MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
Kebahagiaan Ruben dan Tina


__ADS_3

Aileen tak sanggup berkata-kata. Dia merasa pria ini sungguh baik hati. Lalu kenapa dia menurut saja dijodohkan denganku? Pasti tak susah baginya mendapatkan gadis lain yang jauh lebih segalanya dibanding diriku!


“Aileen,” ucap Samuel pelan. “Kamu nggak menjawab pertanyaanku. Apakah…apakah kamu keberatan dengan usulku tadi?”


“Hah?!” cetus istrinya kaget. “Usul…usul yang mana, Sam?”


“Yang tentang anakmu menjadi penerus keluarga Manasye.”


“Oh, itu.”


Perempuan itu mendesah pelan. Dia lalu berkata pasrah, “Aku nggak punya pilihan lain, bukan? Secara hukum janin dalam kandunganku ini adalah anakmu, Sam. Kalau kita bercerai kelak, hak asuh pasti bisa kau menangkan dengan mudah karena kekayaanmu. Jika aku bersikeras bahwa anak ini bukan darah dagingmu, hal itu justru akan menjatuhkan nama baik keluargaku. Papa dan mamaku pasti sedih sekali mengetahui anak mereka satu-satunya hamil dengan pria lain yang bukan suaminya….”


Giliran Samuel yang mendesah. Ditatapnya mata sang istri lekat-lekat. “Percayalah, Leen. Aku takkan menelantarkan anak ini. Dia benar-benar akan kusayangi bagaikan anak kandungku sendiri. Kita ini sudah tinggal satu atap selama tiga bulan. Karakter dan watakku bagaimana…kurang-lebih sudah  kamu ketahui kan, Leen?”


Aileen mengangguk. Dia tahu laki-laki ini dapat dipercaya dan diandalkan. Selama tinggal bersamanya, tak pernah terjadi gesekan serius yang membuat hubungan mereka menjadi tidak enak.


“Terima kasih banyak, Sam,” kata perempuan itu akhirnya.


Disentuhnya perutnya sambil menatap serius pada sang suami. “Janin ini adalah anakmu. Mulai sekarang tak ada lagi James dalam hidupku. Dia telah menghancurkan hubungan kami. Percuma saja mengharapkan orang itu menjadi ayah yang baik bagi anak ini. Biarlah kenyataan bahwa dia adalah ayah biologis anak ini menjadi rahasia kita berdua saja ya, Sam?”


Suaminya mengangguk setuju. Alangkah bahagianya hati pria itu mendengar keputusan sang istri. Kini tak ada lagi orang ketiga di antara mereka. Untuk selanjutnya dia dan Aileen akan fokus pada janin yang akan lahir sekitar tiga puluh dua minggu lagi itu. Janin yang merupakan penerus keluarga Manasye.


Papa, Mama…, batin Samuel lega. Akhirnya aku berhasil mewujudkan impian kalian mempunyai seorang cucu!


***

__ADS_1


“Mas, Aileen hamil!” seru Tina penuh semangat.


Mata ibu Samuel itu berbinar-binar saking gembiranya. Tak lama lagi dia akan menimang cucu.


“Syukurlah,” sahut Ruben tak kalah senangnya. Hebat sekali anakku, pikir pria itu bangga. Baru nikah tiga bulan sudah berhasil membuat istrinya hamil. Dasar keturunan keluarga Manasye! Hahaha….


“Cucu kita nanti laki-laki ataupun ya, Mas? Ah, sama saja, deh. Yang penting sehat,” celetuk sang istri.


Suaminya itu mengangguk setuju. Zaman sudah modern. Sudah tidak mementingkan gender tertentu. Yang penting cucunya kelak lahir selamat dan sehat walafiat. Mereka akan mendidiknya dengan baik sehingga menjadi manusia yang berbudi luhur dan berguna bagi orang banyak.


“Baru enam minggu usia kehamilan Aileen. Tapi aku kok sudah nggak sabar rasanya menunggu dia melahirkan. Hehehe…. Anak itu nanti akan dinamai apa, ya? Harus nama yang bagus artinya. Juga keren didengar. Penerus keluarga Manasye gitu, lho,” ucap Tina berandai-andai.


Senyuman bahagia terus mengembang di wajahnya. Ini merupakan peristiwa kedua yang membahagiakan hatinya tahun ini setelah pernikahan putra tunggalnya.


Ruben merasa geli melihat sikap girang Tina. Dia paham sifat kekanak-kanakkan istrinya itu timbul lagi. Pasti akan diurusinya segala hal mengenai cucu mereka itu sampai Aileen kelimpungan.


