
Hati istri Samuel itu berdesir. Dia dapat menduga kelanjutan kata-kata Tina. Perasaannya tiba-tiba menjadi sedih. Dia merasa memberi harapan kosong pada ibu kandung suaminya itu.
Sementara itu Tina mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia tak suka kelihatan lemah di hadapan orang lain. Setelah berhasil menenangkan diri, wanita itu melanjutkan kata-katanya, “Papa dan Mama sangat mengharapkan kehadiran penerus keluarga Manasye. Semoga kamu bisa segera mengandung anak Sam ya, Leen. Kehidupan perkawinan kalian pasti akan lebih berwarna kalau ada buah hati yang lucu. Sebanyak mungkin nggak apa-apa, deh. Nanti kalau kamu kesulitan mengasuh, Mama bisa carikan baby sitter. Juga pembantu rumah tangga untuk bersih-bersih.”
“Iya, Ma. Terima kasih,” jawab sang menantu singkat.
Ibu mertuanya tampak berpikir sejenak. “Atau…,” lanjut wanita itu kemudian. “Gimana kalau mulai sekarang saja kamu pakai pembantu, Leen? Supaya tidak terlalu cape membersihkan rumah. Sam juga tidak direpotkan. Pasangan suami-istri kalau terlalu lelah bisa berakibat susah punya anak, lho.”
Mati aku! pikir Aileen cemas. Mamanya Sam ini orangnya kepo banget. Suka sekali ngatur-ngatur. Bisakah aku bertahan dalam perkawinan ini dua tahun lamanya? Belum lagi kalau nanti harus pura-pura hamil anak Sam demi membahagiakan hati kedua orang tuanya. Gimana kalau mama mertuaku ini nantinya mau mengantarku periksa ke dokter spesialis kandungan atau menyentuh perutku yang kurekayasa supaya kelihatan besar?
Kepala perempuan itu terasa berat seketika. Ternyata menjalani perkawinan sandiwara itu tidaklah sesederhana yang direncanakan Samuel dulu. Banyak hal tak terduga yang harus dihadapi oleh Aileen.
Contohnya kedatangan tiba-tiba ibu mertuanya ini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Padahal tadi dirinya sedang berasyik-masyuk dengan James di dalam kamar tamu lantai dua. Dan mereka berdua hampir mencapai puncak kenikmatan tatkala terdengar suara bel pintu berkali-kali.
Aileen segera melepaskan diri dari kekasihnya. Diintipnya siapa yang datang dari jendela kamar tersebut. Alangkah kagetnya perempuan itu saat mengenali mobil mewah ibu mertuanya berhenti tepat di depan rumah!
Tanpa ba-bi-bu lagi Aileen segera mengenakan pakaiannya kembali. Tak dipedulikannya sang kekasih yang cemberut memandanginya. Perempuan itu menyisir rambutnya yang acak-acakan sambil berkata pada James bahwa ibu mertuanya datang. Dimintanya pemuda itu supaya tidak keluar kamar. Kalau perlu bersembunyi di dalam lemari supaya tidak ketahuan Tina kalau tiba-tiba wanita itu masuk untuk melakukan inspeksi.
James melengos kecewa. Padahal tinggal sedikit lagi…, batin pemuda itu dongkol. Diperhatikannya Aileen yang keluar meninggalkan kamar itu dengan tergopoh-gopoh. Aku ditinggalkan sendirian di kamar ini, omelnya dalam hati. ****!
Aileen sendiri merasa cemas sekali waktu itu. Takut tindak-tanduknya bercinta dengan laki-laki lain di rumah ketahuan oleh Tina. Ibu kandung Samuel itu bisa menghukumnya dengan cara yang tak terbayangkan!
“Leen…Aileen…. Kamu kok melamun? Mikirin apa?”
Yang ditanya tersentak. “Hmm…nggak…nggak mikir apa-apa kok, Ma,” jawab sang menantu terbata-bata. Wajahnya pucat pasi. Mati aku! batinnya panik. Bisa-bisa perempuan ini merasa curiga dengan sikapku.
__ADS_1
Namun praduga Aileen tak menjadi kenyataan. Ibu mertuanya malah tersenyum dan berkata, “Kamu panik ya, dengan permintaan Mama supaya segera memberi cucu?”
Istri Samuel itu tak terpikir cara lain yang lebih tepat selain mengangguk. Tina terkekeh.
“Tenang saja, Nak. Mama memang kadang suka ceplas-ceplos bicara. Jangan kuatir. Mama nggak akan memaksamu untuk memakai jasa pembantu rumah tangga kalau kamu nggak suka. Nanti kalau kamu sudah hamil saja kita pikirkan hal itu. Sekarang Mama pulang dulu, ya. Kamu jangan kecapekan kerja. Jaga kesehatan baik-baik.”
“Iya, Ma,” jawab Aileen lega.
