
Demikianlah Aileen kemudian mencoba beberapa gaun pengantin pilihan calon ibu mertuanya. Gadis itu akhirnya menyadari bahwa gaun yang tampak indah dilihat belum tentu nyaman dipakai. Juga belum tentu sesuai dengan bentuk tubuh maupun karakter pemakainya. Setelah bersabar berganti-ganti gaun, keluar-masuk ruang ganti, dan berdiri di depan Samuel, Tina, dan Ernie untuk meminta pendapat mereka, gadis itu akhinya jatuh hati dengan gaun putih polos ala Meghan Markle, istri Pangeran Harry dari kerajaan Inggris.
Kain gaun tersebut halus sekali dan terasa sangat lembut di kulit tubuhnya. Modelnya yang simpel sesuai dengan kepribadian Aileen yang praktis dan apa adanya. Ibunya sendiri langsung bersorak gembira begitu menyaksikan sang putri muncul dengan langkahnya yang lemah gemulai mengenakan gaun tersebut.
“Wah, gaun ini sepertinya paling pas buatmu, Nak. Sederhana tapi kelihatan anggun dan elegan sekali,” puji wanita itu spontan. Ekspresi wajahnya tampak berseri-seri memandang aura kecantikan putrinya terpancar mengenakan gaun tersebut.
Aileen mengangguk setuju. “Iya, Ma. Aileen juga menyukai gaun ini. Mirip dengan yang dipakai Meghan Markle di hari pernikahannya. Bedanya gaun ini masih dihiasi kristal-kristal sedikit di bagian leher dan pinggang. Jadi nggak terlalu polos.”
Ernie lalu menoleh pada calon besannya. “Menurut Mbak Tina gimana?” tanyanya meminta pendapat. “Gaun ini cocok nggak buat Aileen?”
Perempuan yang ditanya mendesah pelan. “Yah, memang kelihatan anggun, sih. Tapi kok masih terlalu polos ya, dipakai oleh menantu keluarga Manasye. Hmm…tapi ya udahlah, kalau Aileen memang suka gaun ini, nggak apa-apa deh. Tapi dipakai buat acara pemberkatan di gereja aja, ya. Untuk resepsinya kita cari gaun yang kelihatan lebih mewah.”
Ernie terkejut. Dia tidak tahu bahwa calon besannya ini menghendaki Aileen mengenakan dua jenis gaun pengantin di hari pernikahannya. Putrinya buru-buru menerangkan pada sang ibu, “Oh iya, Ma. Aku lupa bilang kalau Tante Tina ingin aku memakai gaun yang berbeda di acara pemberkatan gereja dan resepsi di gedung. Jadi biar terasa berbeda gitu. Ganti suasana, ganti lokasi, ganti gaun….”
“Iya, Jeng Ernie,” timpal Tina dengan sikap agak congkak. “Aileen kan akan menjadi menantu keluarga Manasye satu-satunya. Jadi pernikahannya harus istimewa sekali. Karena berlangsung sekali seumur hidup, kan?”
Ernie manggut-manggut saja. Ya sudahlah, pikir wanita itu pasrah. Toh, pihak keluargamu yang membiayai semuanya. Kami mengikuti saja.
__ADS_1
“Sam,” ucap Tina sembari menoleh pada anak semata wayangnya. “Menurutmu gaun yang dipakai Aileen ini gimana? Cocok nggak buat acara pemberkatan pernikahan di gereja?”
Tak terdengar jawaban. Rupanya sang pemuda sedang terpaku menatap gadis bergaun putih di depannya. Mulutnya terbuka saking terpananya. Aileen sampai tersipu ditatap sedemikian rupa oleh calon suaminya.
“Sam…Sam…. Kamu mikirin apa, sih? Kok bengong begitu?” tanya Tina tak sabar. Ekspresi wajahnya tampak sewot. Sifatnya memang begitu. Kalau bertanya harus segera ditanggapi. Kalau menghendaki sesuatu harus segera dilaksanakan. Hanya suami dan putranya yang sanggup bersabar dengan tabiat perempuan itu. Kawan-kawan sosialitanya sebenarnya banyak yang merasa tidak tahan, namun terpaksa menolerirnya mengingat Tina termasuk dalam lima besar istri bos terkaya dalam lingkungan pertemanan mereka.
“A…apa, Ma?” balas Samuel gelagapan. Wajah pemuda itu merona merah. Ditatapnya sang ibu dengan penuh tanda tanya.
Tina berkata sebal, “Mama tadi tanya, gimana menurutmu gaun yang dipakai Aileen itu. Cocok nggak buat acara pemberkatan?”
“Co…cocok kok, Ma. Cocok sekali. Aileen pantas sekali memakainya. Ya, gaun itu aja yang buat dipakai di gereja. Aku setuju, kok,” jawab Samuel bertubi-tubi.
