
Selama beberapa detik kedua bibir pasangan suami-istri tersebut saling bertautan. Aileen bahkan sampai mengalungkan tangannya pada leher Samuel. Namun tiba-tiba dia tersentak. Samuel menghentikan ciumannya. Dilepaskannya wajah istrinya. Pria itu bahkan bergerak menjauh.
“So…sori, Leen. Aku nggak sengaja. Sori…sori banget,” cetus Samuel terbata-bata.
Dengan terburu-buru pria itu bangkit berdiri lalu berjalan cepat menuju tangga. Dinaikinya anak tangga dengan cepat. Aileen terpana melihatnya. Dia merasa seperti sedang bermimpi. Disentuhnya bibirnya. Seolah-olah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia dan Samuel tadi memang berciuman!
“Ya Tuhan,” ucap perempuan itu lirih. “Sam tadi mencium bibirku. Dan aku…aku membalasnya. Ternyata aku sangat menikmatinya….”
Aileen memejamkan mata. Mencoba mengingat kembali kejadian yang tak terduga tadi. Tak lama kemudian matanya terbuka. Raut wajahnya memerah bagaikan kepiting rebus.
Ya ampun! seru perempuan itu dalam hati. Aku menyukai Sam!
***
Sepanjang malam itu baik Samuel maupun Aileen sama-sama susah tidur. Mereka sibuk bergumul dengan pikiran dan perasaan masing-masing. Selama ini hubungan dua anak muda itu memang harmonis. Tapi bukan layaknya seperti pasangan suami-istri kebanyakan. Melainkan bagaikan sepasang sahabat. Dua orang yang berkompromi hidup rukun di bawah atap yang sama.
Namun kini mereka tak tahu harus bersikap bagaimana jika bertemu kembali keesokan harinya. Bibir dan lidah mereka telah saling bersentuhan. Hal yang tak mungkin dilakukan oleh dua orang yang hanya sekadar berteman baik.
Gimana caranya besok pagi aku menghadapi Aileen, ya? pikir Samuel bingung. Bodoh sekali aku! Kenapa sampai tidak bisa menahan diri tadi?
Sementara itu Aileen sendiri tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri. Aileen, Aileen…. Kamu ini kok kayak perempuan murahan, batin perempuan itu pilu. Berzina dengan laki-laki lain. Hamil darah dagingnya. Lalu dengan tidak tahu malu membalas ciuman suamimu dan akhirnya menyadari bahwa kamu menyukainya! Benar-benar memalukan kamu, Aileen Benyamin. Pantas saja Sam kabur meninggalkanmu tak lama setelah kamu membalas ciumannya! Mungkin dia jijik bersentuhan denganmu!
Air mata perempuan itu jatuh berlinang membasahi pipinya yang mulus. Dia merasa dirinya sungguh hina. Begitu mudahnya berpaling dari satu lelaki ke lelaki lain. Pantas Sam tak menginginkannya. Barangkali pria itu tadi hanya sekadar terbawa perasaan iba sehingga mencium bibirnya. Tapi begitu Aileen membalasnya, suaminya itu malah ketakutan sendiri dan meninggalkannya.
__ADS_1
Perempuan itu lalu mengambil sikap duduk di atas ranjang. Ditangkupkan kedua tangannya siap untuk berdoa. Kedua matanya tertutup rapat.
“Bapaku yang ada di surga, aku sudah berdosa besar,” ucapnya lirih. “Pura-pura setuju dengan perjodohan yang diatur orang tuaku, padahal masih menjalin hubungan dengan pacarku. Juga bersalah karena sudah berkali-kali berzinah dengan laki-laki itu. Ternyata dia tidak tulus mencintaiku, Tuhan. Sekarang di saat aku mengandung benihnya, aku malah menyadari perasaanku pada Sam. Suamiku yang sah….”
Wanita itu menghentikan ucapannya. Dihelanya napas panjang. Air mata menitik keluar dari pelupuk matanya yang masih tertutup. Semakin lama semakin deras. Aileen menguatkan hatinya untuk terus berdoa.
“Kandunganku sedang bermasalah, Tuhan. Bisa bertahan atau tidak kini benar-benar kupasrahkan ke dalam tanganMu. Demikian pula hubunganku dengan Sam selanjutnya. Tolong beri aku petunjuk agar dapat memahami kehendakMu yang sebenarnya atas hidupku. Akan kujalankan dengan sepenuh hati. Kumohon ampuni dosa-dosaku. Terima kasih, Tuhan. Amin.”
Hati Aileen menjadi tenang sekarang. Dirinya sudah tidak cemas lagi. Kini dia bersiap-siap untuk tidur. Esok hari akan disongsongnya dengan sukacita. Karena dia tahu Tuhan di atas sana telah mendengar doanya.
