MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
TRAGEDI II


__ADS_3

Tuan mudaaa... Lindungi diri tuan!", Teriak Pedro.


"Oh my God pamannn...Aakkkh


"Nikoo...


Brakkkkk..


Tabrakan keras tak dapat dielakkan lagi. Suara besi saling beradu dan terseret dengan paksa terdengar sangat keras. Bahkan mobil sedan yang di kendarai Pedro sempat terseret menyamping dari tempatnya. Beruntung keadaan jalan cukup padat hingga mobil terhalang oleh mobil lainnya dan terhenti.


Melihat kejadian tragis itu cepat-cepat orang-orang yang terjebak macet keluar dari kendaraan mereka. Langsung memberikan pertolongan. Ramai-ramai menarik mobil minibus yang menabrak mobil Nikolas.


Pengawal yang berada di mobil belakang dengan wajah tegang segera berlarian keluar mobil menghampiri mobil bos mereka. Empat orang laki-laki bertubuh kekar berusaha mengeluarkan Nikolas yang terdiam tak bergeming dengan wajah bagian kiri berlumur darah segar. Begitupun Pedro yang terlihat luka parah di bagian wajah yang berlumuran darah dengan tubuh terkulai dan tak bergerak lagi. Hanya Tatiana yang masih sadar, namun kondisinya sangat syok.


Tubuhnya membeku, sesaat kemudian berteriak menggoyang tubuh suaminya yang terdiam tak bergerak sedikitpun. Tatiana menjerit histeris melihat kondisi Nikolas akibat tragedi yang dialami mereka beberapa saat yang lalu.


Kejadian yang begitu cepat terjadi, saat Pedro berteriak Nikolas dan Tatiana tidak sempat lagi untuk keluar pintu di sebelah Tatiana. Tiba-tiba mobil minibus menghantam dengan keras mobil mereka.


*


Alvaro dan Moreno masih duduk di pinggir kolam renang berbincang-bincang santai. Sementara Lethicia dan Audri duduk di kursi panjang yang tak jauh dari tempat Alvaro dan Moreno.


"Jadi kapan rencana kalian melangsungkan pernikahan, Reno?", tanya Alvaro sambil menyesap minuman nya.


"Bulan depan", jawab Moreno yakin.


Alvaro menganggukkan kepalanya. "Aku senang mendengarnya teman, akhirnya kau segera menyusul ku juga membina rumah tangga".


"Sebenarnya Audri ingin melangsungkan pernikahan tiga bulan lagi, tapi aku tidak mau. Aku ingin mempercepatnya. Kau tahu dude aku sangat menginginkannya, sementara Audri tidak mau melakukannya sebelum menikah", ucap Moreno memasukkan makan kedalam mulutnya.

__ADS_1


Alvaro tersenyum mendengarnya. "Itu artinya kekasih mu orang baik-baik Reno.


"Iya, tapi seusia Audri bukankah hal yang wajar melakukannya dengan kekasih, melakukan sekarang dan nanti sama saja tetap akan menikah juga. Tapi mau bagaimana lagi, aku sangat mencintainya jadi aku harus menghargai keputusan nya itu. Selama menjadi sepasang kekasih, aku harus puas hanya dengan berciuman saja", ucap Moreno sambil mengangkat satu bahunya.


Alvaro tertawa mendengar komplain temannya itu. "Itu artinya kekasih mu itu gadis baik-baik Reno. Mungkin ia masih virgin, ia ingin memberikannya kepada laki-laki yang menjadi suaminya kelak. Sebagian gadis memiliki prinsip seperti itu, dude. Jika tiba saatnya kau akan mereguk kenikmatan bercinta yang sempurna teman. Kau menjadi laki-laki yang sangat istimewa dan bahagia. Aku yakin kan kau akan semakin mencintai kekasih mu itu", jawab Alvaro.


"Ahh, bicara mu seolah-olah kau menikahi perawan saja. Apa kau pernah merasakan bercinta dengan perawan Varo? Sangat sulit mendapatkan wanita yang masih perawan di zaman sekarang dude. Yang ada, jika kau ingin merasakan perawan kau ikuti saja lelang perawan di club. Tapi aku pastikan kau bercinta dengan gadis belia yang membosankan", seloroh Moreno tertawa.


"Kenapa juga aku ke sana, dan aku tidak penasaran sama sekali karena Istri ku masih perawan saat aku nikahinya", jawab Alvaro.


