
Air mata gadis itu jatuh bercucuran. Suaranya mulai terisak-isak. James yang mendengarnya di seberang sana jadi sakit kepala. Nangis lagi, nangis lagi! keluh pemuda itu dalam hati. Jengkel sekali dia pada kekasihnya ini. Salah ngomong sedikit saja sudah baperan. Aduh!
“Ya sudahlah, Sayang. Sori aku salah ngomong. Sori kamu jadi sakit hati karenanya. Sori…,” ucap pemuda itu panjang lebar. Mudah-mudahan tangisannya segera berhenti, batinnya semakin dongkol. Kalau nggak, mending kututup saja teleponnya dan kutinggal tidur!
Akan tetapi seperti biasanya hati Aileen langsung adem begitu mendengar permintaan maaf sang kekasih. Entah kata-katanya itu tulus atau sekadar untuk menenangkan hatinya saja. Selanjutnya pembicaraan mereka mulai teralihkan pada hal-hal lain yang tak berkaitan sama sekali dengan pernikahan Aileen.
Setelah puas ngobrol dengan pemuda pujaan hatinya, gadis itu bersiap-siap untuk tidur. Perasaannya terasa ringan sudah melampiaskan kerinduannya pada James meskipun hanya melalui telepon. Sementara itu sang pemuda yang berada di dalam kamar kosnya mendengus kesal.
“Pokoknya aku akan setia menunggu sampai malam pengantinmu tiba, Sayangku. Dari sana akan kulihat apakah kamu mampu memuaskan hasratku. Kalau iya, hubungan kita akan tetap berlanjut meskipun secara sembunyi-sembunyi. Kalau nggak….”
James kemudian menghembuskan napas panjang. “Sori, Leen. Terpaksa aku mundur pelan-pelan. Barangkali kita memang nggak berjodoh.”
***
Sementara itu Tina menceritakan pengalamannya di bridal showroom hari itu pada suaminya. Mereka sebenarnya sudah bersiap-siap untuk tidur. Namun wanita itu seperti biasanya tak puas kalau belum mengungkapkan ganjalan di hatinya terlebih dahulu.
“Gadis pilihanmu itu memang baik orangnya, Mas,” aku wanita cantik itu pada Ruben. “Tapi aku kok belum begitu sreg ya, dia menjadi pasangan hidup anak kita.”
__ADS_1
Sang suami menghela napas panjang. “Memangnya hari ini ada kejadian apa yang tidak menyenangkan hatimu, Sayang. Apa Aileen melakukan hal-hal yang tak pantas di tempat desainer gaun pengantin itu?”
Pria itu berusaha untuk menyabarkan hatinya. Padahal matanya sudah terasa berat sekali. Dia ingin segera memejamkan mata dan menuju ke alam mimpi. Apalagi besok pagi ada jadwal meeting penting dengan klien besar. Tapi demi mencegah sang istri tercinta frustasi karena tak didengarkan curhatannya, bos besar itu terpaksa menunda keinginannya untuk tidur.
“Sikap Aileen memang cukup sopan terhadapku, Mas,” jawab Tina lugas. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamarnya yang luas sekali bak suite termahal hotel bintang lima. “Dia juga nurut sekali waktu kuminta mencoba gaun-gaun pengantin pilihanku yang berjumlah hampir satu lusin….”
“Hah?!” seru Ruben terkejut. “Kamu…kamu nyuruh anak itu mencoba dua belas gaun pengantin? Ya ampun, Tina!”
“Nggak sampa satu lusin, Mas,” sergah sang istri. “Aku kan tadi bilang hampir…. Cuma jumlah pastinya aku nggak ngitung, sih.”
Itu bukan nurut sekali namanya, pikir Ruben geli. Tapi amat sangat nurut sekali!
“Akhirnya terpilih dua gaun, Mas,” lanjut Tina kemudian. “Yang pertama bahkan sangat disukai Aileen. Aku setuju itu dipakai untuk acara pemberkatan pernikahan di gereja. Terus waktu lanjut ke gaun-gaun berikutnya, akhirnya aku memilih gaun yang seperti dipakai Kate Middleton di pernikahannya dengan Pangeran William. Dan tahu nggak? Tiba-tiba aku merasa sungguh beruntung Aileen Benyamin bersanding dengan anak kita nanti di pelaminan. Dia bagaikan Kate Middleton dan Meghan Markle yang seperti mendapat durian runtuh menikah dengan kaum bangsawan kerajaan Inggris….”
