
"Nona Tatiana, anda di tunggu di ruangan tuan Dimitri sekarang juga", ucap asistennya.
"Aku sedang sibuk, kenapa tidak kau katakan pada daddy, Carla".
"Tapi menurut asisten tuan Dimitri, ada hal penting yang ingin ayah nona sampaikan pada anda nona Tatiana".
"Huhhh", terdengar Helaan nafas Tatiana. "Katakan aku sedang menuju ke sana sekarang".
"Baik nona".
Sesaat setelah Carla pergi, Tatiana menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. "Ahh daddy selalu saja maunya sendiri", ucap Tatiana menaruh pena yang di genggamannya ke atas tumpukan kertas di meja kerjanya.
Tatiana beranjak dari tempat duduknya, melangkahkan kaki keluar ruangannya.
"Kate, aku keruangan ayah ku. Jika ada hal yang mendesak kau bisa menghubungi ku karena Carla aku perintahkan mengerjakan tugas di luar", ucap Tatiana dengan tegas pada sekertarisnya.
"Baik nona", jawab Kate dengan hormat.
Sementara Tatiana masuk ke dalam lift khusus menuju ruangan Dimitri yang ada di lantai lima puluh. Ruangan Tatiana yang terletak di lantai enam puluh harus turun. "Sebenarnya ada apa daddy memintaku keruangan nya?", batin Tatiana.
Ting
Lift berhenti di di lantai lima puluh lima, menandakan ada yang hendak masuk.
Saat pintu Lift terbuka, kedua netra Tatiana melebar melihat siapa didepan pintu lift. "Nikolas, kau mau kemana?", tanya Tatiana posesif dan terkesan sangat ingin tahu. Tatiana menyadari pertanyaan bodohnya, ia menggelengkan kepalanya dan cepat-cepat meralat pertanyaannya beberapa saat yang lalu. "Maksudku apa kau ada meeting di luar Nikolas?".
Nikolas tersenyum melihat tingkah istrinya itu yang terlihat malu-malu saat bertemu dengannya. Padahal tadi pagi mereka pergi bersama kekantor. Setelah beberapa waktu sebelumnya keduanya bercinta panas.
Sebetulnya yang meminta pergi bersama kekantor itu adalah ide Nikolas yang awalnya di tolak Tatiana. Namun dengan sedikit ancaman yang di berikan Nikolas akhirnya Tatiana mau pergi bersama nya.
"Aku akan keruangan daddy. Kau juga mau ke sana kan?", ucap Nikolas menatap lekat wajah Tatiana.
__ADS_1
Mendengar perkataan Nikolas semakin membuat Tatiana berpikir. "Memangnya ada apa ya. Jangan katakan kalau daddy sudah mengetahui soal pernikahan bohongan ku dan Nikolas. Dan memutuskan mencoret namanya atas semua warisan daddy", batin Tatiana sambil menundukkan kepalanya menatap lantai.
"Pernikahan kami bukan lagi sekedar pernikahan bohongan melainkan pernikahan sungguhan. Di mana aku dan Nikolas sudah melakukan hubungan intim suami-istri", batin Tatiana dengan lirih. Ia terlihat melamun dan tidak menyadari lift sudah berhenti.
"Tatiana...Heii apa yang kau lamun kan? Apa kau memikirkan suami mu, hem", goda Nikolas tersenyum.
Ucapan Nikolas membuat Tatiana benar-benar tersadar dari lamunan panjangnya.
"A-Aku..
"Sudahlah, nanti saja kita lanjutkan membahas hubungan intim kita, sekarang ayo kita temui ayahmu", Ujar Nikolas sambil menarik tangan Tatiana menuju ruangan Dimitri Dacutti.
Saat sudah berada di depan pintu megah ruangan Dimitri.
Nikolas mengetuk pintu, tak lama terlihat Lee asisten Dimitri membukakan pintu ruangan megah itu. "Tuan Dimitri sudah menunggu nona Tatiana dan tuan Nikolas", ucap Lee mempersilahkan keduanya masuk.
