
Hari-hari berikutnya Samuel semakin memperhatikan istrinya. Dia bangun lebih pagi daripada biasanya. Tujuannya agar dapat melakukan semua pekerjaan rumah tangga sebelum berangkat ke kantor. Pun sarapan dia juga yang menyiapkannya. Aileen tinggal mencuci piring kotornya sendiri setelah makan.
“Aku jadi merepotkanmu, Sam,” ujar istrinya itu merasa tidak enak.
Belum pernah seumur hidupnya dia dilayani sedemikian rupa oleh seorang laki-laki. Apalagi orang itu adalah anak seorang pengusaha sukses di kota ini!
Samuel tersenyum tulus. “Sudahlah. Nggak usah sungkan begitu, Leen. Semua ini kulakukan kan juga demi calon anakku. Bukankah kita ingin dia lahir sehat walafiat tanpa cela? Kalau ibunya kecapekan gara-gara melakukan semua tugas rumah tangga, kan bisa berpengaruh terhadap kesehatan janin?”
Aileen mendesah. Dia sebenarnya tengah mempertimbangkan sesuatu. Namun merasa sungkan untuk mengatakannya pada Samuel.
Tapi kalau begini terus, kasihan juga Sam bangun pagi-pagi setiap hari demi membersihkan seluruh ruangan rumah ini, pikirnya kemudian. Akhirnya diberanikannya untuk mengutarakan maksud hatinya.
“Sam…,” ucap perempuan itu hati-hati. “Aku berpikir apakah mungkin…ehm…kita membutuhkan bantuan asisten rumah tangga?”
Suaminya tersentak. Tak pernah diduganya kata-kata itu akan keluar dari mulut Aileen. Terus terang hatinya agak gembira dengan usul istrinya itu. Bukan karena dirinya jadi tidak usah repot-repot lagi membersihkan rumah. Melainkan karena itu berarti James benar-benar tak akan datang lagi ke rumah ini.
“Aku setuju saja,” jawab pria itu lugas. “Kamu mau mencarinya sendiri atau kita minta bantuan Mama? Beliau bisa meminta bantuan salah seorang ART di rumahnya untuk mencari teman atau saudara di kampung yang mau bekerja.”
“Aku cari sendiri aja, Sam,” sahut Aileen kemudian. “Takutnya seleraku sama selera Mama nggak sama. Nanti kalau aku nggak cocok sama ART pilihannya, gimana?”
“Iya, sih,” timpal suaminya setuju. “Mama pasti nggak suka kalau kamu mengembalikan ART itu dengan alasan nggak cocok. Padahal menurut Mama orangnya ok. Daripada nanti terjadi gesekan yang nggak perlu, lebih baik kita cari sendiri aja, deh. Aku akan coba nanya sama petugas cleaning service di kantor nanti. Siapa tahu dia punya kenalan yang mau kerja. Untuk sementara satu orang aja dulu ya, Leen? Kamu mau yang umurnya berapa kira-kira?”
__ADS_1
“Yang muda aja, Sam. Antara umur delapan belas sampai tiga puluh tahun gitu. Kalau terlalu tua, nanti nggak enak kita nyuruh-nyuruhnya.”
Pria itu manggut-manggut setuju. Di rumah orang tuanya sendiri pembantu-pembantu rumah tangganya rata-rata berusia dua puluhan. Hanya ada seorang pembantu senior yang berusia sekitar empat puluh tahunan. Perempuan itu kemudian dijadikan kepala pengurus rumah tangga oleh Tina.
“Eh, aduh,” kata Aileen tiba-tiba. “Kok perutku tiba-tiba mulas, ya? Aku pergi ke kamar mandi dulu, Sam. Kamu langsung aja berangkat ke kantor. Nanti telat, lho.”
Samuel mengangguk. “Aku pergi dulu ya, Leen,” pamit pria itu. “Kamu hati-hati di kamar mandi. Jalan pelan-pelan aja. Takut kepeleset.”
Tapi kata-katanya itu tak terdengar oleh sang istri. Karena wanita itu sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Tiba-tiba rasa kuatir hinggap dalam hati Samuel. Perut Aileen mulas. Jangan-jangan ada masalah dengan kandungannya….
Diputuskannya untuk menunggu Aileen keluar dari dalam kamar mandi baru berangkat ke kantor. Dia ingin tahu apakah istrinya itu sekadar mengalami mulas biasa ataukah ada hal lainnya.
Beberapa saat kemudian perempuan itu keluar dari dalam kamar mandi. Dia tampak terkejut melihat suaminya masih belum juga berangkat ke kantor. Samuel sendiri langsung menanyakan kondisi sang istri.
