MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
TANGISAN TATIANA


__ADS_3

Tangis Tatiana pecah. Ia memeluk erat tubuh Lethicia. "Terimakasih Lethi. Aku yakin ketika merasakan kehadiran mu didekatnya akan membuat Nikolas segera bangun".


Sejujur nya hati Tatiana sangat teriris, ketika mengatakan semuanya. Apalagi ketika mendengar Nikolas memanggil nama Lethicia. Hatinya benar-benar hancur berkeping begitu mengetahui kata-kata yang keluar pertama dari bibir Nikolas yaitu menyebut nama wanita lain bukan dirinya.


Namun Tatiana sadar, ia tidak boleh egois berlari menjauh meninggalkan Nikolas saat ini. Setidaknya Tatiana harus bertahan hingga Nikolas sadar nanti. Di saat itulah Nikolas yang akan menentukan semuanya. Apalagi jika semua ingatannya kembali.


Huhh .. Tatiana menghembuskan nafasnya. Menahan tangisan. Dadanya terasa sangat sesak dan sakit. Himpitan kesediaan melanda sanubarinya hingga kepalung hati yang terdalam.


Tanpa Tatiana kehendaki kristal bening menyentuh wajahnya, lagi-lagi air mata keluar dengan sendirinya.


Kali ini tidak ada suara isakan dan seduh sedan ataupun tubuh gemetaran. Tatiana menangis dalam diam. Hanya kedua jemari tangannya saling meremas satu dengan yang lainnya.


Alma dan Audri yang menyadari kondisi Tatiana segera memeluk tubuhnya. Audri tahu Tatiana seperti itu karena merasakan beban berat dalam hidupnya, sehingga hanya terdiam tanpa bersuara dengan linangan air mata.


*


Lethicia menatap lekat tubuh Assensio yang terkulai lemah tak berdaya di atas tempat tidur pasien.


Laki-laki yang sangat di cintainya sebelum dinyatakan meninggal dunia karena kecelakaan pesawat. Namun semuanya berubah, semenjak kehadiran Alvaro dalam hidup Lethicia. Ia benar-benar mencintai Alvaro sebagai suami dan ayah anak yang di kandungnya. Alvaro lah yang pertama bagi Lethicia.


Sekarang Lethicia sadar saat melihat Assensio di hadapannya saat ini. Ia masih menyayangi nya namun dengan rasa yang berbeda. Lethicia menyayangi nya sebagai saudara. Hanya itu tidak lebih. Lethicia dapat merasakan itu sekarang.


Huhhh.. Lethicia menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menggenggam jemari tangan Assensio.


"Assensio, semuanya sudah berubah. Tidak sama seperti dulu. Kau mencintai istri mu Tatiana. Ia wanita hebat dan sangat baik. Tatiana sangat mencintaimu Assensio, begitu juga dengan mu".

__ADS_1


"Hubungan kita telah berakhir Assensio. Kau telah bahagia bersama Tatiana. Begitu juga aku, aku sudah bahagia dengan Alvaro kakak mu. Kakak yang selalu engkau sayangi dan engkau rindukan. Bahkan sebentar lagi kami akan memiliki anak".


Lethicia menarik nafasnya kembali. Kedua netranya menatap wajah Assensio.


"Aku harap kau bisa menerima semuanya Assen. Inilah takdir kita".


"Seharusnya Tatiana lah yang ada di samping mu saat ini Assensio. Aku mohon bukalah mata mu demi Tatiana yang sangat mencintai mu. Demi papa Montana yang sudah sakit-sakitan dan baru beberapa hari ini menunjukkan semangat hidupnya setelah kau kembali ke rumah".


"Bukalah mata mu demi kakak mu yang sangat menyayangi mu dan bukalah matamu demi aku yang akan selalu menjadi saudara dan sahabat bagi mu", ucap Lethicia tersenyum sambil menepuk punggung tangan Assensio.


Lethicia hendak melepaskan genggaman tangannya saat merasakan Assensio membalas genggaman tangannya.


"Assensio?", panggil Lethicia sambil menatap lekat wajah Assensio.


Perlahan kelopak mata Assensio bergerak-gerak. Sementara genggaman tangannya pada tangan Lethicia semakin terasa kuat.


"L-Lethicia..


Terdengar suara Assensio sangat pelan dan lemah. Terdengar sangat lirih.


Lethicia melebarkan kedua matanya sambil menutup mulutnya dengan jemari tangannya. Ia benar-benar tidak percaya melihat Assensio bangun.


"Assensio, kau sudah sadar. K-kau..


Assensio memejamkan matanya sesaat, kemudian membukanya lagi. Tangan kanannya terlihat masih sangat lemah hendak membuka nebulizer alat bantu pernafasan yang terpasang di antara hidung dan mulutnya.

__ADS_1


"Jangan Assensio, aku akan memanggil perawat untuk memeriksa kondisi mu sekarang", ucap Lethicia membalikkan tubuhnya. Namun tangannya di tahan Assensio.


Assensio akhirnya benar-benar melepaskan alat bantu pernafasan yang menghalangi nya untuk berbicara.


Dengan tatapan sayu Assensio menatap Lethicia.


"Apa yang terjadi sebenarnya, Lethicia?", tanya Assensio masih terdengar suara lemahnya. Kedua matanya menatap lekat Lethicia. Assensio menyadari perubahan sikap Lethicia dan perubahan tubuh Lethicia. "Apa kau hamil, Lethicia?".


Lethicia menganggukkan kepalanya dengan tegas. Saat itu juga Lethicia menceritakan semuanya. Termasuk kecelakaan pesawat yang menyatakan Assensio meninggal dunia. Dan Montana meminta ia menikah dengan Alvaro. Lethicia juga menceritakan Assensio mengalami amnesia dan di panggil Nikolas selama ini. Lethicia menceritakan kehidupan Assensio selama hilang ingatan, ia menetap di Madrid bersama istrinya Tatiana. Dan kehidupan mereka sangat bahagia saling mencintai.


"Aku harap kau bisa menerima semuanya Assen. Inilah takdir kita. Assensio... semuanya sudah berubah. Tidak sama seperti dulu. Kau mencintai istri mu Tatiana. Ia wanita hebat dan sangat baik. Tatiana sangat mencintaimu Assensio, begitu juga dengan mu".


"Aku mohon berbahagia lah dengan kehidupan baru mu Assensio. Walaupun ingatan mu telah kembali. Kenang lah kebersamaan mu dengan Tatiana".


"Beberapa saat yang lalu saat Tatiana menjagamu, kau memanggil nama ku. Aku tahu perasaan nya menangis tapi demi kebaikan mu ia memintaku ke sini. Selama kau sakit, Tatiana lah yang selalu setia di samping mu, Assen. Aku mohon jangan sakiti hatinya", ucap Lethicia memohon pada Assensio yang sedang menatap langit-langit kamarnya.


Huhhh..


"TATIANA..


Assensio menatap Lethicia yang juga sedang menatapnya. "Lethicia, maukah kau membantu ku..?"


...***...


MINTA BANTUAN APA YA ASSENSIO? LANJUT DI KOLOM KOMENTAR YA BIAR RAME NGAK HENING 🀣

__ADS_1


*


VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA YA πŸ™


__ADS_2