MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
Bab 6


__ADS_3

Setelah Nara menjawab tawaran itu, akhirnya ia pulang diantar oleh Rey. Diperjalanan, Nara terlihat tegang karena telah menerima permintaan menjadi calon tunangan Rey meski hanya berpura-pura. Ponsel Nara berbunyi, ternyata Mama yang menelepon. Mama meminta Nara agar cepat pulang karena sudah larut malam. Rey mencuri-curi pandang kearah Nara, ia juga sedikit iseng kepada gadis itu dengan melihat wajah lelahnya dari kaca spion dalam mobil. Rey tersenyum tipis saat memandangi wajah gadis yang super lucu itu. Setelah sampai di depan rumahnya, Rey membangunkan Nara yang masih tertidur.


"Hei, gadis tengil, bangun!!"ucap Rey dengan mengeraskan suara.


Nara tak juga terbangun dari tidurnya. Dengan terpaksa, Rey ingin memegang pipi gadis itu untuk memaksanya bangun. Wajah Rey mendekat ke arah Nara. Belum sempat tangannya menyentuh, gadis itu membuka matanya dan Kaget karena wajah Rey berada didepannya. Nara spontan menampar Rey.


Plak ...


"Hei, kamu mau apa? Dasar mesum!!" bentak Nara.


"Gila kamu, ya. Saya ini dari tadi membangunkan kamu tapi kamu tak juga sadar," jawab Rey sambil memegang pipinya. "Malah kamu tampar saya, udah buruan turun ..."


Nara pun turun dari mobil lalu berdiri menunggu Rey pulang.


Apa aku tadi menampar cowok aneh itu, ya. Siapa suruh dia dekat-dekat, tapi kok kayaknya aku jadi merasa bersalah gini. Ah, enggak bukan kamu yang salah Nara, okey.


Nara masuk ke dalam rumah. Mama melihat anak gadisnya diantar oleh seorang pria langsung meminta Nara untuk bercerita siapa pria itu.


"Nara, tunggu dulu. Mama mau ngobrol sebentar," ucap Mama.


"Ya, Ma. Mau ngobrol apa?" tanya Nara sambil menutup mulutnya yang sedang menguap.


"Siapa cowok tampan itu? Kenapa hampir tiap hari kamu berdua sama dia ...," bisik Mama.


"Dialah yang membantu kita, Ma. Dia Bos di perusahaan tempat Nara kerja, dia juga yang berikan Nara pinjaman uang untuk melunasi utang Papa," jawab Nara.


Mama terdiam, Nara pun melanjutkan langkah kakinya menuju kamar. Begitu sampai di kamar, Nara mengganti pakaiannya dengan piyama. Lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil menatap langit-langit kamar. Ia masih memikirkan tentang jawabannya yang menyetujui surat perjanjian berpura-pura menjadi calon tunangan Rey.


"Apa yang sedang terjadi? Apa aku sadar mengiyakan tawaran cowok aneh itu?" gumam Nara.


"Kenapa aku terus memikirkan Rey, aarrggghh!! Sadar Nara sadar ...," lirih Nara sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.


Tiba-tiba ponsel Nara berbunyi, ada pesan whatsapp dari Rey masuk ke ponselnya. Nara terbengong karena belum pernah mendapat pesan dari pria yang cukup dingin itu.


[Rey : Hei, gadis tengil. Sudah puas menamparku tadi?]


"Hahaha, kenapa dia nanya begitu," ucap Nara. "Tumben ngechat, biasanha gak pernah."


[Nara : Saya tidak sengaja, salah kamu sendiri. Otak mesum!!]


[Rey : Awas kamu ya, besok saya balas!!]


Nara tertawa girang membaca pesan dari Rey yang sangat kesal ketika Nara mengejeknya.

__ADS_1


**


Suara kicauan burung membangunkan Nara dari tidurnya. Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB, Nara sedikit buru-buru berangkat ke kantor. Untuk menghindari berjumap dengan Rey. Begitu keluar dari rumah, terlihat Rey sudah menunggu gadis itu sambil membawa plastik berisi sarapan untuk Nara.


Duh, kenapa dia udah muncul aja. Udah kayak jelangkung aja tu cowok. Datang gak diundang ...


"Kenapa masih diam di sana? Yang ada kamu telat nanti, gak usah mikir yang aneh-aneh. Niat aku baik," ucap Rey sambil membuka pintu mobil.


Nara masih saja berdiam diri. Rey membunyikan klakson berkali-kali agar Nara segera masuk.


Titt ... tittt ... tiitt ...


"Hei, berisik tau!!" bentak Nara.