Akhirnya ibu mertuanya ini akan pergi juga. Dia bisa melanjutkan kesenangannya bercinta lagi dengan sang kekasih.
Setelah Tina meninggalkan rumah itu, Aileen segera menemui kekasihnya di kamar lantai dua tempat mereka tadi bercinta. Alangkah kecewanya dia melihat James sudah berpakaian lengkap. Raut wajah pemuda itu tampak masam.
“James,” ucapnya lirih. “Mamanya Sam sudah pulang. Kamu kok sudah rapi begini? Ayo kita lanjutkan lagi….”
“Telat!” sela pemuda itu sebal. “Sudah kuselesaikan sendiri tadi di kamar mandi. Kamu juga, sih. Lama sekali menghadapi perempuan itu. Mana tahan aku disuruh menunggu!”
“Yah, terus gimana, dong. Namanya juga orang tua. Mesti diladeni baik-baik maunya apa, kan?” kilah perempuan itu beralasan. “Tapi yang penting dia sudah pergi sekarang, Sayang.”
“Dan sebentar lagi aku juga akan pergi!” sergah James kasar. “Dalam waktu tujuh menit ojek online yang kuorder akan sampai di depan.”
Sang kekasih melongo. “Lho, kok….,” cetusnya kecewa. “Kamu cepat sekali pulang? Nggak nunggu sejam lagikah? Kita berdua bisa ngobrol dan….”
“Aku sudah nggak selera ngobrol sama kamu!” bentak pemuda itu gusar.
Aileen ternganga. Memang salahku mamanya Sam tiba-tiba datang dan menginterupsi adegan ranjang kita? batin wanita itu nelangsa. Dia sedih sekali upayanya selama ini menyenangkan hati sang kekasih tak dihargai.
__ADS_1
Mata Aileen mulai berkaca-kaca. James merasa muak melihatnya. Tapi dia terpaksa memperbaiki sikapnya agar sang kekasih membiarkannya pergi.
“Sudahlah. Jangan menangis. Bukalah pintu pagar agar aku bisa pergi ke restoran. Ada hal penting yang harus kuurus,” kata pemuda itu berpura-pura.
Aileen mengangguk. Diikutinya langkah kaki sang kekasih meninggalkan kamar tersebut. Setelah menuruni tangga, wanita itu mengambil kunci pintu pagar. James sendiri langsung melangkah keluar rumah. Dia berdiri di teras sambil melihat-lihat kondisi di depan rumah. Terdengar suara sepeda motor dari kejauhan.
Benar saja, kendaraan roda dua itu berhenti tepat di depan pintu pagar rumah Aileen. Pengemudianya memakai helm dan jaket berwarna hijau berlogo brand ojek online ternama.
“Ojekku sudah datang, Leen,” katanya pada sang kekasih yang sudah berdiri di belakangnya.
Perempuan itu mengangguk. Dia bergegas membuka gembok pintu pagar. Setelah pintu pagar terbuka, James ngeloyor begitu saja melewatinya tanpa berpamitan pada sang kekasih. Demikian pula ketika pemuda itu sudah duduk di belakang pengemudi ojek online itu dan memakai helm. Tak ditolehnya Aileen sedikitpun.
Malahan justru sang pengemudi yang berpamitan pada sang nyonya rumah. Aileen mengangguk dan berkata, “Hati-hati ya, Pak. Jangan ngebut.”
“Siap, Non,” jawab pengemudi tersebut sopan.
Lalu dia bertanya pada James apakah sudah siap. Pemuda itu menjawab iya. Beberapa saat kemudian kendaraan roda dua tersebut meluncur meninggalkan rumah Aileen.
Kekasih James itu menitikkan air mata. Ini pertama kalinya sang kekasih meninggalkan rumahnya tanpa berpamitan. Padahal dia sudah bersusah payah membuatkan masakan kesukaan pemuda itu hari ini. Kenapa hanya karena insiden ibu mertuanya datang tiba-tiba, James bisa sampai semarah itu padanya?
Sementara itu James yang sedang berada dalam perjalanan menuju restoran bersumpah dalam hati takkan datang lagi ke rumah itu.
Aku sudah bersusah-payah meluangkan waktu untuk datang kesana, eh…tiba-tiba ada interupsi tak terduga dan menyebabkan adik kecilku merana, batin pemuda itu kecewa. Ini baru terjadi sekali. Tapi selalu ada kemungkinan terjadi lagi yang kedua, ketiga, dan selanjutnya! Malas ah, pacaran kucing-kucingan terus kayak gini. Mending cari cewek baru yang bisa ditemui kapan saja. Bisa dibawa pergi kemana-man. Nggak perlu takut ketahuan orang lain!
Selamat tinggal, Aileenku Sayang, cetus James dalam hati. Aku sudah nggak sanggup backstreet sama kamu. Jalani saja kehidupanmu yang sekarang sebagai istri orang kaya. Kita berdua memang tidak berjodoh!
__ADS_1
***