
Kita para junior sudah selesai memperkenalkan diri. Dan Kak Zen mulai memimpin untuk melanjutkan kegiatan kita hari ini.
" Nah.. Perkenalan sudah selesai. Hari ini kita akan berdiskusi sedikit tentang Fakultas Sastra." Kata Kak Zen. "Apa disini ada yang tau? Study paling penting di fakultas sastra itu apa?" tanya kak Zen sambil menatap bergantian juniornya.
" Bahasa asing?" jawab seorang cowok.
" Kenapa bahasa asing?" tanya kak Ave sambil mengangkat satu alisnya.
" Ya. Seperti Bahasa Inggris akan memudahkan kita dalam berkomunikasi dengan siapa saja. Terlebih saat kita berinteraksi dengan orang asing." jawab cowok tadi.
" Ada jawaban lain?" tanya kak Zen.
" Multikulturalisme?" sahut Jessica.
" Bisa jelaskan kenapa?" tanya kak Zen ramah.
" Karena mata kuliah itu adalah belajar tentang perbedaan budaya, kebiasaan, serta pola pikir manusia. Kita juga belajar mengenai stereotyping dan kenyataannya. Aku rasa itu cukup penting, kak." sahut Jessica.
" Hhm. Memang benar." sahut kak Ave. "Tapi sayangnya bukan itu yang terpenting, Kouhai ( junior)."
Kak Zen tersenyum mendengar jawaban Jessica.
" Ada jawaban lain lagi?" tanya kak Zen lagi.
" Mata kuliah pengkajian cerita mungkin kak?" sahut cowok yang bernama Robin.
" Hhm.. Katakan alasannya..!" perintah kak Zen.
" Hehe.. Hanya asal menebak sih, kak." jawab Robin sambil nyengir.
Kak Zen yang mendengar jawaban Robin tertawa kecil. "Oke. Kalau tidak ada pendapat lain lagi kakak akan segera memberi tau kalian."
" Aku mau mencoba menjawabnya, Sensei." kata Ken tiba-tiba.
" Baik. Katakan pendapatmu, Ken!" kata kak Zen ramah.
" Mata kuliah Linguistic saga?" jawab Ken.
Kak Zen tersenyum mendengar jawaban Ken.
"Katakan alasanmu, Ken!" perintah kak Zen lagi.
"Karena pada intinya, ilmu linguistik akan mempelajari segala teori yang bersangkutan dengan bahasa. Mulai dari bagaimana bunyi diproduksi, teori pembentukan kata dan sebagainya." kata Ken dengan mimik wajahnya yang serius.
Wah..
Ternyata Ken cerdas juga ya. Aku kira selama ini dia orangnya sedikit konyol.
Maaf ya Ken sudah asal menilaimu.
__ADS_1
"Benar sekali jawaban Ken." kak Zen menatap takjub ke arah Ken. "Jadi mata kuliah paling penting di fakultas sastra adalah Linguistic Saga. Dan study ini juga sangat diwajibkan untuk anak sastra. Dan linguistic ini sebenarnya cakupannya sangat luas. Oleh karena itu linguistik sendiri dibagi ke dalam beberapa mata kuliah seperti Fonologi, Morfologi, Semantik, dan lainnya." jelas kak Zen.
"Oya, kalau belum lulus salah satu mata kuliah linguistik, maka kita nggak bisa lho lanjut ke kelas linguistik selanjutnya. Dan harus mengulang."
Kita semua dengan seksama mendengar penjelasan kak Zen.
" Bagaimana kalau hari ini kita menonton sebuah film? Lalu kita akan berdiskusi tentang film itu?" usul Kak Zen.
" Wah.. Boleh kak." seru mereka bersemangat.
" Ave. Film apa yang akan kita tonton kali ini?" tanya kak Zen kepada kak Ave.
" Ehm. Kali ini aku akan memilih film lama yang berjudul Twillight." sahut kak Ave sambil tersenyum.
" Whoa..?" seru para gadis sangat bersemangat.
" Film kesukaan aku nih." sahut seorang cewek.
" Meskipun sudah berulang kali aku menontonnya tapi aku tidak pernah merasa bosan." sahut seorang cewek.
" Baik. Kakak akan meminjam salah satu ruangan sebentar. Dan mempersiapkan semuanya terlebih dahulu." kata kak Ave lalu bergegas pergi.
Beberapa saat kak Zen mulai mengajak kita untuk pergi ke salah satu tempat di kampus ini.
Dan disana sudah ada kak Ave yang sudah siap untuk memutar film itu. Kita semua duduk di bangku dan mulai menonton film yang diputar kak Ave.
" Wah.. Wah.. Ada adegan begituan." celutuk Sora pelan. Dia menutup wajahnya dengan sebuah buku.
Kenapa aku malah jadi teringat kejadian semalam?ð£
Wahai, Yuko..!! Fokus dan seriuslah..!!
" Sora. Kau belum pernah menonton film ini sebelumnya?" tanyaku tak percaya.
