
Langit semakin gelap, malam semakin kelam..
Seakan tiada lelahnya, Seharian Tatiana bersama dengan Nikolas yang tak bergerak sedikitpun. Namun Tatiana terus saja mengajaknya untuk berbicara. Mulai dari pertemuan pertama mereka hingga incident kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawa mereka, dimana sebelumnya Nikolas mengatakan anggap saja perjalanan mereka ke Barcelona sebagai bulan madu yang tertunda.
Tatiana juga membacakan sebuah buku tentang rumah tangga. Menikah Untuk Bahagia.
Bacaan ringan namun syarat pengetahuan. Bahkan ia tertawa saat membacakan sebuah quote "Jangan bandingkan pernikahanmu dengan pernikahan orang lain. Setiap rumah tangga pasti ada kesulitannya masing-masing" .
"Bukankah itu sangat benar, Nik. Apa kau setuju dengan ku?", ucap Tatiana tertawa.
Tatiana melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Sayang sekarang sudah malam. Kita sudah bersama seharian ini. Kau harus istirahat begitupun aku yang masih terasa sakit di sekujur tubuhku".
"Hm.. tentu saja aku masih akan berada di sini, jika kau membuka mata mu sekarang. Tetapi aku tahu itu tidak akan mungkin kan?", ucap Tatiana sambil menyandarkan kepalanya pada dada Nikolas dan menggenggam jemari tangannya sebelah kanan.
"Besok aku janji menemani mu lagi, Nik. Tapi kau harus berjanji untuk berjuang membuka matamu", ucap Tatiana dengan suara lembut. Tidak ada balasan dari jemari tangan Nikolas.
Tatiana mengangkat kepalanya dari dada Nikolas, ia mencium kepala suaminya. "Aku mencintaimu sepenuh hatiku, Nikolas", bisik Tatiana di telinga suaminya sementara jemari tangan nya mengusap lembut punggung tangan Nikolas yang tak merespon sedikit pun.
Tatiana menutup bukunya dan beranjak dari duduknya ia membalikkan tubuhnya. Melangkahkan kakinya dengan langkah terpincang-pincang. Tatiana mengambil dua bukunya yang ada di meja didekat pintu. Tatiana tidak menoleh lagi ke belakang, tangannya hendak membuka handle pintu.
__ADS_1
"Lethicia... Lethicia...
Tatiana tak bergeming, telinganya jelas mendengar suara Nikolas yang terdengar sangat lemah. Namun Tatiana juga bisa mendengar Nikolas menyebut dan memanggil nama Lethicia.
Jantung Tatiana berdetak kencang. Namun ia tetap menolehkan kepalanya menatap Nikolas yang tergolek lemah di atas tempat tidurnya.
Dengan langkah kaki terpincang-pincang, Tatiana kembali mendekati tempat tidur Nikolas. Ia menatap lekat wajah Nikolas. "Nik...tadi aku mendengar mu berbicara. Bicara lah lagi sayang. Aku mohon", ucap Tatiana pelan sambil menggenggam erat tangan Nikolas. Sekuat tenaga ia menutupi kesedihannya mendengar Nikolas bukan memanggil namanya tetapi memanggil nama Lethicia.
Tiba-tiba jemari tangan Tatiana merasakan balasan genggaman Nikolas. Tatiana terdiam tak bergeming, beberapa kali merasakan genggaman tangan Nikolas.
"Sayang aku bisa merasakannya", ucap Tatiana dengan suara bergetar.
Tatiana menatap lekat kedua mata Nikolas masih tertutup rapat seperti semula. Tetapi Tatiana sudah bisa merasakan genggaman tangan Nikolas.
Kembali terdengar suara Nikolas memanggil nama Lethicia.
Deggg, jantung Tatiana semakin berdebar kencang. Ia benar-benar mendengar dengan jelas kata-kata yang keluar dari mulut suaminya memanggil nama Lethicia. Ternyata Tatiana tidak salah mendengar beberapa saat yang lalu, Nikolas benar-benar memanggil nama Lethicia.
Tatiana menatap kedua mata Nikolas dengan mata berkaca-kaca dan perasaan tak menentu. "Ternyata...yang ada di ingatan alam bawah sadar mu hanya Lethicia Nik", batin Tatiana.
Tatiana melepaskan genggaman tangannya. Ia membalikkan badannya menuju pintu. Dengan linangan air mata Tatiana membuka handle pintu.
__ADS_1
Di ruang tunggu terlihat Alma dan Dimitri yang sedang menikmati cemilan. Di sana terlihat juga Lethicia yang menyandarkan kepalanya pada bahu Alvaro yang sedang menatap layar handphone miliknya. Begitupun Moreno dan Audri yang sedang berbicara dengan Hector.
Saat menyadari pintu ruangan Nikolas di buka Tatiana. Semuanya mengalihkan perhatiannya pada Tatiana yang terlihat sangat sedih dan tertekan.
"Sayang, ada apa?", tanya Alma menyadari ada hal yang tidak baik pada Tatiana. Alma lekas berdiri dan memeluk tubuh Tatiana yang terlihat tidak baik. Lethicia mengangkat wajahnya menatap Tatiana.
Tatiana memilih duduk disamping Lethicia. Ia menundukkan kepalanya sambil meremas kedua jemari tangannya.
"Nikolas sudah merespon. Ia membalas genggaman tangan ku. Tapi... Niko memanggil nama mu, Lethicia. Berulangkali ia menyebut nama mu. Yang ia ingat di alam bawah sadarnya hanya dirimu", ucap Tatiana dengan suara bergetar dan mengusap air matanya yang mengalir deras membasahi wajahnya.
Lethicia bertukar pandang dengan Alvaro.
Alma memeluk tubuh Tatiana dan mengusap lembut rambutnya. "Tenang kan dirimu sayang".
"Apa yang harus aku lakukan Tatiana?", tanya Lethicia.
Tatiana menatap kedua netra Lethicia. "Aku mohon Lethicia, temui lah Nikolas. Aku yakin jika hanya dirimu yang bisa membuat Nikolas membuka matanya. Aku tidak apa-apa, Lethi. Bantulah aku semuanya demi kesembuhan Niko", ucap Tatiana memohon.
Lethicia menatap Alvaro. Meminta pendapat suaminya. "Semua keputusan ada di tangan mu", bisik Alvaro sambil memeluk tubuh Lethicia.
Lethicia menggengam jemari tangan Tatiana. "Tenanglah Tatiana, semua akan baik-baik saja. Aku akan melihat Assensio sekarang", ucap Lethicia.
__ADS_1
Tangis Tatiana pecah. Ia memeluk erat tubuh Lethicia. "Terimakasih Lethi. Aku yakin ketika merasakan kehadiran mu didekatnya akan membuat Nikolas segera bangun"..
...***...