Yang ditanya tercenung sejenak. Wanita itu merasa risih dengan pertanyaan yang barusan dilontarkan suaminya. Tapi dilihatnya Samuel sungguh menguatirkan dirinya. Akhirnya Aileen memaksakan diri untuk tersenyum sembari menjawab, “Aku mengalami…ehm…flek sedikit….”
“Hah?!” seru Samuel terkejut. “Flek? Wah, aku baca di internet flek di trimester pertama kehamilan itu tidak boleh diremehkan, Leen. Ayo kuantar kamu periksa ke dokter sekarang!”
Giliran istrinya yang kaget. Sam sampai browsing internet demi mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan? pikir perempuan itu takjub. Wah!
Sembari berusaha menyembunyikan perasaan gelinya, Aileen berkata lirih, “Dokternya kan praktik malam hari, Sam. Percuma kita pergi ke rumah sakit sekarang. Orangnya nggak ada di sana.”
__ADS_1
“Ya sementara periksa ke dokter spesialis kandungan lainnya aja. Daripada nanti ada apa-apa dengan kandunganmu, Leen. Aku kuatir….”
Kali ini sang istri tak dapat menyembunyikan senyumnya. Samuel sampai melongo melihatnya. Ini orang dikuatirin kok malah santai-santai aja, pikir pria itu gemas. Padahal jantungku hampir copot tadi ketika dia bilang mengalami flek!
“Kamu pergi saja dulu ke kantor, Sam,” kata Aileen tenang. “Nanti malam kita sama-sama pergi ke dokter. Aku daftar dulu lewat telepon nanti. Jadi kalau misalnya dokternya nggak jadi praktik, kita akan dikabari oleh susternya. Tapi mestinya dia praktik, sih. Kan harusnya lusa jadwalku kontrol, kan? Ini berarti lebih awal dua hari.”
Samuel menatapnya kuatir. Enggan rasanya dia meninggalkan istrinya seorang diri sekarang. “Kamu beneran nggak apa-apa sendirian di rumah, Leen? Apa kuantar saja kamu ke rumah orang tuamu, ya? Supaya ada yang menjagamu. Aku takut kalau ada apa-apa….”
Hati sang istri terenyuh melihat kecemasan pria itu. Harusnya James yang menguatirkan diriku, sesal Aileen dalam hati. Bukan kamu, Sam….
Bayangan wajah tampan mantan kekasihnya itu berkelebat dalam benaknya. Ah, buat apa aku mengingat laki-laki mata keranjang itu lagi! elaknya dalam hati. Dia pasti sedang asyik bermesraan dengan pacar barunya sekarang. Aku sudah tak berarti apa-apa lagi baginya. Bahkan memutuskan hubungan denganku secara resmi saja dia tak sudi. Seenaknya saja langsung berpaling hati pada perempuan lain. Dasar laki-laki tak bertanggung jawab! Sungguh menyesal aku dulu berkorban begitu banyak demi orang itu. Bahkan sampai mengandung benihnya….
“Leen…, Aileen…. Kamu mikirin apa? Apa perutmu mulas lagi?”
Wanita itu tersentak. Ya ampun! serunya dalam hati. Orang ini perhatian sekali padaku. Bahkan sampai sekarang dia belum juga berangkat ke kantor!
Sebuah senyuman yang teramat manis tersungging dari sudut bibirnya. Membuat hati Samuel meleleh. Ingin rasanya dikecupnya bibir mungil nan menggoda itu. Tapi pria itu tahu diri. Hati Aileen bukan miliknya. Dia tak berhak menyentuh wanita itu.
“Aku nggak apa-apa kok, Sam,” kata Aileen lirih. “Sudahlah. Pergi saja ke kantor. Nanti kalau ada apa-apa, aku kan bisa meneleponmu. Kamu nggak ada meeting kan, hari ini? Atau ku-WA dulu aja nanti kalau perlu menghubungimu?”
“Telepon saja kapanpun kamu membutuhkanku, Leen,” tandas suaminya. “Aku siap sedia selalu.”
__ADS_1
Jawaban Samuel yang begitu tegas membuat hati istrinya semakin tenang. Wanita itu berdoa dalam hati agar kandungannya tidak mengalami masalah yang serius. Dia tak mau mengecewakan laki-laki sebaik Samuel. Ingin sekali dipersembahkannya bayi yang sehat dan lucu pada suaminya ini. Sebagai balas budi atas kebaikan hatinya selama ini.
***