"Belum!" dia menatapku dan meringis.
"Hehe. Sama." kataku sambil meringis menatapnya.
" Sungguh, Yuko?" bisiknya lagi padaku.
" Hhm!" aku mengangguk menatapnya.
" Aku kira cuma aku saja yang belum pernah menontonnya." kata Sora sedikit tertawa kecil.
" Ehem...." kak Ave berdehem. "Sora kau akan mendapat urutan pertama untuk menganalisis film ini." katanya menatap tajam ke arah Sora.
" Eh... Ehm.. Iy.. Iya, Sensei ( kakak senior )." kata Sora kaget.
Sora langsung terdiam mematung menatap kak Ave beberapa saat lalu kembali serius dan fokus menonton film itu lagi.
__ADS_1
" Maaf, Sora." kataku pelan sambil menggenggam tangan Sora. Sora hanya melirikku sambil tersenyum seolah berkata. " It's okay!"
Setelah 2 jam kemudian akhirnya film itu berakhir.
" Well.. Bagaimana dengan filmnya?" tanya kak Ave menatap kita secara bergantian.
" Keren, Kak!" sahut mereka.
" Sangat romantis." sahut yang lainnya.
Lalu tiba-tiba kak Ave melirik Sora dan tersenyum misterius.
" Sora. Coba analisis film yang barusan kau tonton..!" kata kak Ave ramah. Tetapi auranya sedikit seram deh.
" Ah.. Ehm.. Iya kak.." sahut Sora. "Untuk karakter Bella menurutku dia orang yang tertutup (introvert). Sifat tertutup Bella ini yang menonjol adalah sifatnya yang pemalu, tidak mau menonjol dari siapapun, sekalipun dia saat bertunangan dengan Edward yang sangat kaya." kata Sora hati-hati.
" Hhm.. Oke. Bagaimana dengan karakter Edward Cullen? Ada yang bisa menjelaskannya?" kata kak Ave.
" Fiuhhh.. Lega sekali." kudengar Sora berkata pelan. Aku tersenyum padanya sambil mengacungi dua jempol padanya.
Tiba-tiba Ken mengangkat tangannya kali ini.
"Oke. Bagaimana analisismu tentang karakter Edward Cullen?" tanya kak Ave.
"Menurutku karakter Edward Cullen adalah perhatian. Pada bagian dalam film Breaking Dawn ini memperlihatkan seberapa besarnya perhatian Edward terhadap Bella yang dianggapnya secara tidak langsung rentan dengan kecelakaan. Sehingga dia membelikan mobil yang sekuat tank untuk Bella."
"Oke. Bagaimana dengan karakter Jacob Black menurutmu, Yuko?" kini kak Ave menatapku.
Aku sempat sangat terkejut saat kak Ave memanggil namaku. Tapi aku akan berusaha menjawabnya sebaik mungkin.
" Karakter Jacob Black menurutku adalah temperamental. Terlihat pada saat Bella mengisyaratkan pada Jacob bahwa ia dan Edward akan melakukan malam pertama ketika Bella masih seorang manusia. Dan Jacob marah luar biasa karena dia tahu bahwa kalau Bella melakukannya maka Bella akan mati. Dalam kemarahan ini Jacob hampir melukai Bella." jawabku dengan hati-hati.
Semoga saja kak Ave bisa menerima pendapatku barusan. Soalnya aura kak Ave ini sungguh sedikit menakutkan. Dia terlihat sangat dingin dan sedikit menyeramkan sih.
" Lumayan." kata kak Ave. "Lalu bagaimana dengan karakter Charlie Swan? Ada yang mau mengutarakan analisisnya?" kata kak Ave.
Kali ini Jessica mengangkat tanganya. Dan kak Ave langsung menunjuk Jessica.
" Karakter Charlie Swan menurutku adalah peduli. Ketika Jacob lari dari rumahnya, ayahnya tidak berusaha mencarinya karena mengetahui bahwa tidak ada hal apapun yang bisa melukai manusia serigala seperti Jacob. Namun Charlie yang adalah kepala polisi yang juga tidak mengetahui hal itu justru memulai pencarian dengan menempelkan poster Jacob dimanaâmana." jelas Jessica.
" Wah.. Wah.. Kalian benar-benar anak Sastra yang hebat ya." kak Zen memuji kita semua. "Padahal baru berlatih menganalisis sebuah film. Tapi jawaban kalian semua benar-benar sangat membuat kakak bangga sebagai senior kalian. Kalian benar-benar cerdas." kata kak Zen tersenyum tulus.
" Oh iya.. Akhir pekan fakultas Sastra akan mengadakan sebuah acara. Dan kalian diwajibkan untuk hadir. Untuk tempat dan waktu kita akan memberitahukannya melalui group WA nanti." kata kak Zen lagi.
" Untuk hari ini cukup sampai disini ya. Kalian boleh bubar." tambah kak Ave.
...***...
__ADS_1