telah menyakiti hati banyak orang. Ingin sekali aku menebusnya dengan memberi ibu mertuaku ini cucu yang memang keturunan keluarga Manasye. Tapi bagaimana caranya? pikirnya kalut.
Aileen teringat akan pengakuan Samuel tentang dirinya yang impoten.Wanita itu menggigit bibirnya getir.
Apa yang harus kulakukan demi menebus penderitaan yang kuakibatkan pada orang tua Sam? batinnya pedih. Mereka selama ini cukup baik padaku. Meski Mama Tina ini agak kepo, tapi sebenarnya sikapnya itu merupakan bentuk perhatiannya padaku.
“Maafkan Mama sudah mengungkit-ungkit peristiwa menyedihkan yang terjadi padamu, Leen,” ujar Tina kemudian.
__ADS_1
Dihelanya napas dalam-dalam. Tampak sekali dia berusaha menegarkan hati untuk berbicara dengan sang menantu.
“Kamu dan Sam yang tabah, ya,” nasihat Tina sambil menepuk lembut pundak menantunya tersebut. “Selama kalian berdua rajin berdoa dan berusaha, pasti akan diberi jalan keluar oleh Tuhan.”
Aileen mengangguk patuh. Diputuskannya untuk tak berkomentar apapun. Takut malah salah bicara dan membuat persoalan menjadi runyam.
Barangkali aku harus menanyakan pada Sam apa yang sebenarnya terjadi, cetusnya dalam hati. Sejak kapan dia mengalami impotensi dan apakah penyebabnya. Dengan begitu aku jadi bisa membantu mencarikan solusi yang terbaik buat dia. Kasihan sekali. Pria sebaik Sam harus mengalami malapetaka sebesar itu. Sebaliknya pria brengsek seperti James malah bebas menanamkan benihnya ke rahim perempuan manapun yang dia suka!
***
“Sam,” ucap Aileen malam harinya di atas tempat tidur. “Ada hal penting yang ingin kubicarakan. Tapi ini sensitif sekali. Mohon jangan tersinggung, ya.”
Pasti dia ingin bertanya tentang impotensi yang kualami, batin Samuel tidak enak. Diberanikannya dirinya untuk menatap istrinya itu. Sedangkan lidahnya sendiri terasa kelu. Tak sanggup berkata-kata.
Melihat suaminya menatapnya tajam tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Aileen memberanikan diri untuk melanjutkan ucapannya.
Aileen menghentikan kata-katanya sejenak. Dia ingin tahu reaksi suaminya. Tapi Samuel rupanya masih diam saja.
Akhirnya perempuan itu lanjut berbicara, “Sam, bagaimana kalau kita berupaya semaksimal mungkin agar perkawinan ini berhasil? Lupakan perjanjian pernikahan yang dulu kita rencanakan. Maksudku yang tentang aku yang berpura-pura hamil anakmu, padahal nantinya akan mengadopsi anak orang lain. Bagaimana kalau kita mempunyai anak sendiri? Caranya tentu saja dengan menyembuhkan…ehm…gangguan yang kamu alami.”
Suaminya yang sejak tadi diam saja akhirnya berkata, “Aku sudah pernah melakukannya, Leen. Dulu sewaktu masih kuliah di Ohio. Periksa dengan dokter spesialis andrologi dan bahkan konseling rutin dengan psikiater. Tapi hasilnya nihil.”
“Oh, sampai melibatkan psikiater segala?” tanya Aileen terperanjat.
Samuel mengangguk mengiyakan. “Sampai enam bulan,” akunya terus terang. “Lalu kuhentikan karena tak kunjung sembuh. Akhirnya. aku belajar menerima keadaanku apa adanya. Tak ada seorang pun yang kuberitahu tentang kondisiku ini, Leen. Cuma kamu. Karena aku tak ingin kamu menyimpan harapan semu padaku….”
__ADS_1
Sang istri tak patah arang. Dia lalu menanyakan hal-ikhwal gangguan yang menimpa suaminya tersebut. Dengan lapang dada pria itu bercerita.
Rupanya waktu masih menempuh studi di Ohio beberapa tahun yang lalu, Samuel pernah menjalin hubungan serius dengan Angela, seorang mahasiwi berkebangsaan Indonesia juga. Suatu ketika sang pemuda memergoki gadis itu tengah berhubungan intim dengan mahasiswa lain.
Samuel yang patah hati tak bernyali untuk melabrak kedua orang itu. Dengan gontai dia berjalan meninggalkan apartemen kekasihnya. Pikirannya kacau balau. Dirinya merasa seperti sedang bermimpi buruk. Pemuda itu berjalan terus tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya.
Tiba-tiba brakkk! Sebuah mobil menghantam tubuhnya hingga terpelanting jatuh di jalan raya. Samuel tak sadarkan diri.
Saat siuman, pemuda itu menemukan dirinya sudah dirawat di rumah sakit. Orang bule yang menabraknya bertanggung jawab dengan membiayai seluruh pengobatannya. Waktu itu Samuel sudah tiga hari mengalami koma.
Merasa dirinya turut bersalah, pemuda itu tak memperpanjang kasus tersebut. Dia juga tak memberitahu orang tuanya di Indonesia perihal kecelakaan yang menimpanya.
Satu bulan kemudian Samuel dinyatakan sembuh. Akan tetapi dia merasakan keanehan pada kejantanannya. Pemuda itu dianjurkan untuk melakukan rawat jalan dengan dokter spesialis andrologi. Ternyata tidak ditemukan penyakit apapun pada alat kelaminnya. Kemudian dia disarankan untuk menjalani konseling dengan psikiater.
Ternyata dokter jiwa tersebut mendiagnosis Samuel menderita gangguan psikologis yang menyebabkan dirinya mengalami impotensi. Perselingkuhan kekasihnya dengan pria lain membuat harga diri Samuel tercabik-cabik. Kepengecutannya untuk tidak melabrak kedua orang yang tengah melakukan perbuatan zinah itu membuat dirinya merasa bukanlah laki-laki seutuhnya. Trauma itulah yang kemudian berdampak buruk terhadap keperkasaan Samuel.
Mendengar kisah suaminya yang tragis, Aileen jatuh iba. Disentuhnya tangan pria itu.
“Aku turut prihatin dengan keadaanmu, Sam,” ucap perempuan itu tulus. “Percayalah, aku akan membantumu mencari jalan untuk sembuh.”
Suaminya mendesah. “Aku sudah nggak berminat untuk menjalani konseling dengan psikiater lagi, Leen. Nggak mudah bagiku membuka luka lama di hadapan orang lain. Kamu merupakan pengecualian. Karena aku takut harapanmu terhadap perkawinan kita melambung semakin jauh….”
Tiba-tiba bibir Samuel terasa hangat. Pria itu tersentak. Aileen tengah menciumi bibirnya!
Terdorong oleh rasa cintanya yang besar pada istrinya itu, lidah Samuel akhirnya turut menari-nari dengan lincahnya. Lalu pria itu merasakan tangan Aileen mulai meraba-raba bagian sensitif tubuhnya. Dia diam saja. Berusaha menikmati sentuhan-sentuhan sang istri.
__ADS_1
Hingga akhirnya tangan lembut itu mulai nakal bermain-main di area keperkasaan Samuel. Ternyata benar, gumam Aileen dalam hati. Punya Sam tidak bereaksi sama sekali. Ah, sepertinya aku harus bekerja keras memulihkan keperkasaan suamiku ini. Tak apalah. Lebih baik berupaya semaksimal mungkin untuk pria sebaik Sam dibandingkan pria hidung belang seperti James!
***