
"Sepertinya ini salah. Sekarang masih pagi, mungkin Moreno masih terlelap tidur. Ahh kenapa juga aku lancang begini datang pagi-pagi ke area pribadi, mengganggu privasi orang saja", gumam Audri menggerutu dirinya sendiri.
"Sebaiknya aku turun lagi saja, biar jaket ini aku titipkan saja dengan resepsionis di bawah dan aku akan meninggalkan pesan untuk Moreno nanti", ucap Audri membalikkan tubuhnya kembali menuju lift khusus.
Namun pintu lift tidak terbuka juga meskipun Audri sudah memasukkan password hingga berulang kali.
"Ah...kenapa pintu Liftnya tidak bisa terbuka juga padahal aku sudah memasukkan password dengan benar. Oh God bagaimana ini", ucap Audri terlihat cemas.
"Apa aku hubungi handphone Moreno saja ya. Oke aku akan menghubunginya sekarang", ucap Audri menekan nomor handphone Moreno tapi tidak ada jawaban.
"Tuh kan pasti laki-laki itu masih tidur", gumam Audri.
Terlihat gadis itu hilir mudik sambil memijat keningnya dan berpikir.
"Sebaiknya aku menghubungi nona Lethicia saja", ujar Audri sambil menyambungkan panggilan telepon ke Lethicia.
"Oh my God jangan katakan di sini tidak ada sinyal. Bagaimana ini? Jangan-jangan Moreno juga tidak ada di dalam, buktinya lift miliknya terkunci tidak bisa di masukkan password nya", ucap Audri terlihat ketakutan dan panik.
"Oh yang benar saja, apa aku harus di sini sendirian. Tidak ada penghuni lain lagi di sini", ucap Audri dengan tubuh gemetaran.
"Hector dan tuan Alvaro, moga saja bisa aku hubungi", batin Lethicia sambil menekan nomor Hector. Namun sama saja tidak ada nada sambung karena masalah sinyal.
"Aduh bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan", ucap Audri bersandar di pintu dengan pilar megah itu.
Menit berikutnya...
"Ya ampun kenapa aku tidak menekan bel ini. Bahkan aku belum mencobanya", gumam Audri sambil menekan pintu kamar Moreno.
"Please Reno, tolong aku ...semoga kau ada di dalam", batin Audri. Wajahnya sekarang benar-benar terlihat pucat. Ia melihat arloji yang hampir menyentuh angka sembilan tandanya hampir waktu keberangkatan mereka kembali ke Barcelona.
"Oh God, aku bisa membuat nona Lethicia panik mencari keberadaan ku", lirih Audri dengan mata berkaca-kaca.
Berulangkali Audri menekan bel pintu, namun tidak ada yang membuka pintu itu. Hingga ia menyerah dengan pasrah. Audri duduk di kursi panjang sambil memeluk erat-erat jaket kulit milik Moreno. "Tolong aku.."
__ADS_1
Ceklek..
Seakan hanya mimpi, Audri mendengar bunyi pintu terbuka. Bahkan ia masih memeluk lututnya dan menyandarkan kepalanya di atas lutut itu sementara diatasnya ada jaket Moreno.
"Audri?"
"Aku bermimpi lagi..", gumam Audri semakin mengeratkan pelukannya pada lututnya.
"Hei ada apa dengan mu, Audri?"
Audri merasakan ada yang menyentuh bahunya. Tubuhnya bergidik ketakutan. Dengan wajah pucat ia menatap sosok yang berdiri di hadapannya.
"Merenooo...", Teriak Audri berdiri dan menghambur kepelukan Moreno yang hanya menggunakan bathrobe menutupi tubuhnya. Tubuhnya terasa basah bahkan air masih menetes dari rambutnya. Terlihat sekali ia buru-buru menyelesaikan mandi karena tubuhnya masih begitu basah. Namun Audri tidak perduli. Bahkan ia lupa dengan harga dirinya yang selalu di jujungnya. Ia juga melupakan rasa malunya ketika dengan berani memeluk tubuh Moreno.
"Hei...Ada apa dengan mu. Bukankah seharusnya kau sudah ada di pesawat saat ini?", tanya Moreno sambil memegang ke dua pundak gadis itu.
Audri tersadar. Ia melepaskan pelukannya. Bahkan ia malu saat menyadari dirinya begitu berani memeluk tubuh Moreno.
"Aku menghubungi nona Lethicia dan Héctor tetapi tidak ada sinyal di sini", ujar Audri menjelaskan dengan rinci pada Moreno yang menatapnya lekat.
Moreno menarik tangan Audri ke depan pintu lift. Dan ia menekan password. Tak lama pintu itu terbuka.
Moreno melebarkan kedua tangannya. "Tidak ada masalah".
Audri melebarkan kedua matanya. "Aku tidak bohong Reno tadi tidak bisa terbuka sama sekali, aku sudah benar memasukkan password yang kau berikan padaku".
"Mana handphone mu, coba kau hubungi kembali Lethicia", ucap Moreno. Sementara kedua tangannya bersedekap di depan dada.
Lethicia menuruti Moreno, ia kembali menghubungi nomor handphone Lethicia.
Tak berapa lama terdengar nada panggilan dan terdengar suara Lethicia.
*Audri kau di kemana. Kami sudah di dalam pesawat sekarang. Sebentar lagi akan tinggal landas*
__ADS_1
"Nona Lethicia maafkan aku, cerita nya sangat panjang. Nona tidak usah menunggu ku. Aku akan pulang dengan pesawat komersil. Nanti aku ceritakan apa yang terjadi padaku", ucap Audri.
Sesaat setelah sambungan telepon terputus. Audri menatap Moreno yang sedang menatapnya dengan tatapan selidik.
Audri memasang wajah serius nya. "Aku tidak bohong dengan apa yang terjadi pada ku, Moreno. Tadi lift itu benar-benar terkunci dan tidak ada sinyal di sini", ketus Audri membela dirinya. Tentu saja ia memiliki harga diri, bukan maksudnya seperti ini bahkan gagal pulang ke Barcelona.
"Ini jaket mu, aku harus ke airport sekarang mencari penerbangan selanjutnya ke Barcelona", ucap Audri memberikan jaket ke tangan Moreno dan membalikkan badannya menuju lift.
Tapi...tangannya tertahan Moreno.
"Tinggallah di hotel hari ini. Besok aku akan mengantar mu pulang ke Barcelona..
...***...
VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA YA 🙏
*
YUK BACA JUGA :
PENGANTIN PENGGANTI
MENJADI YANG KEDUA
FIRST LOVE LAST LOVE
AIR MATA SCARLETT
SERPIHAN HATI ELLENA
__ADS_1