MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
Kegundahan Hati Ernie


__ADS_3

Ucapan wanita itu tiba-tiba terhenti. Dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya sampai selesai. Takut kekuatirannya itu akan menjadi kenyataan. Sementara itu sang suami mulai memejamkan matanya rapat-rapat. Tina menghembuskan napas kesal. Namun dirinya merasa kasihan juga melihat raut wajah suaminya tampak kelelahan.


Perlahan dia berbisik pada laki-laki itu, “Mas…ayo tidur yang benar. Jangan dalam posisi duduk begini. Ayo berbaring saja….”


Selanjutnya dibantunya Ruben tidur dalam posisi miring dengan memeluk guling. Diselimutinya tubuh kekar itu dengan selimut tebal. Terdengar suara dengkuran halus pria itu yang menandakan dirinya sudah terlelap.


Tina menghela napas dalam-dalam. Dia lalu berkata pada dirinya sendiri, “Firasatku mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan pernikahan ini. Aileen Benyamin memang seorang gadis baik-baik. Tapi terlihat jelas dia tidak menaruh perasaan pada anakku. Beda dengan Sam yang sepertinya mulai menaruh hati pada calon istrinya itu. Aku takut kalau…kalau…Aileen ternyata mencintai laki-laki lain. Dia seorang gadis yang cerdas dan menarik. Masa belum mempunyai pacar? Kasihan sekali anakku kalau ternyata istrinya nanti ternyata mencintai laki-laki lain….”


Setelah menimbang-nimbang selama beberapa saat lamanya, wanita itu akhirnya mengambil keputusan untuk menanyakan hal-hal yang ingin diketahuinya tentang Aileen pada ibunya langsung.


“Dua hari lagi aku akan bertemu dengan Jeng Ernie di tempat desainer gaun pesta. Akan kutanyakan beberapa hal tentang anak perempuannya itu. Hatiku tidak tenang rasanya kalau belum mengetahui siapa sebenarnya calon menantuku itu mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki!”


***


Dua hari kemudian pada siang hari Ernie dijemput di rumahnya oleh Samuel. Aileen tidak mengantarkan ibunya ke luar rumah. Dia beralasan harus segera menyelesaikan terjemahan novel online yang harus segera dikirimnya ke penerbit via email dua jam kemudian.


“Baiklah, Leen. Kalau begitu Mama langsung menunggu Nak Sam di luar, ya,” sahut Ernie mengalah. “Jadi kami bisa segera berangkat ke tempat desainer gaun pesta itu.”


Putri semata wayangnya itu tersenyum. Dianggukkannya kepalanya pelan. “Bikin model yang keren ya, Ma,” selorohnya menggoda. “Supaya bisa menyaingi kehebohan gaun yang dipakai  Tante Tina. Hahaha….”

__ADS_1


Sang ibu geleng-geleng kepala mendengar godaan putrinya. Dia sendiri sejujurnya tak tahu akan membuat gaun model apa. Pasrah saja sama saran desainer nanti, pikirnya simpel. Orang itu kan sudah sangat berpengalaman dalam bidangnya. Pasti bisa memberikan saran terbaik bagiku.


Beberapa saat kemudian Ernie sudah berada di teras depan rumahnya menunggu kedatangan calon menantunya. Samuel berjanji akan menjemputnya pukul satu siang. Dan sebagaimana dua hari yang lalu ketika menjemput Ernie dan Aileen untuk pergi bersama-sama ke bridal showroom, pemuda itu lagi-lagi datang tepat waktu.


Dengan senyum merekah di wajahnya yang ayu, Ernie melangkah ringan ke arah pintu pagar rumahnya. Dibukanya pintu besi yang dicat putih itu sedikit hingga memberika celah baginya untuk keluar. Kemudian ditutupnya engsel pintu bagian dalam dan digemboknya.


Ketika perempuan setengah baya itu membalikkan tubuh rampingnya ke arah mobil Mercedes Benz warna hitam yang dikemudikan Samuel, tampak olehnya wajah pemuda itu dari balik jendela mobil yang terbuka lebar.


“Silakan masuk, Tante,” ucap sang pemuda ramah seraya membukakan pintu mobil dari dalam.


Ernie mengangguk mengiyakan. Dia merasa nyaman dengan keramah-tamahan pemuda ini yang dianggapnya tak berlebihan. Membukakan pintu mobil dari dalam bagi wanita itu sudah merupakan etika yang wajar dilakukan dewasa ini. Tidak perlu sok gentleman turun dari mobil dan berdiri membukakan pintu untuknya bagaikan keturunan bangsawan yang wajib dihormati.


