MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
KESETIAAN TATIANA


__ADS_3

"Lethicia kemana Moreno dan Alvaro ya, kenapa sudah senja begini mereka belum kembali".


"Aku juga tidak tahu Audri, kata Alvaro mereka ada pekerjaan penting", jawab Lethicia.


"Uhh laki-laki itu jika sudah sibuk dengan pekerjaannya lupa dengan kita", seru Audri.


Lethicia tersenyum mendengarnya. "Audri bagaimana dengan rencana pernikahan kalian?".


"Sudah berjalan enam puluh persen Lethi. Semua dilakukan dengan dadakan. Ya mau bagaimana lagi, Moreno ingin cepat-cepat menikah. Sebenarnya aku ingin pernikahan kami dilangsungkan tiga bulan lagi, tapi Reno mau cepat. Semuanya ia yang mengurusnya. Di bantu lima jasa wedding organizer sekaligus".


"Aku tinggal memilih mau tema resepsi seperti apa. Tapi untuk urusan gaun pengantin aku mau sesuai keinginan ku. Karena aku menginginkan pernikahan sekali seumur hidup ku. Tentu saja aku ingin terlihat special di hari itu. Bagi ku tidak perlu budget yang fantastis untuk sebuah pernikahan tapi harus romantis. Ya tapi berbeda dengan keinginan Moreno ia menginginkan pernikahan yang mewah", ucap Audri.


"Agree... Sepemikiran dengan ku. Jika aku bisa mengulang resepsi pernikahan ku dengan Alvaro aku lebih memilih pesta outdoor seperti di perkebunan lavender milik Alvaro. Hm.. pasti sangat romantis berada di hamparan lavender yang berwarna ungu. Sangat indah. Tapi itu tidak mungkin terjadi karena pernikahan kami dadakan saja. Bahkan tidak ada resepsi".


"Kau menginginkan resepsi pernikahan kita sayang?", suara Alvaro mengejutkan Lethicia yang membelakanginya.


Audri tertawa melihat temannya itu kaget dengan kedatangan suaminya tiba-tiba sudah ada dibelakangnya.

__ADS_1


Lethicia melebarkan kedua matanya menatap selidik Audri yang tertawa. "Iss kau ini sengaja mempermainkan aku? Mereka sudah datang tapi tidak memberitahu ku".


"Audri tidak salah sayang aku yang memintanya pura-pura tidak tahu dengan kehadiran ku. Aku ingin mendengar keinginan mu tentang resepsi pernikahan", jawab Alvaro mengecup lembut wajah istrinya yang memerah.


"Lupakan, aku hanya menjawab spontan saja tadi", balas Lethicia tersenyum.


Sementara Moreno duduk di sebelah Audri, menyandarkan kepalanya pada bahu kekasihnya itu.


"Kalian dari mana? aku dan Audri menunggu kalian. Katamu kita sama-sama akan melihat Assensio dan Tatiana".


"Kami sehabis menyelesaikan pekerjaan penting. Bisnis", jawab Alvaro duduk di samping Lethicia. Ia menggenggam jemari tangan Lethicia dan membawanya ke atas pahanya. "Sepuluh menit lagi kita temui Assensio. Sekarang Hector sudah disana", ucap Alvaro menarik nafas dalam-dalam seperti orang kelelahan.


"Sayang, ada apa dengan tangan mu? Kenapa merah dan memar begini", tanya Lethicia spontan menatap Alvaro dengan tatapan selidik.


Moreno melihat temannya itu terdesak dengan pertanyaan istrinya. Ia pura-pura tidak tahu menahu.


"Oh ini... tidak apa-apa. Tadi saat menutup pintu mobil tangan ku terjepit hingga lecet seperti ini", jawab Alvaro sambil mengusap tengkuknya sendiri.

__ADS_1


Lethicia menarik tangan Alvaro dan mengusapnya perlahan. "Benarkah seperti itu? Kau tidak sedang berbohong kan Varo?".


"Tentu saja tidak, aku mengatakan yang sebenarnya. Tanya saja pada Moreno", jawab Alvaro sambil menatap temannya yang malah memejamkan matanya sambil bersandar di bahu kekasihnya.


"Lebih baik kita keruangan Assensio sekarang", ucap Alvaro mengalihkan pembicaraan.


"Iya jawab Lethicia mengikuti Alvaro yang berdiri".


"Reno, ayo kita keruangan Assensio sekarang", ucap Audri membangunkan Moreno yang sepertinya benaran tertidur.


Moreno membuka matanya. "Kalian duluan saja, nanti aku dan Audri menyusul", jawab Moreno memeluk pinggang Audri.


"Ckck kau ini sepertinya benar-benar sudah tidak tahan", seru Alvaro membalikkan tubuhnya bersama Lethicia ke ruangan di dimana Assensio di rawat.


Sebenarnya pagi hingga siang Alvaro dan Lethicia menghabiskan waktu di ruangan Assensio. Berbincang dengan orang tua Tatiana di ruang tunggu.


Sementara Tatiana setia berada di dekat Assensio. Mengajaknya berbicara hingga membacakan buku untuk suaminya. Meskipun Assensio belum memberikan merespon namun Tatiana tak patah arang, ia tetap bersemangat melakukan rangsangan pada tubuh suaminya sesuai petunjuk dokter. Sesering mungkin mengajak pasien bicara yang menjadi kenangan indah antara keduanya.

__ADS_1


Hingga malam semakin larut seperti sekarang Tatiana tetap setia menemani suaminya. Tatiana hanya keluar ruangan itu saat mengisi perut kosongnya saja dan meminum obatnya. Karena Tatiana juga harus sehat dan sembuh dari sakit tubuhnya akibat tragedi yang dialaminya kemarin bersama suaminya.


...***...


__ADS_2