“Tin,” kata lelaki itu lembut. “Kupikir sebaiknya cucu kita nanti diberi nama oleh orang tuanya sendiri saja. Mereka lebih tahu mana yang terbaik buat sang buah hati. Kita sebagai kakek dan nenek tinggal men-support saja dari belakang. Yang penting anak itu nanti tetap menyandang marga Manasye di belakang namanya. Bukankah begitu, Sayang?”


Tina melotot memandang suaminya. Raut wajahnya tampak tidak senang.


“Maksudmu aku sebagai mertua terlalu mencampuri urusan anak dan menantu. Begitukah menurutmu, Mas?” cetusnya jengkel.


Wah, api mulai berkobar, nih, pikir Ruben cepat tanggap.


Tapi pria yang paham sekali dengan karakter istrinya itu tak hilang akal. Dirangkulnya wanita itu mesra. Sorot matanya memancarkan perasaan kasih sayangnya yang begitu mendalam.

__ADS_1


“Kita sekarang kan, cuma tinggal berdua, Tin. Aku merasa nyaman sekali. Dan ingin kunikmati terus hidup seperti ini, Sayang. Mengulang masa-masa indah saat kita baru menikah dulu. Hehehe….”


Tina tersipu malu. Hatinya luluh seketika. Dia senang sekali diperlakukan semanis itu oleh suaminya. Dari dulu memang sifatnya seperti itu. Mudah naik darah, namun lekas turun emosinya jika dibaik-baiki. Ruben hafal sekali dengan tabiat istrinya itu. Dia tak mempermasalahkannya. Asalkan Tina masih melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga dengan baik.


“Ya sudahlah, Mas,” ujar wanita itu mengalah. “Aku akan menuruti kata-katamu. Biarlah Sam dan istrinya yang memilih nama untuk anak mereka. Kita mendukung saja dari belakang. Tapi sesekali boleh dong, aku memberi masukan tentang cara merawat bayi dengan baik. Karena Aileen kan belum berpengalaman. Dia….”


Ucapan Tina terhenti seketika. Tubuhnya sudah digendong suaminya menuju ke kamar mandi. Ekspresi Ruben yang begitu mendamba membuat wanita separuh baya yang masih tampak cantik sekali itu tertawa keras. Dia tahu suaminya itu sedang dalam masa puber kedua. Hasrat biologisnya menggebu-gebu seperti anak remaja.


“Aku sudah mandi, Mas,” kata wanita itu ketika Ruben menurunkan tubuhnya dalam posisi berdiri di kamar mandi.


“Aku belum,” jawab suaminya enteng. “Kan habis pulang kerja. Dan aku sekarang mau ditemani mandi oleh istriku tercinta. Mengulangi masa-masa bulan madu dulu. Hehehe….”


“Ih, kamu kok genit sih, Mas? Nggak malu sama umur!”


“Ya sudah kalau kamu nggak mau. Aku cari….”


“Eit! Mau cari siapa? Jangan berani-berani, ya!”


Ruben tertawa geli. Dia memang senang sekali menggoda istrinya kalau hasratnya sedang naik begini. Dan setidaknya Tina tak lagi mengungkit-ungkit hal-hal yang bukan menjadi urusannya. Seperti masalah nama cucu mereka kelak. Dia bisa beristirahat dengan tenang setelah bermesraan dan mandi bersama dengan sang istri.


Dalam hati Tina sebenarnya tahu suaminya sering menggunakan cara itu untuk mengalihkan perhatian dari persoalan yang sedang dibicarakannya. Dan wanita itu memilih untuk mengikuti saja kehendak Ruben demi keharmonisan hubungan mereka sebagai suami-istri.


Status Ruben sebagai  salah seorang crazy rich Surabaya sangat memungkinkan dirinya untuk bermain perempuan di luaran. Bahkan mempunyai beberapa wanita simpanan bukanlah hal yang sulit dilakukan oleh pria itu. Namun selama hampir tiga puluh tahun usia pernikahan mereka, tak pernah sekalipun Tina mendengar adanya gunjingan ataupun mendapatkan jejak tentang perselingkuhan suaminya.


Pun wanita itu selalu waspada. Jangan sampai ada cela yang bisa membuat Ruben pindah ke lain hati. Cara yang dilakukannya bukan dengan menguntit ataupun mencari tahu kegiatan suaminya di luar rumah. Melainkan dengan selalu merawat kecantikan wajah dan tubuhnya sendiri. Juga mengikuti kelas-kelas senam kegel sebagai upaya untuk memuaskan suami di atas ranjang.

__ADS_1


Demikianlah pembahasan tentang nama penerus keluarga Manasye berakhir dengan kemesraan Ruben dan Tina di kamar mandi. Pasangan suami-istri itu tidak tahu bahwa mungkin itu cara Tuhan supaya mereka tidak terlalu bersedih atas musibah yang tak lama kemudian terjadi….


***


__ADS_2