
"Sayang, kau mau sarapan apa? Biar aku ambilkan", tanya Lethicia.
Saat ini Lethicia dan Alvaro sarapan pagi di meja yang berada di dekat kolam renang. Semenjak hamil Lethicia lebih memilih menikmati suasana pagi di sana. Mulai dari makan dan di lanjutkan dengan jalan-jalan sejenak di taman yang ada di dekat kolam.
Seperti itulah rutinitas Lethicia semenjak hamil muda. Lethicia memutuskan cuti dari pekerjaannya di galeri. Tentu saja keputusannya itu sangat di dukung oleh Alvaro. Lethicia benar-benar mengikuti saran dokter karena di dalam rahimnya kemungkinan terdapat dua janin yang sedang tumbuh.
"Sandwich saja dan coklat hangat", jawab Alvaro.
"Apa kau banyak pekerjaan hari ini sayang? Kau jangan lupa untuk makan tepat waktu", ucap Lethicia memberikan sandwich dan cokelat hangat sesuai permintaan suaminya.
"Rutinitas seperti biasanya saja, meeting dan membaca berkas-berkas kontrak kerjasama dengan rekan bisnis. Itu saja yang aku lakukan", jawab Alvaro sambil memakan sandwich yang ada di tangannya.
"Bagaimana rasanya tubuh mu sekarang. Apa masih sering merasa mual, hem? Kau harus banyak istirahat Lethi"
"Iya. Aku tahu, makanya aku cuti dari pekerjaan ku. Anak kita baik-baik saja ia sekarang tidak menyulitkan aku lagi. Aku juga banyak istirahat sambil mengobrol sama papa, setelah kau pergi bekerja", jawab Lethicia sambil mengusap lembut perutnya.
Alvaro tersenyum mendengarnya.
"Kau tahu, papa sangat senang mendengar kemungkinan anak kita kembar Varo. Bahkan ia sekarang meminta sering keluar kamar menikmati udara di sini".
"Hm...papa lebih bersemangat untuk sembuh sekarang. Walaupun saat sakitnya kambuh, sejujurnya aku sangat sedih melihatnya kesakitan", ujar Alvaro sambil menyesap cokelat hangat miliknya.
"Iya Varo, aku tahu papa sering menutupi rasa sakit itu. Ia ingin menunjukkan bahwa kondisinya baik-baik saja. Papa tidak mau membuat mu cemas sayang", ujar Lethicia mengusap lembut lengan Alvaro. Yang di balas Alvaro dengan tepukan lembut pada punggung tangan Lethicia.
"Sekarang aku harus pergi ke kantor, sebentar lagi ada meeting dengan jajaran direksi. Sebelum pergi aku akan melihat papa dulu".
"Iya, ayo kita temui papa".
*
"Hector bawa surat salinan surat perjanjian yang harus aku tandatangani dengan perusahaan Dacutti. Aku ingin membaca ulang", perintah Alvaro sesaat sudah berada di ruang kerjanya.
__ADS_1
Saat ini ia sedang bersama asistennya Hector.
"Baik tuan", jawab Hector dengan hormat. Ia mengambil beberapa lembar kertas yang ada di dalam map berwarna kuning di lemari berkas yang tidak jauh dari tempat duduk Alvaro. Dan menyerahkannya pada atasannya itu.
Alvaro mengambilnya dan membaca dengan teliti lembar perlembar berkas di hadapannya.
"Apa kau sudah mengetahui informasi, apakah wanita itu akan datang bersama kekasihnya?"
"Iya tuan, pihak Dacutti sudah mengonfirmasikan bahwa nona Tatiana akan hadir dalam penandatanganan kontrak kerjasama bersama tuan Nikolas".
"Baik. Artinya kau sudah tahu apa yang harus kau kerjakan sesuai perintah ku Hector!"
"Iya tuan, saya mengerti", jawab Hector dengan yakin.
"Aku tidak mau, apa yang sudah aku perintahkan satu hal saja yang terlewat. Kau paham Hector?", tegas Alvaro.
"Iya tuan, perintah anda sudah sangat jelas. Jangan kuatir saya akan melakukannya sesuai permintaan anda tuan", jawab Hector dengan tegas tanpa adanya keraguan.
*
Moreno menggenggam erat jemari tangan Audri menuju mobil yang sudah menjemput mereka di stasiun kereta di Barcelona-Sants.
Keduanya baru saja kembali dari Valencia, setelah menemui keluarga Audri.
"Sekarang hampir senja, Audri. Sebaiknya kita makan saja dulu, kemudian aku akan mengantar mu ke apartemen", ujar Moreno setelah mereka berada do dalam mobil.
"Iya", jawab Audri singkat. Memang perutnya sudah terasa sangat lapar.
"Kau mau makan apa, hem?"
"Bagaimana kalau Chinese food? Aku sedang ingin makan pangsit rebus", jawab Audri.
__ADS_1
"Atau kau mau makan yang lain?", tanya Audri bergelayut manja pada lengan Moreno.
Moreno tersenyum melihat kekasihnya bermanja-manja seperti itu. Ia sangat manis, batin Moreno.
"Ke restoran Chinese food!", perintah Moreno pada sopir
"Baik tuan", jawab sopir dengan hormat.
*
Audri menikmati makanannya dengan sangat lahap. Moreno tersenyum melihatnya. "Apa kau sangat kelaparan sayang? Aku menyukai mu makan lahap seperti itu. Mengingatkan aku pada saat kau ketinggalan pesawat waktu itu", ujar Moreno sambil menopang dagunya dengan tangan menatap Audri yang sedang makan dengan lahap di hadapannya.
"Kenapa kau masih mengingatnya Reno, itu sangat menyebalkan sekaligus membuatku malu karena perut lapar ku tidak mau di ajak kompromi. Perut ku berbunyi", jawab Audri melebarkan kedua matanya sambil menghirup kuah bening pangsit rebus dari mangkuk berukuran kecil.
"Kalau tidak begitu, mungkin kita belum menjadi kekasih, sayang. Jadi biarkan peristiwa itu menjadi sebuah kenangan. Dan bisa di cerita kepada anak cucu kita nanti", jawab Moreno diplomatis.
"Besok pagi aku akan kembali ke Madrid. Setelah semua urusan ku di sana selesai aku akan menjemputmu. Aku akan mengenalkan mu pada orang tua ku".
Audri diam sesaat.
"HM...Reno, bagaimana jika keluarga mu tidak menerima ku? Aku tahu tidak mudah untuk menerima orang asing dalam keluarga. Apa lagi kita di negara yang berbeda", ujar Audri sambil menatap lembut Moreno.
Moreno menggenggam jemari tangannya. "Kau tidak perlu kuatir, semua keputusan ada di tangan ku. Dengan siapa aku menikah atau berasal dari mana calon istri ku...semuanya ada di tangan ku. Percayalah pada ku Audri, aku tetap akan menikahi mu", tegas Moreno sambil menggenggam erat tangan Audri.
Ucapan Moreno membuat perasaan Audri menghangat. Ternyata Moreno benar-benar menginginkannya.
"Aku mencintaimu, Reno...
...***...
MAAF UPDATE NGAK TENTU JAMNYA YA. YANG PENTING TIAP HARI UP 3 BAB/HR. SEMOGA NGAK ADA KENDALA DI REVIEW π
__ADS_1