
Setengah jam kemudian Samuel memasuki kamar tidur utama di lantai dua. Kamar yang dulu ditempatinya sendirian, namun akhirnya dihuninya berdua dengan Aileen semenjak pulang kembali dari rumah orang tua istrinya itu. Ketika Samuel membuka pintu kamar, penerangan di dalamnya tampak remang-remang. Hanya beberapa lampu downlight yang dinyalakan.
Harum bunga lavender menggugah indra penciumannya. Suami Aileen itu sangat menyukainya. Wanginya lembut namun seksi. Selanjutnya tatapan pria itu mengarah pada ranjang yang sudah ditata dengan rapi. Kelopak-kelopak bunga mawar merah dirangkai dengan indah membentuk hati besar di tengah-tengah peraduan.
Samuel tersenyum penuh sukacita. Senang sekali rasanya melihat sang istri berupaya maksimal di malam pertama mereka akan melakukan hubungan intim. Dia menoleh kesana-kemari. Memanggil-manggil nama Aileen dengan nada suara yang teramat mesra.
Tiba-tiba muncullah sosok orang yang dicari-carinya. Aileen keluar dari dalam kamar mandi dengan berlenggak-lenggok gemulai laiknya seorang model. Samuel sontak melotot.
Tubuh sintal istrinya itu hanya terbalut sehelai lingerie berwarna merah menyala yang sangat pendek. Dada Samuel sampai berdesir melihatnya.
Tatapan pria itu lalu beralih pada sepasang kaki jenjang istrinya yang terbalut stocking hitam berbentuk jaring-jaring keren. Ya Tuhan, batin Samuel kalut. Kau telah menganugerahiku istri yang luar biasa mempesona seperti ini. Masa Kau tega membiarkan malam pertama kami ini gagal total?
"Sam," ucap Aileen manja. Dikalungkannya kedua tangan pada pangkal leher sang suami. "Kok diem aja, sih? Jelek ya, aku pakai kostum ini?"
Suaminya itu menggeleng kuat-kuat. Bibirnya langsung mendekati bibir mungil sang istri. Ciuman mereka berlangsung lama dan penuh gairah. Ketika tangan Aileen mulai menyentuh bagian-bagian sensitif tubuh suaminya, pria itu tiba-tiba bergerak menjauh.
"Sori, Leen," katanya sambil meringis. Sorot matanya tampak sedih. "Sepertinya aku masih belum bisa...."
Tangan sang istri dengan sigap menutup mulut Samuel. "Kamu mau memberiku kesempatan kan, Sam? Please...."
__ADS_1
Sorot mata Aileen yang terlihat terbegitu memohon membuat hati suaminya merasa tidak tega. Akhirnya pria itu menganggukkan kepalanya. Sang istri tersenyum bahagia. Namun saat perempuan itu hendak melepaskan boxer yang menutupi aset paling berharga milik sang suami, pria tersebut menghalanginya.
"Jangan, Sayang. Please...."
Ekspresi wajah memelas Samuel membuat Aileen memutuskan untuk mengalah. Baiklah, batin perempuan itu dengan lapang dada. Aku tidak mau membuat Sam merasa nggak nyaman. Biarlah dia kustimulasi dengan cara lain.
"Krim yang tadi kukasih sudah dipakai kan, Sayang?" tanya wanita itu sembari mengerling genit.
Sang suami mengangguk pelan. Bahkan sudah kuoleskan tebal sekali, Sayang, batinnya getir. Bisa jadi sudah melebihi dosis. Tapi sampai sekarang aku belum merasakan perubahan apapun pada adik kecilku! Pria normal manapun pasti bahagia sekali mempunyai istri yang aktif di ranjang seperti ini. Tapi sayang sekali aku tak punya kemampuan untuk mengimbangi Aileen seutuhnya!
Tiba-tiba hati Samuel merasa sangat geram. Dia merasa tak terima dengan keadaan ini. Hal itu membuat dirinya terpacu untuk memberi kepuasan optimal pada sang istri.
Terdengar erangan-erangan Aileen menikmati sentuhan suaminya itu. Semakin lama semakin keras. Syukurlah, cetus pria itu dalam hati. Meskipun adik kecilku gagal berdiri, Aileen masih bisa kubikin puas dengan stimulasi lainnya. Maafkan aku ya, Sayang. Krim yang kamu beli di online shop itu ternyata nggak manjur sama sekali. Adik kecilku tak bereaksi . Tapi setidaknya aku bahagia bisa membuatmu puas malam ini, Aileen. Setidaknya jerih payahmu membuat malam pertama kita sebagai suami-istri ini tidak sepenuhnya gagal total!
"Thank you ya, Sayang," ucap Aileen lembut sembari mengecup pipi Samuel mesra. "Kamu sudah mengupayakan yang terbaik."
Suaminya itu tersipu malu. "Maafkan aku ya, Leen. Harapanmu nggak menjadi kenyataan," ujarnya dengan nada menyesal.
Sang istri tersenyum bijak. "Jangan putus asa, Sayang. Ini kan baru percobaan pertama. Malah aku terharu kamu masih berusaha membuatku puas. Aku benar-benar bersyukur mempunyai suami seperti kamu, Sam. Sama sekali nggak egois. Sangat memikirkan kepentingan istri."
__ADS_1
Samuel mengecup kening perempuan itu penuh haru. "Kamu masih mau melakukan percobaan kedua, Leen? Bagaimana kalau tetap nggak berhasil?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.
Aileen menjawab santai, "Ya sudah. Kita lanjut aja ke percobaan ketiga, keempat, dan seterusnya, Sayang."
"Hah?! Kamu serius, Leen?"
Samuel melotot tak percaya. Kini dia tahu betapa besar perasaan cinta Aileen kepadanya. Rupanya kesabarannya mendampingi istrinya itu di masa terpuruknya akhirnya menuai hasil. Memang manusia harus bersakit-sakit dahulu, barulah bersenang-senang kemudian, batin pria itu menyadari.
"Of course, Honey."
"Kamu nggak cape, Sayang?"
Sang istri mendesah pelan. "Kita ini kan sudah ditakdirkan menjadi suami-istri, Sam. Tuhan pasti punya alasan untuk itu. Barangkali Dia percaya aku bisa menjadi jembatan bagi kesembuhanmu. Kalau Tuhan saja percaya sama aku, kenapa kamu sendiri sangsi sama istrimu ini?"
Pernyataan Aileen itu membuat Samuel benar-benar terharu. Diciuminya bibir istrinya lagi. Dan ketika Sam hendak berbuat lebih jauh lagi, terdengar suara Aileen menegurnya, "Lho, lho, Sam. Kamu mau ngapain?"
Suaminya itu menyeringai nakal. "Aku mau memuaskanmu dengan cara lainnya lagi, Sayang. Pokoknya malam pertama ini harus menjadi sangat mengesankan buat kita berdua."
Dan beberapa detik kemudian Aileen bagaikan terbang ke awang-awang. Suaminya benar-benar melakukan yang terbaik untuk membuatnya mencapai puncak kenikmatan.
__ADS_1
Aku tak merasa keberatan memuaskanmu setiap hari, Aileen, batin Samuel sepenuh hati. Metode apapun akan kupelajari demi membuatmu bahagia lahir-batin. Asalkan kamu tetap setia mendampingiku seumur hidup ini. Betapa aku sangat beruntung memilikimu, istriku tercinta. Aku takkan melepaskanmu selamanya, Aileen Benyamin!
***