
Perlahan dia berkata pada suaminya, “Aku mau mandi dulu, Sam. Supaya lebih segar dan nggak loyo begini. Kamu order makanan aja di aplikasi. Terus makan. Takutnya di rumah sakit nanti lama nunggu antrian dokter. Paling nggak kalau di rumah udah makan sedikit kan, nggak terlalu lapar di sana nanti.”
Samuel mengangguk. Dia lalu menjawab ringan, “Kamu kubelikan bubur ayam aja ya, Leen. Makan dikit-dikit juga. Supaya nggak kelaparan di rumah sakit.”
Sang istri setuju. Ok-lah kalau makan bubur sedikit. Telan dikit-dikit buat sekadar mengisi perut, pikirnya optimis.
Selanjutnya Samuel pergi meninggalkan kamar. Aileen sendiri bersiap-siap untuk mandi. Suaminya turun ke lantai satu untuk memesan makanan lewat aplikasi online sekaligus menunggu orderannya itu datang.
Tak berapa lama kemudian yang ditunggu-tunggu tiba. Seorang driver online datang mengantarkan satu porsi mie goreng Malaysia dan bubur ayam bitan. Sang tuan rumah menerima kantongan berisi dua jenis makanan itu sambil mengucapkan terima kasih. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah.
Diletakkannya kantongan tersebut di atas meja makan. Kemudian Samuel mencuci tangannya di wastafel. Lalu diambilnya sebuah mangkuk dari dalam sebuah lemari berisi perlengkapan makan, yang letaknya di depan meja makan.
Ketika dirinya menghidangkan dua menu itu di atas meja makan, terdengar suara langkah kaki Aileen menuruni anak tangga. Samuel langsung menyapa istrinya tersebut.
“Bubur ayam bitan buatmu sudah datang, Leen. Kutaruh di mangkuk, ya?”
Aileen mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Dia berjalan mendekati meja makan. Terbit air liurnya melihat semangkuk bubur ayam plus potongan-potongan telur hitam kesukaannya.
“Ayo cepat dimakan,” ajak Samuel ramah. “Keburu dingin nanti.”
“Kamu sendiri pesan apa, Sam?” tanya sang istri ingin tahu.
“Ini,” jawab suaminya sambil membuka sebuah kotak karton putih berbentuk persegi. “Mie goreng Malaysia. Aku lagi pengen makan yang pedas-pedas. Hehehe….”
“Nggak ditaruh di piring?”
“Nggak usah. Repot nyucinya nanti. Kalau gini kan, abis makan langsung buang. Kalau buburmu tadi ditaruh dalam cup plastik. Nggak enak langsung makan di sana. Makanya kupindahin ke mangkuk saja.”
__ADS_1
Aileen tersenyum. Dia terharu dengan perhatian pria ini. Seandainya saja James memberinya perhatian separuh saja dari yang diberikan Sam, dirinya pasti bahagia sekali. Tapi kekasihnya itu entah berada di mana sekarang. Seolah-olah sengaja menghindarinya karena masih kecewa akibat kedatangan Tina tempo hari saat mereka sedang bermesraan.
“Yuhuuu…. Melamun apa, Leen? Kalau nggak makan sekarang, keburu malam baru sampai rumah sakit, lho. Lihat, sekarang udah hampir jam enam petang.”
“Oh, iya, iya. Sori, sori. Aku makan deh, sekarang.”
Sikap gugup istrinya itu membuat Samuel semakin kuatir. Jangan-jangan Aileen sakit karena perasaannya sedang tidak enak, pikirnya menduga-duga. Apa dia sedang ada masalah dengan pacarnya?
Dilihatnya perempuan itu meniup pelan bubur di atas sendok makannya. Lalu makanan separuh padat separuh cair berwarna putih itu dimasukkannya ke dalam mulut. Terlihat Aileen memejamkan mata saat mengunyah dan menelan bubur. Ekspresi wajahnya menunjukan betapa dirinya menikmati makanan tersebut.
“Hmm…enak sekali bubur ini, Sam,” pujinya setulus hati.
Sang suami senang melihat istrinya menyukai bubur yang dibelinya. “Syukurlah kamu suka, Leen. Itu bitannya dimakan juga. Kamu kan suka telur hitam itu,” katanya penuh semangat.
