
"Apa kalian sudah jadian sekarang, Liam-Raffaella?", tanya Moreno.
"Kami mencari mu, ternyata kalian disini berciuman mesra", ketus Fernandez.
"Kalian ini mengganggu ku saja", seru Liam.
"Well, lanjutkan lah kesibukan kalian berdua. Ayo Reno kita jangan mengganggu mereka", ujar Fernandez membalikkan tubuhnya diikuti Moreno.
"Good luck, dude", seru Moreno sambil tertawa keras.
"Teman-teman ku memang begitu, tetapi mereka sangat baik dan pengertian", ucap Liam menatap lekat Raffaella yang tertunduk malu.
Raffaella tersenyum mendengarnya. "Iya. Aku tahu", jawab Raffaella.
Liam menekuk kan kakinya, sikunya bertumpu pada lututnya menopang wajahnya menatap Raffaella.
"Raffaella... boleh kah aku menanyakan sesuatu pada mu?", ucap Liam menatap lekat wajah cantik Raffaella.
"Ada apa Liam? Kalau soal ciuman tadi, aku rasa karena kita sama-sama terbawa suasana. Kau menenangkan ku. Terimakasih untuk itu Liam. Terimakasih juga karena kau sudah menyelamatkan aku", ucap Raffaella membalas tatapan Liam.
Liam menatap Raffaella dengan tatapan lembut yang sulit di artikan.
__ADS_1
"Aku menyukai mu Raffaella. Aku benar-benar menyukai mu", ucap Liam dengan wajah serius.
Raffaella menatap lekat kedua mata Liam. Laki-laki itu berkata jujur, Raffa tahu.
"Tapi kita baru saja bertemu Liam, aku tidak mengenal mu begitu kau tidak mengenal ku".
"Maka dari itu, maukah kau kita saling menjajaki, saling mengenal lebih dekat lagi. Kita sudah sama-sama dewasa raffa, kita bukan lagi remaja berusia belasan tahun. Kau mengerti maksud ku?", ucap Liam sambil menggenggam tangan Raffaella.
"Kita jalani saja dulu hubungan kita. Selanjutnya biarkan takdir menuntun kemana langkah kita. Namun yang pasti aku tidak mau berhubungan dengan wanita yang sudah memiliki kekasih Raffaella. Aku tidak pernah mau terlibat scandal".
"Aku ingin menanyakan sesuatu pada mu, Raffaella...Siapa Manuel yang menelepon, saat aku mengantar kau pulang ke apartemen mu waktu itu?", tanya Liam terdengar tegas dan menuntut jawaban.
Raffaella menaruh cangkir teh nya. Kemudian kedua tangannya memeluk lututnya. Dengan wajah menempel diatas lutut, Raffaella menatap Liam.
Liam menghembuskan nafasnya, ada perasaan lega di hatinya. "Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya saat aku bertanya siapa Manuel, Raffaella".
"Karena saat itu kita baru saja kenal. Aku tidak nyaman jika mengatakan semuanya tentang diri ku dan keluargaku pada orang yang baru saja aku kenal", balas Raffaella.
"Sekarang, apakah kau mau membuka diri mu untukku, Raffaella? Berawal dari saling keterbukaan tentang diri masing-masing jika mau berhasil dengan hubungan ini", ucap Liam memandang lautan biru yang membentang.
Raffaella mengangkat wajahnya. Ia pun mengalihkan pandangannya ke depan. "Iya, aku mau mencobanya, Liam.Tapi kau harus mengerti aku. Aku tidak mau melakukan hubungan intim kepada laki-laki manapun sebelum menikah dengan ku. Kau harus tahu, diusia ku yang sudah berkepala tiga ini kekasih-kekasih ku selalu meninggalkan aku karena aku tidak mau bercinta dengan mereka sebelum pernikahan".
__ADS_1
"Aku katakan ini kepada mu, jika kau mau mundur lebih baik sekarang saja. Aku mengerti karena orang-orang akan berbeda-beda prinsipnya dalam menyikapi sebuah hubungan. Semoga kau mengerti Liam", ucap Raffaella menolehkan kepalanya menatap Liam yang menatap jauh ke depan. Kelautan biru.
Liam tak bergeming. Dan tak ada suara dari keduanya lagi. Yang ada hanya suara deburan ombak saja.
Raffaella tahu jawaban Liam pasti ia akan mundur. Raffaella selalu berbesar hati jika menyangkut sebuah prinsip yang dipegangnya. Ia sadar ia sering berpacaran, namun semuanya kandas karena pacarnya menganggap Raffaella gadis yang membosankan.
Untuk beberapa tahun belakangan, setiap ada laki-laki yang mengungkapkan perasaan mereka, Raffaella selalu menjelaskan prinsip yang dipegangnya seperti pada Liam beberapa saat yang lalu. Biasanya laki-laki akan langsung mundur dan meninggalkan Raffaella seorang diri.
Kalau mau jujur, Raffaella juga menyukai Liam. Apalagi setelah beberapa kali pertemuan mereka dan sekarang juga mereka akan menghabiskan waktu bersama di kota Valencia. Namun semua keputusan ada pada Liam, karena Raffaella sudah mengatakan yang sebenarnya tentang dirinya.
Raffaella menundukkan wajahnya. Sambil mengeratkan handuk yang menutupi tubuhnya yang sudah mengering.
Tiba-tiba Liam membawa tubuh Raffaella kedalam dekapannya. "Tentu saja aku mau memulainya Raffaella. Usia ku sudah dewasa. Aku bosan bermain-main dengan hubungan yang tidak ada akhirnya. Kalau aku boleh jujur tentang perasaan ku, sebenarnya aku bukan lagi menyukai mu Raffa. Tetapi aku sudah memiliki perasaan mendalam pada mu. Aku mencintaimu Raffaella", ucap Liam bersungguh-sungguh sambil mendekap erat tubuh Raffaella dan mengecup lembut pucuk kepala Raffaella.
Raffaella terkejut mendengar pengakuan Liam, ada perasaan bahagia yang sulit untuk di ucapkan dengan kata-kata. Raffaella mengenadahkan kepalanya menatap Liam. "Benarkah Liam, benarkah kau mencintaiku?", tanya Raffaella seakan tak percaya apa yang di dengarnya barusan.
"Tentu saja aku mengatakan yang sebenarnya. Kau tahu Raffaella, saat kau menolak pergi bersama ku ke sini, kau menghancurkan perasaan ku. Rasanya aku tidak ingin pergi, kalau saja tidak ingat Moreno adalah teman baik ku. Aku tidak bersemangat jika kau tidak ada", ucap Liam sambil mencium lembut bibir Raffaella.
"Aku mencintaimu, Raffaella", ucap Liam memperdalam ciumannya. Begitupun Raffaella membalasnya dengan mesra. Hingga terdengar bunyi klakson kapal. Sekilas Liam melihat keempat teman-teman mereka berada di dalam kabin dan tertawa bahagia melihat liam dan Raffaella. Keempatnya yakin Liam dan Raffaella telah menjadi sepasang kekasih.
Tanpa menghentikan ciuman nya dengan Raffaella, Liam mengacungkan ibu jarinya.
__ADS_1
...***...