
Sore ini, aku berjalan di pinggiran kolam sambil murung. Terbesit dalam pikiranku tentang kabar saudariku. Apakah dia tidak apa-apa jika aku tinggal selama ini tanpa aku beri kabar.
Entah kenapa seperti itu, mereka seolah menutupi sesuatu dariku.
Aku ingin pergi keluar menemui saudariku, namun seminggu ini aku tidak diberi izin untuk keluar.
"Nyonya, apa yang anda lakukan di sana?"
Agatha, satu-satunya teman yang dekat denganku selama aku mulai bekerja di sana.
Aku menggeleng, mengatakan jika aku hanya sedang berjalan-jalan menikmati udara sore ini.
Dia berjalan ke arahku, kemudian duduk di pinggiran kolam sambil memercikkan air kolam.
Aku ikut duduk bersamanya.
"Berapa lama kau bekerja dengan tuan?" Aku bertanya, memecah keheningan.
"Hampir sepuluh tahun." Agatha menunduk. Dia tampak sedih.
"Apa ada masalah?"
"Tidak ada apa-apa, hanya merasa letih."
Aku ikut menunduk, menatap air kolam yang jernih.
"Bisakah kita pergi keluar dan jalan-jalan?"
Agatha menggeleng."Entahlah, mungkin saja bisa."
Aku tersenyum, mengajak Agatha pergi menemui Jaden Arshon.
Sekarang kami berdiri di depan kamar Jaden Arshon.
Aku mengetuk pintu kamarnya, pintunya terbuka. Bukan Jaden Arshon, tapi seorang wanita.
"Siapa kau?" Tanyaku dengan nada ragu.
"Lantas kau siapa? Kenapa kemari?"
Agatha menarikku mundur setelah dia melempar senyum pada wanita itu.
Ah, apa mungkin aku salah kamar ?
"Bagaimana jika nanti saja setelah makan malam?"
Aku mengangguk.
Kami kembali ke kamar masing-masing.
Jika dibandingkan dengan sebelumnya, pekerjaan di sini lebih ringan. Aku tidak selalu bersama tuan Nizcholn. Hanya saat aku dipanggil dan pada saat tertentu saja.
Tugasku juga bukan menyuapi tuan Nizcholn lagi. Atau membersihkan kamarnya.
Tapi, benar-benar hanya menemani tuan Nizcholn. Membacakannya buku, membawanya pergi jalan-jalan.
Bahkan hanya sekedar mengobrol yang memang tidak pernah ditanggapi oleh tuan Nizcholn. Dengan kata lain aku mengajaknya bicara, selalu aku usahakan meskipun dia tetap diam.
Aku duduk di pinggiran jendela.
Berkurangnya tugasku, justru membuatku merasa bosan.
Aku menghela napas perlahan.
Di bawah sana, terlihat sekelompok pria yang sedang berbincang. Aku tidak mengenal siapa saja orang-orang itu. Yang aku tahu hanya satu orang saja, dia adalah dokter tuan Nizcholn.
Mereka terlihat serius membicarakan sesuatu yang sepertinya penting. Aku tidak ingin ikut mencampuri urusan mereka, jadi aku hanya duduk sambil membaca buku yang baru aku ambil kemarin di ruang baca.
__ADS_1
Di ruang baca yang sekarang, buku-bukunya jauh lebih lengkap. Dan beberapa menarik perhatianku untuk dibaca.
Selama aku membaca sambil duduk di pinggiran jendela, rasanya semakin membuatku terganggu. Mereka tak kunjung selesai. Aku menutup jendelanya, berpindah tempat di atas tempat tidur untuk lanjut membaca.
Ketika aku sedang membaca, aku melirik pada jam dinding. Sudah masuk waktu makan malam.
Aku meletakkan bukunya di atas nakas lalu pergi ke ruang makan.
Mereka semua sudah ada di sana. Aku ikut membantu yang lainnya untuk menyiapkan makan malam kami.
Makan malam kali ini sedikit berbeda. Tidak banyak yang berbicara, malahan makan malam hari ini terasa agak sunyi.
Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Namun di tengah-tengah kami sedang makan, Jaden Arshon tiba-tiba saja datang.
Semuanya segera beranjak dan menunduk memberi hormat pada Jaden Arshon.
Lalu, satu persatu dari mereka berjalan keluar dari ruang makan.
"Nona Rubby."
Aku menghentikan langkah kakiku. Berhenti di hadapan Jaden Arshon.
"Eh, iya?"
"Bisa ikut denganku?"