“Oh, saya tadi berangkat dari kantor, Tante. Menyelesaikan pekerjaan dulu di sana, makan siang, lalu menjemput Tante sekarang. Rumahnya kok kelihatan sepi, Tante. Aileen sedang pergikah?” tanya pemuda itu ingin tahu. Terlihat sekali dia sangat mempedulikan gadis yang tak lama lagi akan menjadi pendamping hidupnya itu.


Calon ibu mertuanya tersenyum hangat. Dia berkata, “Aileen ada di kamarnya. Dia sedang fokus menyelesaikan terjemahan novel online. Katanya dua jam lagi harus dikirimkan ke penerbit lewat email.”


“Oh, begitu, Tante,” komentar Samuel menanggapi. “Kelihatannya ramai juga ya, orderan jasa terjemahan Aileen?”


“Ya, begitulah, Nak Sam,” jawab Ernie bangga. “Barangkali itu memang talenta yang diberikan Tuhan padanya untuk mencari nafkah. Tante dan Om sih, setuju-setuju saja. Asalkan Aileen menikmatinya dan bisa hidup mandiri dari penghasilannya itu.”

__ADS_1


Calon anak menantunya manggut-manggut setuju. Perasaan bangga terbersit dalam hati pemuda itu. Ia senang calon istrinya seorang perempuan yang mampu berdikari dan tidak bergantung pada suami.


Tiba-tiba Samuel tersentak. Dia jadi heran sendiri kenapa begitu perhatian pada calon istrinya. Padahal perkawinan mereka nantinya hanyalah di atas kertas belaka. Pada kenyataannya dia membebaskan Aileen Benyamin untuk melakukan apapun yang dikehendakinya. Termasuk berpacaran dengan laki-laki lain di dalam rumah yang akan mereka tempati setelah menikah kelak!


“Nak Sam. Nak Sam…, kok melamun? Kita jadi berangkat, nggak?” tanya Ernie membuyarkan lamunan calon anak menantunya.


“Oh…iya…anu…maafkan Sam, Tante. Aduh, kok saya tiba-tiba kepikiran sesuatu,” kata Samuel gugup. Keringat dingin mengalir keluar dari pelipisnya.


“Apakah Nak Sam kurang sehat?” tanya Ernie prihatin. “Mau beristirahat dulu sebentar di rumah Tante? Atau…biar Nak Sam tidur saja di kamar tamu, lalu Tante naik taksi online pergi ke tempat desainer itu? Kasihan mamanya Nak Sam kalau menunggu lama di sana….”


Pemuda itu nyengir. Mama nggak akan menunggu kedatangan Tante Ernie, batinnya geli. Dia pasti sedang asyik memilih-milih model gaun yang cocok untuknya. Itu merupakan salah satu hobinya. Menentukan gaun dan aksesoris apa yang akan dikenakannya agar tampil sempurna di hadapan orang banyak.


“Saya nggak apa-apa, Tante Ernie,” sahut Samuel sopan. “Mari kita berangkat sekarang ke tempat desainer itu.”


Calon ibu mertuanya mengangguk. Diperhatikannya pemuda yang duduk di sampingnya itu menjalankan mobil meninggalkan rumah. Selama dua hari pergi bersama anak muda ini, aku kok merasa dia orang yang baik dan dapat diandalkan, ya, komentar wanita itu dalam hati. Pantas Mas Harris menyetujui permintaan Mas Ruben untuk menjodohkan anak-anak kami. Tapi….


Hati ibu kandung Aileen itu merasa gelisah. Dia tahu anak gadisnya terpaksa menjalani perjodohan ini demi rasa baktinya pada orang tua. Jauh di dalam lubuk hati Ernie, terbersit perasaan kurang ikhlas Aileen menikah tanpa rasa cinta.


Berdasarkan pengalamannya menjadi seorang istri selama dua puluh tahun lebih, perasaan cinta terhadap suami itu sangatlah diperlukan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Hal itu berguna untuk memotivasi dirinya agar senantiasa mempertahankan keharmonisan hubungan suami-istri.

__ADS_1


Tak dapat dipungkiri, kehidupan berumah-tangga setiap pasangan tak ada yang berjalan mulus-mulus saja. Pasti ada hal-hal di luar dugaan yang berisiko menggoyahkan ikatan perkawinan. Perasaan cinta terhadap pasangan sedikit-banyak dapat membantu istri untuk berjuang mempertahankan rumah tangganya apapun yang terjadi.


__ADS_2