“Ya, sudah. Kalau begitu ayo coba lagi gaun-gaun lainnya, Leen. Pokoknya hari ini persoalan gaun pengantin harus sudah selesai. Karena besok-besok masih banyak yang harus diurus. Jas pengantin buat Sam, gaun-gaun pesta buatku sama Jeng Ernie, souvenir, wedding cake….”
Aileen mengangguk seketika. Dia lalu membalikkan badannya dan melangkah menuju ruang ganti lagi.
Fiuh, bisa pecah kepalaku mendengar suara Tante Tina terus-terusan, cetus gadis itu dalam hati. Untung aku nggak dipaksa ikut tinggal di rumahnya yang megah itu. Bisa-bisa aku jadi seperti burung dalam sangkar emas! Pergi kemana-mana selalu dipantau. Mau ngapain di rumah selalu diawasi. Haiiiz….
__ADS_1
“Nona Aileen, keliru jalannya. Ruang gantinya berada di sebelah sini,” ujar salah seorang asisten desainer yang berjalan bersamanya.
Gadis itu terperangah. Ya ampun, pikirnya geli. Aku hampir menabrak tembok! Jangan-jangan ini teguran dari Tuhan karena aku berkeluh-kesah tentang calon ibu mertua. Hehehe….
Sambil terkekeh, calon mempelai wanita itu lalu berbalik arah dan menuju ke ruang ganti yang sesungguhnya. Sementara itu Ernie yang berada di ruang tunggu bersama Tina dan Samuel, diam-diam memperhatikan pemuda yang tak lama lagi akan bersanding dengan anaknya di pelaminan itu.
Kelihatannya anak muda ini mulai menaruh hati pada anakku, cetus wanita itu dalam hati. Dia tadi tak berkedip menatap Aileen dalam balutan gaun pengantin yang terakhir. Bahkan wajahnya sampai tersipu waktu ditegur Mbak Tina karena tak segera menjawab pertanyaannya.
Ernie merasa sedikit lega. Setidaknya kalau pemuda itu menyukai Aileen, dia akan berusaha memperlakukan gadis itu dengan baik.
Tapi bagaimana dengan anakku sendiri, ya? batin Ernie was-was. Kelihatannya dia kok biasa-biasa saja terhadap Sam. Apakah Aileen masih berhubungan dengan kekasihnya yang bernama James itu? Mas Harris nggak pernah menyetujui hubungan mereka. Aku sih, biasa saja. Karena aku yakin anakku dapat menjaga dirinya dengan baik. Tapi Aileen sudah berjanji akan memutuskan hubungan dengan pemuda itu. Dan kelihatannya dia cukup dapat bergaul dengan Samuel. Tapi…ah, aku kok masih merasa ada yang mengganjal, ya. Apakah anakku akan hidup bahagia menjalani pernikahan dengan pemuda yang belum lama dikenalnya?
Demikianlah berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak wanita yang tak pernah membantah kehendak suaminya itu. Dirinya justru berusaha selalu menjadi jembatan antara Aileen dan Harris jika terjadi kesalahpahaman. Sikapnya yang lemah lembut dan selalu berusaha mencapai solusi yang terbaik mampu menghangatkan hati anak dan suaminya yang sama-sama keras hati.
Ernie sendiri menyukai kepribadian Samuel yang sabar dan sopan. Instingnya mengatakan pemuda itu akan mampu menyelami hati Aileen dan menyesuaikan diri dengan gadis itu. Dan dirinya juga bersyukur sang putri takkan tinggal seatap dengan calon ibu mertunya yang kelihatan agak arogan dan diktator. Ernie tak yakin anaknya mampu bertahan hidup bersama dengan Tina yang jelas sekali tidak dapat ditentang pendapatnya itu.
“Jeng Ernie, ini sudah saya belikan kain-kain untuk gaun-gaun yang akan kita kenakan di pernikahan Sam dan Aileen. Maaf saya sudah mendahului tanpa meminta persetujuan Jeng Ernie. Maksudnya supaya kita berdua sebagai besan kelihatan kompak dengan memakai kain yang sama. Meskipun model gaunnya nanti bisa berbeda. Kebetulan dua hari lagi saya sudah buat janji bertemu dengan desainer gaun pesta terkenal di kota ini. Apakah Jeng Ernie mau bikin gaun sama-sama juga? Kalau ya, nanti biar saya minta Sam menjemput Jeng di rumah dan mengantarkan ke tempat desainer itu.”
__ADS_1
“Saya ikut saja baiknya gimana, Mbak,” jawab Ernie patuh. Daripada nanti model gaun pilihanku dianggap tidak sesuai dengan standar keluarga Manasye, gerutunya dalam hati. Yang penting segala persoalan remeh-temeh ini segera diselesaikan dan aku tak perlu sering-sering bertemu dengan calon besanku ini lagi!
***