Gelas yang dipegang Moreno hampir saja terlepas dari genggamannya. "What? M-maksud mu Lethicia?"


"Siapa lagi, memangnya aku menikahi wanita lain lagi?".


"Bagaimana mungkin", Seru Moreno menatap Alvaro.


"Apa karena ini yang membuat mu tidak butuh waktu yang untuk menikahinya? Memang waktu mendengar kau menikah aku tidak percaya. Bagaimana mungkin baru beberapa hari kau sudah menikah padahal kau tidak mengenal Lethicia sama sekali. Aku sempat meragukan keputusan mu itu, Varo. Tapi setelah bertemu dengan mu kau benar-benar berubah kau terlihat berbeda. Kau terlihat sangat bahagia. Aku bisa melihatnya dari wajah mu", ucap Moreno menggelengkan kepalanya masih tidak mempercayai pengakuan sahabatnya itu.


Sesaat kemudian..


"Tuan Alvaro...tuan"


Terlihat kepala keamanan mansion berlari menghampiri Alvaro dengan wajah sangat panik dan terburu-buru.


"Ada apa, kenapa kau sangat panik Alesandro", ketus Alvaro dengan suara tinggi menatap tajam pekerjanya itu. Lethicia dan Audri sampai berdiri mendekati tempat Alvaro dan Moreno.


"T-Tuan Assensio...


"Ada apa dengan adikku?", teriak Alvaro berdiri sambil mencengkram kerah jas kepala keamanan itu.

__ADS_1


Moreno segera beranjak dari duduknya dan menenangkan sahabatnya. Begitupun Lethicia. Ia mengusap punggung suaminya. "Tenanglah sayang".


"Tuan Assensio mengalami kecelakaan maut, mobil mereka di tabrak minibus. Tuan Assensio dan istrinya di larikan ke rumah sakit sekarang. Tuan Assensio kritis, istrinya luka ringan dan mengalami syok. Sementara Ped...Pedro meningal di tempat kejadian, tuan", ucap Alesandro dengan wajah terlihat sangat panik.


"Oh Tuhanku", ucap Lethicia sempoyongan. Beruntung Audri memeluk tubuhnya, begitu Alvaro.


"Lethi, tenangkan diri mu. Ingat kau sedang hamil".


Audri memberikan air minum untuk Lethicia. "Tenang kan diri mu Lethi, yang di katakan Alvaro benar".


"Aku dan Moreno sekarang ke rumah sakit melihat Assensio dan Tatiana", ujar Alvaro sambil berjongkok di hadapan Lethicia. Ia menggenggam jemari tangan istrinya yang terlihat mulai tenang. "Sayang sebaiknya kau istirahat dikamar, tenangkan diri mu. Aku segera menghubungi mu".


"Iya Varo. Aku harap kau berhati-hati Varo, aku tidak mau terjadi apa-apa pada mu", ucap Lethicia memeluk erat leher Alvaro. Beberapa saat kemudian Lethicia mengurai pelukannya.


"Audri aku dan Varo kerumah sakit sekarang, kau temani Lethicia", ujar Moreno bersama Alvaro berlalu dari hadapan Lethicia dan Audri.


"Lethi, sebaiknya kau rebahan saja di kamar. Ayo aku antar dan menemani mu", ujar Audri menuntun tubuh Lethicia masuk kedalam rumah.


Terlihat di sudut ruangan Sofia menangis sejadi-jadinya dan sedang di tenangkan para pelayan.


Saat melihatnya Lethicia menghampiri Sofia. "Bibi, tenanglah bi", ucap Lethicia mengusap air matanya yang mengalir deras membasahi wajahnya.


Sofía dengan tubuh gemetaran memeluk tubuh Lethicia. "Bibi tidak apa-apa nak, bibi hanya syok mendapatkan kabar ini. Nona Lethicia tidak perlu memikirkan bibi yang penting kondisi nona", ucap Sofia tegar.


"Nona sebaiknya istirahat di kamar, jangan stress karena tidak baik untuk kandungan nona", ucap Sofia mengusap lembut wajah Lethicia yang sangat pucat.


"Bibi juga harus tenang, dan bisa menerima kejadian yang menimpa paman Pedro", ujar Lethicia mengusap air matanya.


Sofia memejamkan matanya dan menganggukkan kepalanya. "Iya, bibi ikhlas nak", jawabnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2