
Assensio baru saja selesai mandi tubuhnya hanya memakai bathrobe berwarna putih sementara rambutnya masih basah di keringkan dengan handuk kecil.
Ia melihat istrinya yang masih tertidur pulas dan tek bergerak sedikitpun dari posisi saat Assensio bangun tadi. Tidak seperti biasanya Tatiana belum bangun biasanya ia selalu bangun pagi dari Assensio.
Assensio mendekati tempat tidur dan duduk sambil mengusap lembut wajah istrinya. Tapi Assensio terkejut saat merasakan kulit wajah Tatiana terasa panas. Assensio merasakan sekujur tubuh istrinya itu dan merasakan sangat panas sekali.
"Sayang, apa kau demam? Ayo minum air hangat dulu", ujar Assensio terlihat panik sambil membangunkan Tatiana yang masih memejamkan kedua matanya.
Saat merasakan ada sentuhan di wajahnya perlahan Tatiana membuka matanya. "Ahh...kepalaku pusing sekali", ucap Tatiana terdengar lirih.
"Ayo minum air hangat ini. Aku akan meminta Hector memanggil dokter sekarang juga", ujar Assensio.
"Kepalaku pusing dan tubuh ku lemas sekali, sayang".
"Tunggu sebentar, aku akan menghubungi Héctor", ucap Assensio sambil menekan nomor Hector asisten Alvaro yang sebenarnya dulu adalah asistennya.
Setelah terhubung, Assensio meminta Hector memanggil dokter Kenzo, dokter keluarga untuk mengobati Tatiana yang sedang demam tinggi.
Setelah menutup telpon, Assensio berganti pakaiannya di ruang wardrobe.
Tak butuh waktu yang lama, laki-laki itu kembali menemani istri nya yang masih rebahan.
Wajah Tatiana terlihat sangat pucat sekali. Assensio mendekati istrinya. "Sayang apa yang kau rasakan sekarang. Wajah mu pucat sekali".
"Aku merasakan tubuh ku seperti tidak bertenaga dan kepalaku pusing. Mungkin aku masuk angin saja", ujar Tatiana pelan.
Assensio mengusap lembut kening istrinya. "Kalau kau sakit begini kita tunda saja kepulangan kita ke Madrid. Aku tidak mau kau kenapa-napa, sayang".
__ADS_1
"Iya..
Tok tokk tokk
Assensio membuka pintu kamarnya, terlihat seorang pelayan memberitahu bahwa dokter sudah datang.
"Segera suruh masuk", perintah Assensio yang kembali duduk di samping istrinya, membetulkan letak kepala Tatiana diatas bantal.
"Sayang dokter pribadi keluarga akan memeriksa mu sekarang", ujar Assensio sambil menarik selimut menutupi sebagian tubuh istrinya.
Tatiana menganggukkan kepalanya pelan. Tubuhnya masih terlihat lemah dan Wajahnya terlihat pucat pasi.
"Selamat pagi tuan Assensio,
ucap dokter tersenyum ramah.
Menit berikutnya..
"Istri ku demam kepalanya pusing dan badannya sangat panas, Kenzo", ujar Assensio.
Dokter Kenzo masih terlihat muda itu. Usianya sama seperti Assensio.
Kenzo adalah teman sekolah Assensio di sekolah tingkat atas hingga sekarang mereka masih menjadi teman baik. Apalagi begitu mengetahui Assensio masih hidup, Kenzo dan Assensio selalu berkomunikasi dengan baik.
"Baiklah, kita periksa dulu istri mu", ujar Kenzo.
Assensio berdiri memberikan tempat untuk dokter memeriksa dengan teliti keadaan istrinya.
__ADS_1
Terlihat Kenzo memeriksa Tatiana berulangkali. Laki-laki itu mengernyitkan alisnya. Untuk memastikan dugaannya, sekali lagi ia memeriksakan tubuh Tatiana. Kenzo tampak tersenyum. Sumringah.
Assensio dan Tatiana menatap dokter.
"Tidak ada yang perlu kau kuatir kan Assen, istrimu sedang hamil muda", ucap Kenzo dengan yakin.
Perkataan Kenzo sontak membuat Assensio dan Tatiana seolah tak percaya dengan apa yang di dengar mereka barusan. Tatiana langsung melonjak duduk dengan bersandar pada tumpukan bantal.
"Apakah istriku benar hamil Ken?", tanya Assensio masih belum percaya apa yang di dengarnya tadi.
"Iya, aku yakin seratus persen istrimu hamil. Tapi untuk memastikannya kau harus memeriksa kan istrimu ke dokter kandungan", jawab Kenzo sambil memberikan obat yang di bawanya pada Assensio.
"Ini hanya vitamin penguat saja dan obat penurun demam. Minum sesudah makan. Aku sarankan segera kau bawa istrimu ke dokter kandungan karena hamil muda kondisinya masih sangat rawan, Assensio", ujar Kenzo kemudian pamit pulang karena ia ada operasi pagi ini di rumah sakit tempatnya bekerja.
Setelah dokter Kenzo pergi, Assensio yang terlihat sangat bahagia menghampiri istrinya yang masih duduk bersandar di tempat tidur sambil mengusap lembut perutnya yang masih rata.
"Sayang... kau dengar itu, akhirnya diperut mu tumbuh buah cinta kita Tatiana", ucap Assensio nampak begitu bahagia sambil mengelus-elus perut istrinya yang masih rata itu.
"Iya Assen aku mendengar nya", ucap Tatiana pelan.
"Sayang kita tetap berada di Barcelona sampai keadaan mu membaik. Sore nanti aku akan membawa mu kontrol ke dokter kandungan. Mungkin sebaiknya kita bertanya dengan Lethicia saja. Sekalian kita harus mengabarkan berita baik ini pada papa dan kakak ku. Kau juga harus memberi tahu daddy dan mama", ujar Assensio.
"Iya sayang, sekarang aku mau mandi dulu. Lihatlah kabar baik ini membuatku langsung sehat dan bersemangat", ucap Tatiana tersenyum bahagia. Tak henti tangannya mengusap-usap perutnya.
...***...
SELAMAT SORE..
__ADS_1
MARRIAGE AGREEMENT MEMASUKI BAB-BAB TERAKHIR YA. POKOKNYA NGAK LEBIH DARI 200 BAB. AUTHOR MASIH MEMIKIRKAN AKHIR CERITA INI HAPPY ATAU SAD. JIKA KALIAN PUNYA IDE UNTUK AKHIR CERITA INI SILAHKAN KOMENTAR 🤗
TETAP DUKUNG KARYA INI YA 🙏 VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA 🙏