Nikolas menggenggam erat tangan Tatiana. Tatiana tidak menolak maupun protes atas kelakuan Nikolas tersebut.
Tatiana tidak melanjutkan ucapannya. Tubuhnya tercekat sementara netranya menatap kearah ayahnya yang duduk di sofa dan ia tidak seorang diri namun bersama Alvaro Montana juga asistennya Hector yang berdiri belakang Alvaro.
"Alvaro Montana?", ucap Tatiana pelan nyaris tak terdengar.
Sementara Nikolas terlihat biasa-biasa saja. Tangannya masih menggenggam jemari Tatiana. Gesture tubuh keduanya begitu mesra, itu yang di tangkap Alvaro saat melihat Tatiana dan Nikolas masuk keruangan Dimitri.
"Kalian sudah datang. Duduklah", ucap Dimitri.
Nikolas menarik lembut tangan Tatiana duduk di sampingnya di sofa.
"Dad, ada apa daddy memintaku dan Nikolas kemari?", tanya Tatiana sangat penasaran. Apalagi bersama mereka ada Alvaro dan asistennya. Pasti ada hal penting soal pekerjaan mereka. "Apa ada yang salah dengan kontrak kerjasama kita tuan Alvaro?", tanya Tatiana menatap Alvaro yang duduk menyilangkan kakinya sambil menatap lekat Nikolas yang juga menatapnya.
"Ada yang ingin tuan Alvaro Montana katakan ke pada Nikolas dan juga dirimu sayang".
__ADS_1
"Pada ku dan istriku? Ada apa tuan Alvaro?", tanya Nikolas.
Alvaro memberi isyarat pada Hector. Hector mengerti maksudnya, ia memberikan amplop coklat di hadapan Nikolas. "Silahkan tuan Assensio...Ehm, maksud saya tuan Nikolas lihat semua berkas yang ada di amplop itu", ucap Hector dengan hormat.
Tanpa ragu Nikolas mengambil amplop tersebut dan membukanya. Berisi beberapa foto serta ada amplop berukuran kecil lainnya. Nikolas melihat foto-foto itu. Tatiana pun melihatnya.
"Foto siapa ini, aku tidak mengenalnya", ujar Nikolas sambil menatap Alvaro dan Dimitri bergantian.
"Bukalah amplop itu", ucap Alvaro.
Nikolas menurutinya, ia membuka amplop putih dengan logo salah satu rumah sakit di Barcelona. Nikolas terlihat fokus membaca deretan tulisan yang tertera di kertas di genggamannya. Seketika raut wajahnya berubah dratis. Laki-laki itu mengetatkan rahangnya.
"Apa maksudnya ini semua?", Ketus Nikolas menatap tajam Alvaro.
"Hasil tes DNA ku dan diri mu tuan Alvaro? Jelaskan maksudnya apa", ucap Nikolas dengan suara meninggi. Ia berdiri sambil berkacak pinggang dan menatap tajam Alvaro.
Tatiana terdiam mendengar perkataan suaminya. Ia mengambil kertas di atas meja dan membacanya. Tatiana terlihat syok, ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Kedua matanya tampak melotot tak percaya dengan apa yang dibacanya.
"Seperti yang tertera di surat itu, kita bersaudara. Kau adalah adikku Assensio. Nama mu sebenarnya Assensio", ucap Alvaro dengan tenang.
"Foto-foto itu adalah foto kita dan papa Montana, ayah kita. Wanita di foto itu adalah mama mu Matilda", ucap Alvaro.
"Tenangkan diri mu, aku akan menjelaskan semuanya", ucap Alvaro.
Nikolas mengikuti ucapan Alvaro. "Katakan semuanya, aku ingin mendengarnya sekarang", Ucap Nikolas sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.
Tatiana menyadari Nikolas sedang tidak baik-baik saja. Suaminya terlihat gusar. Seperti ada yang menuntunnya, Tatiana menggenggam erat jemari tangan Nikolas. Genggaman erat tangan Tatiana mampu menenangkan perasaan Nikolas.
"Tenangkan diri mu, Nik", ucap Tatiana mengusap lembut punggung lebar suaminya.
...***...
__ADS_1