My Little Prince

My Little Prince
Haku Sakit


__ADS_3

"Sudah. Tidak perlu kau lakukan lagi, Haku. Kau bisa kehabisan nafas nanti karena meniupnya terus." candaku sedikit terkekeh.


Dan Haku juga ikut tertawa kecil mendengar ucapanku.


"Ya sudah. Aku akan membuat ramen dan tehnya dulu. Kau tunggu disini saja ya." ucapnya lalu segera kembali ke dapur.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya.


Aku terus menatapnya dari kejauhan. Dia sangat cekatan sekali dalam melakukan sesuatu. Aku mulai kepikiran lagi tentang kak Zen. Bagaimana aku mulai menceritakannya kepada Haku ya? Bahkan Haku saja tidak pernah mengetahui kisah gadis kecil itu.


Lalu kira-kira apa keputusan Haku nanti ya? Aku benar-benar bingung sekali saat ini.


Beberapa saat Haku sudah datang lagi dengan membawa ramen dan teh ocha hangat.


Setelah meletakkannya di atas meja dia segera duduk di sampingku.


"Ayo, kita makan dulu." ajaknya sambil tersenyum hangat. Lau dia menyodorkan samangkok ramen padaku.


"Hhm ..." aku segera mengambil sumpit untuk mulai menyantapnya.


"Itadakimasu!" sahutnya sambil mulai menyantap ramen instant itu. Dan aku juga segera memakannya.


Ramen ...


Bahkan malam itu aku dan kak Zen juga baru saja mau menikmati ramen itu. Namun ternyata dia malah mengalami hal buruk itu. Oh, Kak Zen yang malang ... Bagaimana caraku menebus semua itu? 🥺 Aku kembali teringat lagi dengan kak Zen. Membuat suasana hatiku kembali sedih sekali.


Aku melirik ke arah Haku, Haku mulai menyantap ramen itu dengan cepat. Sementara aku hanya memakan beberapa suap saja.


"Kenapa sedikit sekali makannya?" ucap Haku menatapku bingung. "Apa ramennya tidak enak?"


Aku menggeleng pelan dan berusaha untuk tersenyum padanya.


"Aku sudah kenyang, Haku." ucapku pelan.

__ADS_1


"Yuko. Kini apa yang sedang mengganggu pikiranmu? Hari ini kau terlihat seperti sedang memiliki beban yang berat saja. Kau boleh ceritakan padaku semuanya. Kau boleh berbagi denganku." ucap Haku pelan.


Aku terdiam beberapa saat memandangi ramen yang berada di hadapanku itu.


"Apa ini soal kak Zen?" tanya Haku tiba-tiba.


Aku mengangguk pelan. "Aku masih sangat takut sekali, Haku. Kak Zen seperti ini karena aku. Bagaimana mungkin aku bisa merasa tenang dan baik-baik saja." kataku pelan sambil merem*s pelan dress yang sedang aku pakai saat ini.


Haku meraih dan menarik jemariku.


"Tidak. Ini bukan salahmu. Jangan terus menerus menyalahkan dirimu sendiri. Kak Zen pasti akan bangun kembali. Kau harus percaya itu!" Haku menatapku lurus-lurus. Matanya sangat jernih dan penuh kejujuran.


"Haku ... Aku ..." bagaimana aku mulai menceritakannya padamu?


"Sudah. Sekarang kau harus istirahat. Besok kau harus kuliah. Bahkan setelah itu kau harus ke rumah sakit lagi bukan? Kau harus selalu menjaga kesehatan juga. Tidur dan istirahatlah yang cukup!" ucapnya lembut lalu menarikku untuk berdiri. Setelah itu dia segera menggiringku untuk ke kamar.


"Istirahatlah! Dan jangan pikirkan apapun saat ini! Aku akan mengerjakan sesuatu dulu."


"Hhm ..." aku mengangguk pelan.


Pasti dia juga sangat lelah. Kasihan sekali Haku. Aku tak ingin menambahi beban untuknya. Jadi, aku akan menceritakan semuanya pada waktu yang tepat nanti.


Aku berbaring di atas ranjangku dan mulai memejamkan mataku. Berharap diriku bisa istirahat sejenak saja. Melupakan sejenak sedih dan gundah di hati ini.


