MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
CRYING


__ADS_3

VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA YA πŸ™


*


"Ada apa dengan mu, kau terlihat tidak baik dude".


"Aku butuh minum Moreno. Pikiran ku benar-benar sedang kacau", ucap Alvaro sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang. Sambil meletakkan punggung tangannya di atas kening.


"Well...ayo kita ke bar menghilangkan penat seperti biasanya saat kita di Paris. Aku sudah janji dengan Liam dan Fernandez ke sana".


"Aku sedang tidak berminat mendengarkan musik bising itu, menambah pusing kepala ku saja", ketus Alvaro tidak berminat.


"Kau ini, membuat orang susah saja. Kau yang uringan-uringan kenapa mengajak ku", balas Moreno.


"Diam lah, kau ini berisik sekali Moreno. Membuat semakin kepalaku pusing saja", ketus Alvaro.


Drt drtt drtt


Terdengar bunyi telepon berdering milik Moreno.


"Iya, sebenarnya aku sudah mau turun tapi ada bastard satu ini sedang uring-uringan di kamar ku. Dia mau minum-minum, tapi tidak mau di bar. Sebaiknya kau dan Liam ke kekamar ku saja. Minta pada bartender sebotol wine yang terbaik", ucap Moreno mengakhiri pembicaraan pada Fernandez yang sudah menunggunya di bar.


"Kau ini menyusahkan orang saja. Seharusnya kau tidak meninggalkan istri mu seorang diri, ia sedang mengandung anak mu. Bukankah kalian saling mencintai, Varo", ucap Moreno sambil membuka jaket kulit yang di pakainya karena beberapa saat yang lalu ia hendak ke bar bersenang-senang bersama Liam dan Fernandez, menghilangkan penat tubuhnya.


"Istriku tidak sendirian, ia bersama asisten nya. Sepertinya kata cinta yang diucapkannya tidak berarti apa-apa di saat Assensio kembali. Kau tahu...yang membuat ku meninggalkan saat ini karena ia menangis seharian. Menangisi Assensio. Bahkan ia melupakan kondisi tubuhnya sedang hamil anak ku. Itu benar-benar menyakitkan untuk ku Reno.


*


Malam semakin larut...


"Nona, sebaiknya nona istirahat saja. Sekarang sudah hampir pukul dua belas malam", ujar Audri yang di tugaskan Alvaro untuk menemani Lethicia.


Audri melihat Lethicia sangat gelisah. Rebahan sebentar kemudian duduk lagi, rebahan lagi kemudian duduk lagi. Beberapa kali seperti itu. Sesekali Lethicia berdiri di balkon berdiam diri di sana sambil menatap ke langit bertabur bintang.


"Alvaro kemana hingga malam begini belum juga kembali", lirih Lethicia sambil memeluk lututnya di atas tempat tidur.


"Nona sebaiknya rebahan saja, sekarang nona Lethicia sedang hamil harus banyak istirahat", ucap Audri pelan sambil membantu Lethicia merebahkan tubuhnya.


"Audri, apakah kau pernah jatuh cinta? Menurut mu cinta yang tulus itu seperti apa?".

__ADS_1


"Pada saat kuliah aku mencintai seseorang sepenuh hatiku. Ia kakak tingkat ku di kampus. Kami berpacaran hampir dua tahun. Memasuki tahun kedua hubungan kami kandas. Kekasihku yang sangat aku cintai ternyata mendua. Ia kembali di pertemukan dengan mantan pacarnya. Ternyata hubungan mereka belum kelar, saat bertemu sesaat dengan mudahnya ia berpaling dari hubungan kami. Aku memutuskannya. Bagi ku mungkin kami tidak berjodoh. Beruntungnya aku dengan nya hanya sepasang kekasih, bisa di bayangkan seandainya kami telah melangkah lebih jauh menjadi pasangan suami-istri misalnya. Pasti hatiku benar-benar hancur", jawab Audri.


"Nona sangat beruntung dipertemukan dengan tuan Alvaro yang


berpegang teguh pada kesetiaan cinta. Bahkan sekarang tuan Alvaro benar-benar memiliki cinta yang tulus untuk nona. Saya bisa melihatnya bagaimana tadi siang paniknya tuan Alvaro begitu mengetahui nona pingsan. Bahkan ia meminta untuk memindahkan nona ke rumah sakit lainnya karena nona tidak sadar-sadar", ucap Audri memberikan penjelasan.


"Mungkin itu lah namanya takdir atau pun jodoh nona dan tuan yang terlambat hadir. Prosesnya panjang dan berliku, nona diharuskan menikah dulu dengan tuan Assensio setelahnya baru di pertemukan dengan tuan Alvaro. Itulah proses jodoh yang harus di lalui nona dan tuan".


