
"Secantik kamu ..." ucapnya begitu pelan. Haku kini berdiri dan berbalik menatap ke arahku. Lalu dia sedikit mencondongkan badannya padaku. Kedua tangannya mendarat di antara tubuhku di atas bangku yang sedang aku duduki. Kini aku bisa menatap sepasang mata bening yang begitu indah itu hanya berjarak beberapa inchi dariku saja.
Perlahan aku memejamkan mataku dan menggenggam lengannya yang kuat. Dan aku mengangkat kepalaku untuk menyambut bibirnya, menikmati setiap inchi dari nafas uniknya.
Pria di hadapanku ini adalah orang yang pernah meninggalkan kekasaran di masa mudanya dulu, untuk tetap menjaga ketulusan dan kemurnian hatinya selalu. Dia sering membuatku lupa bagaimana dia dulunya tak terkendali seperti angin.
Dibandingkan dengan orang lain, Haku memiliki tubuh yang lebih kuat, jiwa yang lebih kuat, dan tekad sekuat baja. Namun dia memiliki hati yang penuh dengan kelembutan, lebih lembut dari siapapun.
Aku menggunakan betisku untuk berpegangan erat pada pinggangnya. Aku ingin selalu bersama dengannya, menautkan hati bersamanya selalu. Aku juga ingin menautkan setiap bagian dari dirinya pada hatiku. Untuk bisa membiarkan diriku, menanggung segalanya.
Sekali lagi, suara tawa memasuki telingaku. Dan perlahan aku membuka setengah mataku untuk merasakan angin yang perlahan menyapu kulitku yang sedang terbakar.
Bahkan sebelum aku terbangun dari ciuman yang mendalam yang hampir saja membuatku kehilangan kesadaran, adegan di depan mata membuatku menangis karena terkejut.
Aku melihat daun ginko yang bertebaran saat itu. Tak terhitung banyaknya daun ginko yang melayang di udara, menari bersama di sekitar kita.
Warna keeamasan menutupi setiap daun itu. Dan setiap daun seperti tergambar oleh sesuatu. Membentangkan sayap mereka saat mereka berputar di udara.
Para pengunjung yang berada agak jauh tak berhenti menatap mereka karena begitu terpana dan tidak dapat menahan keterkejutan mereka dan mereka semua berseru dengan lantang, "Wow ..."
Haku tersenyum samar. Kehangatannya yang berulang pada bibirku secara bertahap meninggalkan suasana yang mengharuskan mengakhirinya setelah sekian lama. Perlahan Haku mulai berdiri dengan tegap dan gagah.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Haku begitu lembut dan tersenyum tipis menatapku.
Aku segera berdiri dan menegakkan tubuh dengan rapi sambil sedikit berjinjit menghadap Haku. Menekan diriku dengan erat kepadanya.
"Aku menyukainya. Sangat menyukainya!" ucapku dengan pelan dan yakin.
Aku menganggat kepalaku dan menatap Haku. Dengan lembut aku menggunakan jemariku untuk menggosok dagunya, bibirnya, ujung hidungnya, dan sudut alisnya. Netraku mengikuti setiap pergerakan jemariku.
"Aku sangat menyukainya ... Sampai aku tidak tau bagaimana untuk membuktikan kepadamu betapa aku menyukainya ..." ucapku dengan pelan dan tersenyum tipis.
__ADS_1
Haku segera meraih untuk menggenggam jemariku yang masih berada di antara alisnya. Senyumnya terlihat sangat menawan dan begitu indah.
"Tetapi aku pada saat itu tidak yakin apakah aku bisa memilikimu untuk hidup ..." ucap Haku pelan.
Aku menatap sepasang matanya yang begitu bening dan cerah lalu tertawa kecil.
"Dan apakah kamu sudah yakin sekarang?" ucapku menggodanya.
"Yeap." Haku menjawab tanpa berpikir. Kedua alisnya yang sedikit terangkat mengungkapkan hatinya yang pantang menyerah.
"Untuk pertanyaan ini ... Aku harap kamu juga memberiku sebuah jawaban ..." Haku memegang kedua pinggangku lalu bersandar memelukku dengan sangat erat dalam pelukannya. Dan aku juga sudah tak sabar ingin segera memberinya sebuah jawaban.