Sontak segenap ruangan dipenuhi oleh tawa terbahak-bahak Ruben. Tina menatap suaminya heran. Laki-laki yang duduk di sebelahnya itu tak henti-hentinya tertawa sampai mengeluarkan air mata.
“Apa-apaan sih, Mas?” cetusnya dengan ekspresi wajah tidak senang. “Aku ini sedang bicara serius sama kamu kok malah diketawain kayak gini, sih?”
__ADS_1
Melihat istrinya mulai sewot, sang suami mulai menghentikan tawanya. Dirangkulnya wanita itu penuh kasih sayang. “Gini lho, Tin. Umur kita kan sudah nggak muda lagi. Tak lama lagi juga akan menjadi kakek-nenek. Sudah waktunya kita hidup di dunia nyata. Tidak menyamakan ataupun membandingkan keluarga sendiri dengan kaum bangsawan yang sering disorot media. Mereka meskipun ternama tapi juga punya permasalahan sendiri yang tidak diungkapkan pada publik….”
“Mas ini ngomong apaan, sih? Aku kan cuma mengumpamakan saja. Supaya Mas lebih mudah memahami apa yang kupikirkan. Menurutku gadis pilihanmu itu memang beruntung sekali bisa diperistri anak kita. Apalagi kulihat Sam sudah mulai perhatian padanya. Aku kok merasa anak kita itu jatuh hati pada calon istrinya, Mas….”
“Lha, kan bagus itu,” sergah sang suami gembira. “Berarti pilihanku nggak salah, dong.”
“Tapi…,” cetus Tina getir. “Aku sama sekali nggak merasakan perhatian Aileen pada Sam. Bahkan menurutku dia cuek sekali sama anak kita, Mas. Menemani Sam untuk mencoba jas pengantin saja dia nggak mau. Alasannya dikejar deadline menyelesaikan proyek penerjemahan novel online. Akhirnya aku sendiri yang besok menemani Sam pergi ke tempat desainer jas pengantin.”
Barangkali Aileen merasa pendapatnya nggak dibutuhkan kalau ada kamu, Tin, cetus Ruben membatin. Pengalaman hari ini di bridal showroom mungkin membuat gadis itu sadar bahwa campur tanganmu dalam kehidupan anak kita terlalu besar. Gadis semandiri Aileen Benyamin bisa jadi memilih pasrah saja pada keputusan calon ibu mertuanya daripada berisiko terjadi gesekan-gesekan yang membuat hubungan kalian jadi tidak enak.
“Terus juga persoalan menu hidangan pesta, souvenir, konsep acara, dan lain-lainnya…. Aileen menyerahkan pengurusan semuanya itu padaku. Aneh kan, Mas? Yang mau menikah siapa. Yang mengurus serba-serbinya siapa!”
Salahmu sendiri terlalu ikut campur, komentar Ruben dalam hati. Menantu itu beda dengan anak sendiri yang sudah terbiasa dengan tabiatmu. Kamu tadi memintanya mencoba banyak sekali gaun pengantin tanpa memberinya kesempatan memilih terlebih dahulu. Itu sudah menunjukkan betapa dirimu itu orang yang otoriter. Aku nggak menyalahkan Aileen kalau akhirnya dia memilih menghindar berurusan denganmu lagi dengan cara memasrahkan segala pernak-pernik pernikahan padamu!
Tina yang tak menyadari pergolakan batin suaminya tersebut terus melanjutkan, “Aku kuatir anak kita nanti nggak diperhatikan istrinya setelah menikah, Mas. Memang Sam mampu mengurus dirinya sendiri sejak kuliah di Amerika dulu. Tapi kan kasihan kalau….”
“Sudahlah, Sayang,” sela Ruben yang tak mampu lagi menahan rasa kantuknya. “Jauhkan pikiran-pikiran negatif tentang calon menantu kita. Kamu kan tadi bilang sendiri kalau Sam sepertinya mulai menyukai gadis itu.”
__ADS_1
“Iya. Tapi aku bisa merasakan bahwa Aileen sama sekali nggak peduli sama anak kita, Mas,” tegas Tina lagi. “Aduh, gimana ya cara menjelaskannya? Gini, lho. Aku merasa…ehm…tubuh gadis itu berada bersama-sama kami tadi di bridal showroom. Tapi pikiran dan hatinya berada di tempat lain. Seakan-akan…dia belum menerima perjodohan ini dengan sepenuh hati. Aku kuatir kalau….”