Lethicia terdiam mendengar penuturan panjang Audri. Tanpa disadarinya kedua matanya memanas. "Oh my God, apa yang sudah aku lakukan pada Alvaro. Aku sudah menyakitinya. Menorehkan luka untuknya", batin Lethicia.


Lethicia membalikkan tubuhnya memunggungi Audri yang duduk di tepi tempat tidur Alvaro.


"Tuan Alvaro begitu bahagia saat mendapatkan kabar nona sedang hamil empat minggu, saya dan tuan Moreno saksinya melihat kebahagiaan yang di luapkan tuan Alvaro begitu mengetahui nona mengandung anaknya".


Ucapan Audri kali ini mampu mengobrak-abrik pertahanan Lethicia, ia tidak mampu menahan air matanya lagi. Lethicia menangis terisak dengan tubuh bergetar.


Audri melihatnya dan seketika menghentakan perkataannya. "Apakah ada yang salah dengan ucapan ku", batin Audri.


"Nona... maafkan saya, apa ada yang salah dengan perkataan saya nona?", ucap Audri merasa bersalah.


Ting tong


Ting tong


"Nona, anda lupa memakai jubah, bagaimana jika itu orang lain?", ujar Audri tersenyum melihat tingkah bosnya itu. Audri memasangkan jubah tidur menutupi tubuh Lethicia yang terekspos.


Audri membuka pintu.


"Oh shittt, tubuh mu sangat berat sekali dude", ujar Moreno yang ke sulitan membopong tubuh atletis Alvaro meskipun ia dan Fernandez. Sementara liam memegang iPad dan handphone Alvaro.


"Varo...apa yang terjadi, kenapa kau sampai mabuk seperti ini?", ujar Lethicia dengan panik. Ia meminta Moreno dan Fernandez membawa suaminya langsung ke kamar mereka.


"Huhhh, Varo kau menyulitkan ku saja", ujar Moreno.


"Suami mu, sedang galau Lethicia. Ia ingin minum sampai mabuk untuk melupakan semuanya permasalahannya. Aku dan yang lain hanya menjadi pendengarnya saja malam ini. Kami hanya berada di kamar ku bukan ke bar. Ia begitu tertekan mengira kau tidak mencintainya dan juga anaknya", ucap Moreno dengan tegas. Tentu saja Moreno akan mendukung Alvaro sahabatnya yang begitu mencintai istrinya.


Ketiga teman Alvaro sangat tahu, temannya itu benar-benar mencintai Lethicia. Hal itu belum pernah dilakukannya pada wanita manapun.


Lethicia terdiam mendengar perkataan Moreno. Ia menatap suaminya yang bergumam terus menerus mengatakan ia mencintai nya. Mencintai Lethicia.

__ADS_1


"Sebaiknya kau berikan kapsul ini pada suamimu agar besok pagi kepalanya tidak pusing", ucap Fernandez.


"Terimakasih karena kalian menjaga suamiku", ucap Lethicia pelan.


Beberapa saat kemudian teman-teman Alvaro dan juga Audri pergi.


"Aku mencintaimu Lethicia", ucap Alvaro dengan suara serak.


"Varo kau harus berganti pakaian mu. Maafkan aku sudah membuat mu seperti ini", ucap Lethicia dengan lembut. Sementara jemari tangannya mengusap lembut wajah Alvaro. Perlahan jemari tangan lentik itu turun membuka satu persatu kancing kemeja yang di pakai suaminya itu.


"Kenapa kau sampai mabuk begini, sayang. Maafkan aku karena membuatmu sampai mabuk untuk menenangkan diri mu".


"Aku tidak mabuk, aku kuat. Teman-teman ku saja yang berlebihan", jawab Alvaro yang saat ini duduk di tepi tempat tidur dengan bertelanjang dada. Sementara Lethicia hendak memasangkan kaos oblong untuk tidur. Namun kaos itu di tarik dan di lempar suaminya.


Alvaro menarik tangan Lethicia hingga terlentang di atas tempat tidur...


"Varo..


...***...


MASIH MAU LIHAT LETHICIA ALVARO BERANTEM ATAU BAIKAN NIH ? LANJUT KOMEN πŸ€­πŸ˜‚


...***...


YUK BACA JUGA :



PENGANTIN PENGGANTI


MENJADI YANG KEDUA


FIRST LOVE LAST LOVE


AIR MATA SCARLETT


SERPIHAN HATI ELLENA


__ADS_1


__ADS_2