...***...


Aku terbangun saat alarm dalam ponselku berbunyi. Yeap, kali ini aku akan mengaktifkan alarm setiap hari. Takutnya kesiangan seperti kemarin lagi.


Aku keluar dari kamar dan aku melihat Haku yang tertidur di atas sofa. Aku berjalan mendekati dan memandanginya.


Wajahnya terlihat sangat tenang dan tampan. Aku melihat meja yang sedikit berserakan dengan dipenuhi beberapa buku dan berkasnya. Bahkan dia lupa untuk mematikan laptopnya. Pasti dia sangat kelelahan semalam.


Aku merapikan beberapa buku dan berkas itu. Dan aku juga mematikan laptop itu. Setelah itu aku segera bergegas untuk memasak sesuatu dulu. Hari ini aku hanya memasak Tamagoyaki, Uramaki Shushi dan tempura.

__ADS_1


Aku memilih memasak ketiga makanan itu karena menurutku itu yang paling simple dan praktis untuk memasaknya.


Resep masakan Jepang Tamagoyaki yang satu ini sangat praktis, tak beda jauh dengan telur dadar yang biasa kita santap sehari-hari. Hanya saja bentuknya memang seperti kue gulung. Tamagoyaki ini cocok dijadikan lauk nasi bekal atau hiasan makanan.


Sedangkan Uramaki Sushi sangat mirip dengan norimaki sushi, uramaki pun termasuk sushi roll yang digulung dengan bantuan makisu. Hanya saja cara menggulungnya dibalik, jadi nori berada di bagian dalam dan nasi terlihat di luar.


Dan yang terakhir adalah tempura. Ini yang sangat praktis karena hanya memakai bahan baku udang dan dibaluri dengan tepung dan menggorengnya.


Setelah selesai memasak aku juga menyiapkan bekal untuk Haku makan siang. Bahkan aku juga akan membawa bekal hari ini. Karena ini juga terlalu banyak.


Aku memutuskan untuk mandi dulu. Sedikit segar rasanya setelah mandi dan keramas. Aroma sabunnya membuatku sedikit tenang. Hingga tak terasa aku sudah menghabiskan hampir satu jam berendam.


Oh, Tidak!


Aku segera menyudahi aktifitas mandiku dan segera mengenakan handuk bajuku. Lalu aku bergegas ke kamar untuk berganti pakaian.


Hari ini aku memakai kemeja baby blue lengan pendek dan memakai bawahan rok warna hitam. Tak lupa aku mengenakan sweater tipisku yang berwarna putih lembut.


Setelah itu aku mulai memakai make up tipis dan natural. Lalu aku segera pergi ke ruang tengah untuk segera membangunkan Haku. Aku jongkok di hadapannya dan sedikit menggoncangkan bahunya.


"Haku. Bangunlah ..." kataku lembut.


Dia hanya sedikit merubah posisinya tanpa membuka matanya. Itu membuatku sedikit tersenyum menatapnya. Aku menjadi teringat oleh ucapan Mirae yang mengatakan bahwa Haku sedikit sulit untuk dibangunin.


"Haku ..." panggilku pelan lagi. Aku menggoncangkan pelan bahunya lagi. Tapi dia tetap tidak bangun.


"Haku, Bukankah kau harus berangkat lebih awal hari ini?" ucapku lembut. Kali ini aku mennyentuh lengannya untuk membangunkannya.


Kenapa panas tubuhnya? Cepat-cepat aku memegang keningnya karena khawatir. Dan ternyata juga sedikit panas. Aduh Haku sakit ...


Aku segera pergi ke dapur untuk mengambil air hangat untuk mengkompresnya.


Haku masih belum bangun. Dan aku mulai mengkopresnya dengan pelan dan hati-hati. Ini pasti gara-gara kehujanan semalam. Maaf, Haku. Andai saja kemarin malam kau tidak datang ke rumah sakit. Pasti kau tidak akan kehujanan dan menjadi sakit seperti ini.

__ADS_1


Lagi-lagi aku hanya menyusahkan orang lain. Aku selalu memberi beban pada orang lain. Hiks ...


__ADS_2