“Thanks ya, Sam. Kamu kok ya ingat aku suka sekali makan bubur pakai bitan.”
“Mie goreng Malaysia-mu kayaknya enak juga, Sam. Pedas bangetkah?”
“Nggak terlalu pedas. Mau coba? Ini.”
Samuel spontan memajukan sendoknya yang berisi mie goreng Malaysia di depan mulut Aileen. Istrinya itu terkejut. Pria itu segera tersadar. Ya ampun! serunya dalam hati. Masa aku menyuapi Aileen dengan sendok makan bekasku? Mana mau dia?
Dan memang benar. Istrinya itu menolak dengan halus. “Jangan, Sam. Aku kan, lagi sakit. Nanti kamu ketularan.”
“Oh, kalau gitu sebentar, Leen,” jawab pria itu cepat tanggap.
Diambilnya piring dan sendok bersih. Lalu disisihkannya sedikit mie goreng yang belum disentuhnya. Ditaruh di atas piring tersebut.
__ADS_1
“Kamu makan yang ini aja. Masih bersih, kok. Belum kusentuh. Jadi kita sama-sama aman. Hehehe…,” katanya sambil menaruh piring tersebut tepat di depan mangkuk bubur istrinya.
Aileen menatap suaminya itu sambil tersenyum. Hati Samuel serasa rontok melihatnya. Ingin sekali dia merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya. Sayangnya Aileen pasti akan menonjoknya kalau hal itu benar-benar dilakukan.
“Kamu baik sekali, Sam. Terima kasih,” ucap perempuan itu tulus.
Dia lalu mencicipi mie goreng tersebut. “Enak,” pujinya sungguh-sungguh. “Pedasnya pas.”
“Mau nambah?” tanya Samuel menawari.
Perempuan di hadapannya menggeleng. “Aku belum berani makan pedas banyak-banyak. Takut muntah nanti. Ini saja sudah cukup, Sam.”
Sang pria mengangguk. Selanjutnya pasangan suami-istri sandiwara itu menikmati makanan masing-masing. Mereka tak banyak berbicara. Selesai makan, membereskan meja, dan mencuci perlengkapan makan, kedua insan tersebut berangkat bersama ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kesehatan Aileen.
***
Jam digital di dalam mobil Samuel sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Pria itu dan istrinya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Mereka tadi sudah periksa ke dokter umum di rumah sakit.
Si dokter curiga dengan gejala-gejala meriang, mual, dan muntah yang dialami Aileen. Lalu dia menanyakan jadwal haid perempuan itu. Selanjutnya istri Samuel itu diberi dua buah alat tes kehamilan untuk mengecek di dalam toilet. Seorang perawat menemaninya. Sedangkan Samuel diminta menunggu saja di dalam ruang praktik dokter.
Dada pria itu berdebar-debar menanti kemunculan sang istri kembali. Benarkah Aileen hamil? tanyanya dalam hati. Kalau ya…. Ah, siapa lagi kalau bukan James ayah kandungnya!
Beberapa menit kemudian pria itu melihat istrinya kembali bersama perawat. Wajah Aileen tampak pucat. Matanya berkaca-kaca. Hati Samuel berdesir melihatnya.
“Selamat, Ibu Aileen,” kata sang dokter begitu memeriksa hasil tes si pasien. “Anda positif hamil. Dua test pack berbeda merek ini membuktikannya. Tapi kalau mau tahu lebih detil lagi, saya sarankan untuk periksa ke dokter spesialis kandungan. Bagaimana kalau saya rujuk ke rekan sejawat saya itu saat ini juga? Sepertinya beliau sedang praktik saat ini. Betul tidak, Sus?”
Sang perawat mengangguk. Perempuan itu lalu menyebutkan dua orang dokter spesialis kandungan yang kebetulan sedang praktik sekarang di rumah sakit itu.
__ADS_1
Samuel terdiam selama beberapa saat. Istrinya benar-benar hamil. Perasaan pria itu campur-aduk tak karuan. Bayangan wajah tampan James terbersit dalam benaknya. Api cemburu terasa membakar dadanya. Dia teringat betapa kekasih Aileen itu tampak berseri-seri ketika diberinya kartu akses masuk kamar hotel di malam pengantinnya. Dan sepertinya James berkali-kali menyetubuhi istrinya itu di saat dirinya sedang sibuk bekerja di kantor!