"Kamu mau ini?" tanya Nara sambil menunjukkan kepalan tangannya kearah Rey.


"Hehe, ampun gadis tengil yang menggemaskan ...," lirih Rey.


Dia bilang aku menggemaskan? Ah, yang bener aja cowok aneh ini udah mulai terkena saraf otaknya.


"Hei, buruan masuk!!" ucap Rey. "Mau aku klakson lagi?"


Nara segera masuk ke dalam mobil. Nara tiba-tiba merasa gugup didekat pria super dingin itu saat ia menyetel lagu janji suci. Nara menekan tombol lanjut untuk mengganti lagu yang lain.


"Kenapa ditukar lagunya?" tanya Rey.


"Tapi saya mau mutar lagu itu," ucap Rey menekan tombol balik ke lagu awal.


Mereka berdua berdebat saling mengganti lagu yang diputar, sampai akhirnya tak sengaja tangan Nara dan Rey bersentuhan dan mereka pun saling bertatapan. Rey mendekatkan wajahnya kearah Nara, spontan gadis itu memukul kening Rey dengan cukup keras.


"Hei, sakit tau!!" bentak Rey.


"Ngapain megang-megang tangan terus muka kamu dekat ke arah saya? Berani macam-macam? Nih, saya tonjok sekalian," ucap Nara dengan sedikit kesal.


"Ini dirambut kamu ada yang nyangkut," jawab Rey.


Rey memperbaiki rambut Nara yang tersangkut dengan jepitan diatas kepalanya. Nara terdiam sangking canggung dan malunya karena telah menuduh untuk yang kedua kalinya.


"Saya minta maaf ...," lirih Nara.


"Tidak masalah, kamu kalau lagi marah terlihat cantik," jawab Rey.


Mulai deh ni anak gombal, dasar cowok pandai banget berkata-kata.

__ADS_1


Setelah sampai di parkiran kantor, Nara segera membuka pintu. Tiba-tiba Rey menarik tangan gadis itu hingga membuat Nara kaget.


"Ada apa, Rey?" tanya Nara.


"Nanti malam saya ajak kamu makan malam," jawab Rey.


Nara turun dari mobil dan berjalan memasuki kantor.


"Jam 7 saya jemput kamu, Kinara!!" teriak Rey.


"Apaan sih pakai teriak segala, yang ada orang pada tau nanti ...," lirih Nara.


Begitu sampai di ruangan, Nara langsung mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk dihadapannya. Clara Sekretaris Rey menghampiri Nara, ia sedikit curiga tentang hubungannya dengan Rey.


"Eh, Clara ...," sapa Nara. "Tumben ke meja saya."


"Kamu ada hubungan apa dengan Rey?" tanya Clara dengan rasa penasaran. "Sepertinya ada sesuatu yang kalian sembunyikan."


"Hubungan? Ya gak mungkin ...," lirih Nara. "Saya hanya sebatas rekan kerja, dia minta bantuan saya, ya saya tolong semampu saya."


"Bener kalian tidak pacaran?" tanya Clara sekali lagi. "Awas jika itu benar terjadi, Nara ..."


Clara pergi meninggalkan ruangan kerja Nara.


"Dasar, sama-sama aneh. Cocok tu si Rey dengan Clara," ucap Nara.


Setelah pekerjaan selesai, Nara bergegas ke kantin untuk makan siang. Sambil berjalan, Nara mengeluarkan ponselnya untuk membaca pesan whatsapp dari Rey. Baru saja sampai di kantin, tak sengaja Nara bertemu dengan Willy. Ia tersentak kaget dengan keberadaan Willy yang merupakan pria yang sedang dekat dengannya muncul dihadapan Nara.


"Zea ...," sapa Willy.


"Willy, ngapain disini?" tanya Nara.


"Aku jalan-jalan aja, sekalian mau bertemu dengan Abangku, Ze ...," jawab Willy. "Ntar malam sibuk?"


"Malam ini ada janji sama atasan aku, Will. Lain waktu aja gimana?" balas Nara.


"Boleh, aku whatsapp aja nanti ya. Bye ...," ucap Willy.


Willy pun pergi dari tempat itu. Tak lama kemudian, Rey datang menghampiri Nara.


"Sudah lama di sini?" tanya Rey.


"Belum, tadi saya habis bertemu dengan cowok yang saya suka, Rey. Saya senang banget," ucap Nara.

__ADS_1


"Terus saya harus peduli gitu? Gak penting banget," jawab Rey.


"Hih, dasar es batu!!" ucap Nara dengan kesal.


__ADS_2