***
Keesokan harinya Samuel bangun kesiangan. Semalam karena susah tidur , pria itu lalu mencari-cari informasi di internet tentang dokter-dokter spesialis kandungan dengan reputasi bagus di kota Surabaya. Akhirnya dia menemukan dua orang dokter yang dianggapnya tepat untuk berkonsultasi mengenai kandungan istrinya.
Wajah perempuan itu tersenyum manis. Dia sepertinya sudah melupakan kejadian kami berciuman kemarin, batin Samuel lega. Aku sekarang bisa bersikap biasa-biasa lagi seperti tidak terjadi apa-apa.
Perempuan itu tampak cantik dan segar sekali dengan balutan kaos oblong merah muda dan celana pendek biru muda.. Kelihatan betul dia sudah mandi. Berbeda dengan Samuel yang mencuci muka saja di kamar mandi lantai atas tadi.
“Sori, aku bangun kesiangan, Leen,” ujar pria itu penuh sesal. “Tadi malam aku sibuk browsing internet. Nyari info tentang dokter-dokter spesialis kandungan yang bagus di kota ini. Akhirnya nemu juga. Satu cewek dan satu cowok. Kita bisa pergi ke tempat praktik mereka hari ini untuk memeriksakan kandunganmu. Atau…kamu ada alternatif dokter lain barangkali?”
Aileen menggelengkan kepalanya. “Aku belum sempat nyari-nyari, Sam. Ya udah. Nanti kita pergi konsultasi pada dokter-dokter yang kamu temukan itu aja. Sekarang kita makan dulu, yuk. Aku udah bikin nasi goreng ayam sama telur ceplok.”
Samuel memandangnya keheranan. “Kamu sudah bisa makan nasi, Leen? Nggak takut mual sama muntah-muntah lagi?” tanyanya kuatir.
__ADS_1
Sang istri menggeleng. “Cuek ajalah,” sahut perempuan itu enteng. “Bosen makan bubur terus, Sam. Aku kangen makan nasi goreng.”
Samuel tersenyum. Dia senang melihat Aileen sudah bisa beradaptasi dengan kehamilannya. Dengan segera pria itu berjalan menuju meja makan. Tiba-tiba dirinya tersadar akan sesuatu. Lantai yang diinjaknya terasa bersih dan licin.
“Kamu sudah nyapu dan ngepel ya, Leen? Lantainya bersih sekali,” tanyanya sembari mendudukkan diri di atas kursi meja makan.
Tangannya sudah bersih tadi dicuci di kamar mandi lantai atas. Aroma nasi goreng yang menyeruak membuat terbit air liurnya. Sudah agak lama istrinya ini tidak masak nasi goreng. Samuel kangen sekali menikmatinya. Dipotongnya telur ceplok di piringnya sedikit. Lalu disendoknya beserta nasi berwarna merah dan potongan ayam kecil-kecil. Disuapkannya makanan itu ke dalam mulutnya.
Hmm, enak, puji lelaki itu dalam hati. Nasi goreng buatan Aileen selalu enak. Tapi sebenarnya dia memang pintar memasak. Semua yang dibuatnya aku suka. Nggak kalah sama masakan koki di rumah Papa dan Mama!
Sementara itu Aileen berkata, “Aku cuma nyapu dan ngepel lantai ini aja, Sam. Yang lantai dua belum sempat. Karena aku tadi pelan-pelan banget. Takut kecapekan dan nanti berpengaruh buruk pada kandunganku. Rencananya lantai atas kusapu-pel kalau kamu sudah berangkat ke kantor. Jadi nyantai gitu.”
“Biar aku saja yang nanti bersih-bersih lantai atas,” sela suaminya. “Aku mau nelepon Papa minta izin cuti lagi.”
Sang istri terperangah. Dia berusaha mencegah keinginan suaminya itu.
“Kenapa harus cuti, Sam? Nanti gimana kamu jelasinnya sama Papa?”
“Yah, kuceritakan saja apa adanya. Mau antar kamu periksa kandungan ke dua dokter lain. Salah satu dari mereka praktik siang di kliniknya, lho. Terus satunya lagi praktik sore di rumah sakit yang lokasinya agak jauh. Jadi aku memang nggak mungkin sempat ngantor hari ini.”
“Hah?!” seru Aileen kaget. “Kamu mau ngaku terus terang sama Papa kalau janin dalam rahimku ini mungkin kosong alias tidak berkembang?”
Suaminya mengangguk tegas. Mulutnya masih asyik mengunyah nasi goreng. Sebaliknya raut wajah Aileen tampak panik.
__ADS_1