
Raffaella baru saja selesai membersihkan tubuhnya setelah kembali dari kediaman orang tua Liam. Bagi Raffaella pertemuan malam ini banyak memberikan pelajaran kepadanya.
Bahwa dengan bergelimang harta ternyata belum tentu membuat seseorang merasa bahagia dan puas, kecuali mereka yang pandai bersyukur di setiap helaan nafas mereka. Maka akan merasakan kebahagiaan sesungguhnya.
Raffaella melihat tempat tidur, tidak ada Liam di sana. Raffaella yang menggunakan piyama panjang mengedarkan pandangan matanya ke penjuru kamar tidak menemukan keberadaan kekasihnya itu di kamar.
Setelah berpamitan pada mamanya tadi, sepanjang perjalanan didalam mobil Liam lebih banyak diam. Nampak sekali ia sedangkan banyak pikiran. Raffaella hanya bisa menggenggam tangannya, sebagai bentuk memberikan dukungan pada laki-laki yang dicintainya itu.
Raffaella tahu yang dipikirkan Liam adalah masalah keluarganya, Raffaella merasa tidak berhak bertanya-tanya perihal intern keluarga Liam kecuali jika Liam ingin bercerita kepadanya tentu saja Raffaella akan menjadi pendengar yang baik.
Raffaella melangkahkan kakinya hendak keluar kamar mencari keberadaan Liam, saat ia melihat laki-laki itu berada di balkon kamar.
Raffaella mendekati Liam yang sedang menghisap rokok sambil meneguk wine.
__ADS_1
Liam tidak menyadari kehadiran Raffaella di dekatnya.
"Liam... sekarang sudah malam, apa kau akan terus berada di sini?", ucap Raffaella sambil melihat asbak yang penuh puntung rokok.
"Kau terlihat kacau, sayang. Apa mau membagi beban pikiran mu pada ku? Aku adalah pendengar yang baik, jangan ragukan itu", ujar Raffaella sambil mengusap lembut punggung Liam.
Huhhh..Liam menghembuskan nafasnya.
"Kota ini aku cintai sekaligus menyedihkan untuk ku. Setiap ke kembali ke sini, hati ku selalu sedih. Perselisihan dengan papa selalu saja terjadi. Papa selalu memaksakan kehendaknya pada ku. Sementara aku ingin maju dengan caraku sendiri. Aku dan papa bagaikan air dan api", ucap Liam menerawang menatap bintang di langit.
"Walau bagaimanapun kau beruntung Liam, masih memiliki kedua orangtuamu. Mama Yo-Ina mengingatkan aku pada mommy ku yang sudah lama tidak bersama ku lagi. Kau tahu Liam saat mama memeluk ku tadi aku merasakan dekapan seorang ibu kepada anaknya. Aku sudah sangat lama tidak mendapatkan dekapan seperti tadi", ucap Raffaella.
"Mama wanita penyayang, di sela kesibukannya ia selalu mengurusi ku. Kasih sayang mama lah yang membuat ku tumbuh normal seperti sekarang. Sementara papa menjadi seorang yang ambisius dan gila kerja. Aku tumbuh seperti tidak memiliki ayah karena papa tidak pernah ada waktu untuk ku".
__ADS_1
Cukup lama Raffaella dan Liam berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing hingga waktu semakin malam.
"Liam, sekarang aku sudah mengantuk. Aku mau tidur, bukankah besok pagi kita akan kembali ke Barcelona. Ayo kita istirahat", ucap Raffaella menarik tangan kekasihnya itu.
"Iya ayo kita masuk. Kau tidur saja duluan aku akan membersihkan tubuhnya ku dulu", ujar Liam masuk ke walk in closet.
Raffaella merebahkan tubuhnya, ia mematikan lampu tidur yang ada di nakas sebelahnya.
"Uhhh... rasanya lega sekali sudah menemui orang tua Liam walaupun ayahnya belum memberikan restunya untuk aku dan Liam, tapi setidaknya mama Liam sudah menerima ku apa adanya".
"Semoga saja takdir membawa kebaikan kepada aku dan Liam. Semoga tuan Lee Jae memberikan restunya pada pernikahan ku dan Liam nanti", batin Raffaella sambil memejamkan kedua matanya.
...***...
__ADS_1
MAAF UP ALAKADARNYA MALAM INI, KARENA RL. BESOK DI USAHANYA UPDATE LEBIH BYK DAN ALURNYA LEBIH NGENA. TETAP DUKUNG MA 🙏