Aku mengangguk, kami kemudian pergi menuju sebuah ruangan di lantai dua.
Area itu belum pernah aku kunjungi. Rumah ini terlalu luas dan beberapa memang tertutup, tidak boleh dikunjungi oleh sembarang orang.
Jaden Arshon menghela napasnya.
Apa lagi kali ini? Apa aku membuat kesalahan yang tidak aku sadari?
Sebenarnya aku cukup takut. Karena di sana hanya ada aku dan Jaden Arshon.
Sedangkan di luar ruangan tersebut ada beberapa pria yang menjaga ruangannya.
Jaden Arshon memberiku sebuah kertas.
Aku hanya tersenyum kaku. Apa-apaan ini?
><><><><><
Hari ini, aku merasa muak.
Aku hanya melamun, menemani tuan Nizcholn untuk berjemur di bawah sinar matahari.
Aku yang biasanya mengajaknya bicara, kali ini kami saling diam.
Mungkin, pekerjaanku terlihat mudah dengan bayaran yang fantastis. Tapi ini semua bohong.
Bukan nominal uang bayarannya. Namun, aku merasa di bohongi.
Beberapa hari yang lalu, aku diberi sebuah kontrak baru oleh Jaden Arshon. Lagi. Kontrak itu menambahkan sebuah persyaratan yang cukup berat untukku.
Mereka memintaku untuk fokus pada kesembuhan tuan Nizcholn. Melarangku untuk pergi kecuali jika tuan Nizcholn pergi.
Tapi, aku tetap menandatangani kontraknya. Aku tidak mampu jika harus mengembalikan semua biaya yang telah mereka keluarkan untuk saudariku.
Namun aku juga tidak ingin jika terlalu ditekan atau dipaksa.
Karena pada dasarnya, aku memang tidak suka pada beberapa aturan yang ada dalam kontrak.
"Mungkin kamu tidak mau berbicara dengan diriku. Tapi, kali ini aku ingin memaksamu untuk bicara."
__ADS_1
Aku beranjak dari tempat duduk. Berlutut di depan tuan Nizcholn.
Mataku menatap matanya, kemudian aku menunduk.
"Aku tidak tahu, kenapa kamu hanya diam saja. Tapi, aku juga tidak mau jika kamu hanya diam saja. Dengarkan keluhan pekerjamu ini, biarkan aku mencurahkan hatiku."
"Aku ingin keluar dari tempat ini. Aku ingin menghubungi saudariku. Aku ingin pergi menemuinya."
Aku menarik tangannya, aku tahu pekerja sepertiku tidak sopan jika melakukannya secara tiba-tiba. Aku menggenggamnya dengan erat.
Menunduk menatap jari-jari tuan Nizcholn. Dia masih diam. Aku tidak mau menyerah, aku tidak mau menunggunya lagi.
Aku ingin dia memenuhi harapanku untuk hal ini.
"Bisakah kamu merubah kontraknya? Kamu bisa, aku tahu itu."
"Maaf tuan. Sebelumnya kita tidak saling mengenal, bahkan sampai sekarang pun kita tidak mengenal terlalu dekat."
"Aku tidak ingin mengusikmu, aku hanya ingin bekerja. Namun, kenapa kamu mempersulitku?"
Aku semakin menunduk hingga dahiku bersentuhan dengan jari-jemarinya.
Sebuah tangan dengan lembut mengusap puncak kepalaku.
Aku rasa itu hanya bayanganku.
Aku tidak menghiraukan tangan lembut itu mengusap puncak kepalaku, mungkin saja itu benar-benar bayanganku.
Aku tidak mengerti apakah itu benar bayanganku atau itu benar-benar tangan seseorang yang mengusapku lembut, tapi tangan itu semakin mengusap lembut rambutku.
Dengan mata yang berkaca-kaca, aku mendongak.
Sebuah senyuman yang hangat ditujukan padaku.
Senyum yang semakin membuatku merasa jatuh lebih dalam lagi.
Aku melepaskan tangan tuan Nizcholn yang aku genggam sejak tadi.
"Maaf."
"Aku tidak bermaksud untuk menyusahkanmu."
Dia?
Oh Tuhan.
Dia bicara.
Dia mengatakan maaf padaku sambil tersenyum.
Aku menggeleng, apakah dia benar-benar bicara?
Atau hanya ilusiku saja?
Aku masih menatapnya dengan tidak percaya.
Namun dia masih tersenyum padaku.
"Rubby."
Suaranya terdengar lembut.
Dengan cepat aku menggelang.
Ini tidak mungkin.
><><><><><
__ADS_1