"It's all yours." ucapku pelan dan sedikit tersipu. "Sisa hidupku adalah milikmu. Tahun-tahun yang akan kita lewatkan adalah milikmu, Haku. Semua yang aku miliki, aku akan memberikannya untukmu. Aku akan memberikan segalanya untukmu. Meninggalkan semua masa laluku dan berjalan bersamamu." imbuhku dengan pelan.
Aku mendengarkan sebuah tawa kecil yang begitu bahagia. Momen ini membuatku merasa kalau kita hanya sedang berdua saja di dunia ini. Lalu dia perlahan melepas pelukannya. Lalu dia meraih salah satu jemariku dan menggenggamnya dengan erat.
Aku malah menananggapinya dengan candaan, aku membelai tangannya dengan lembut dengan menggelitikinya. Namun dia malah semakin memegangku dengan erat. Dan tawa kita mulai berbaur bersama.
Aku mengiyakan dengan anggukan kecil dan tersenyum padanya.
Kita kembali menaiki mobil Haku dan segera melaju ke sebuah tempat. Mobil ini terus melaju membelah jalanan yang tak terlalu ramai. Hingga beberapa saat kita telah sampai di sebuah restaurant. Ternyata kita pergi ke Rokkasen Restaurant.
Aku dan Haku segera turun dari mobil, kemudian berjalan beriringan untuk memasuk restaurant itu. Haku terus menggandengku dan menuntunku untuk masuk ke dalam. Rasanya sedikit gugup. Karena akan bertemu dengan rekan kerja Haku.
"Just be rilex, Yuko ... Ini hanya makan malam bersama rekan kerjaku." kata Haku sedikit melirikku dan dia berkata begitu lembut dan tersenyum hangat.
Aku hanya menggaguk pelan menatapnya.
Haku masih berjalan sedikit di depanku dan masih menggandengku, menggiringku untuk menuju me sebuah meja yang mungkin sudah mereka booking sebelumnya. Di meja itu sudah ada beberapa orang yang duduk di sana. Dan mereka segera menyambut Haku dengan ramah.
"Selamat malam, Pak!" sapa mereka dengan ramah.
__ADS_1
"Malam. Maaf saya sedikit terlambat karena jalanan yang sedikit macet." ucap Haku dengan nada santai. "Oya, kenalkan. Ini adalah Yuko tunangan saya." imbuh Haku lalu memperkenalkanku kepada mereka.
Aku tersenyum dan membungkukkan sedikit badanku untuk menyapa mereka, "Hallo, Salam kenal!"
"Salam kenal." sahut seorang pria salah satu rekan kerja Haku. "Tunangan anda cantik, Pak!" imbuhnya menggoda Haku.
Haku hanya meanggapinya dengan tersenyum lalu menarik sebuah kursi untukku duduk. Lalu menarik kursi untuk dirinya sendiri.
Ada 6 orang yang sedang berada di meja makan malam saat ini. 4 orang pria, dan 2 orang gadis. Salah satu gadis itu adalah Anzu.
"Apa sudah memesan makanan?" tanya Haku dengan ramah.
"Belum. Kita semua menunggu anda, Pak." sahut Anzu dengan seulas senyum.
"Oh, kalau begitu segera pesan saja." ucap Haku masih terlihat sangat ramah.
Salah satu dari rekan kerja Haku mengangkat tangannya dan memanggil seorang waiter.
"Kami ingin memesan makanan." ucap pria itu.
Dengan ramah, waiter itu menyodorkan beberapa buku menu untuk kita. Dan kita segera memilih pesanan masing-masing.
"Yuko, Kau mau pesan apa?" ucap Haku sedikit melirikku.
"Pesankan saja yang sama denganmu ..." ucapku pelan.
"Hhm ... Baiklah." sahut Haku lalu melihat-lihat buku menu itu.
Mereka semua sudah menentukan makanan dan minuman pesanan mereka. Sementara Haku masih terlihat sedikit bingung menentukan menu.
"Bukankah biasanya anda suka chicken yakiniku, Pak?" ucap Anzu tiba-tiba dengan ramah. Senyumnya mengembang menatap Haku yang saat ini duduk berseberangan dengannya.
__ADS_1
"Oh ... Iya. Kalau begitu chicken yakiniku 2 dan matcha 2." ucap Haku kepada waiter itu. Dan waiter itu segera mencatat pesanan itu.