My Little Prince

My Little Prince
Mimpi itu...


__ADS_3

Sebelum berangkat ke Kanto Utara, setiap fakultas dikumpulkan masing-masing terlebih dahulu untuk mendapat materi dari Fakultas masing-masing.


Ketua jurusan Sastra, Pak Kyoshin memberi sambutan dan memperkenalkan sejarah singkat awal berdirinya Fakultas Sastra.


Materi selanjutnya, kami sempat diputarkan sebuah film karya alumni fakultas sastra Todai. Film itu berjudul Edelweiss.


Kita semua menyaksikan film itu dengan seksama.


Tunggu sebentar. Aku merasa sudah pernah melihat ini semua.


Aku melihat disebelahku ada Sora dan Ken. Pakaian mereka. Aku pernah melihatnya sebelumnya.


Kemudian aku menatap film itu. Dan film itu sangat familiar. Aku merasa seperti sudah pernah melihatnya.


Aku memperhatikan seluruh ruangan aula ini. Aku juga merasa pernah berada di aula ini. Tatapanku berhenti saat aku menatap langit-langit. Lampu raksasa itu..? Mirip sekali dengan yang aku lihat di dalam mimpiku tadi pagi.


Pandanganku menuruni menatap siapa yang duduk tepat di bawah lampu itu. Mataku membulat sempurna. Aku melihat salah satu dari mereka adalah seorang pria berpakaian setelan kemeja putih dan memakai jaz hitam bergaris . Itu adalah kak Zen. Dan pakaian itu yang aku lihat di dalam mimpiku tadi pagi.


Apa yang akan terjadi nanti? Apakah semua akan baik-baik saja atau benar-benar akan terjadi sesuatu. Bagaimana jika benar-benar akan terjadi sesuatu?


Tidak mungkin..!! Aku tidak akan mungkin membiarkan mereka terluka seperti yang aku lihat di dalam mimpi.


Aku harus mencari alasan agar kak Zen dan teman-temannya pindah dari tempat duduknya saat ini. Tapi bagaimana caranya? Aduh...!! Bagaimana ini..?!


Aku kembali menatap lampu raksasa yang tergantung itu. Lampu itu mulai bergoyang. Tanpa pikir panjang aku segera bangkit dari dudukku. Lalu bergegas mendatangi kak Zen. Hatiku sudah mulai was-was menatap lampu itu.


" Kak Zen..!" panggilku saat sudah di dekatnya.


" Yuko. Ada apa?" tanya kak Zen terheran-heran.


Aku kembali menatap lampu itu. Masih sedikit bergoyang. Bagaimana ini?


" Kau ngapain berdiri disitu?" tanya kak Ave dingin. Dia duduk di sebelah kak Zen.


Bagaimana ini? Aku tak punya alasan untuk menyuruh mereka pindah tempat duduk. Aku sangat takut jika lampu itu akan benar-benar terjatuh.


" Ak.. Aku..." kataku bingung.


" Katakan, Yuko. Ada apa?" tanya kak Zen ramah.


" Kakak semua harus pindah ke tempat duduk lain." kataku akhirnya.


Mereka yang duduk bersama kak Zen terheran-heran menatapku.

__ADS_1


" Memang kenapa?" tanya salah satu senior.


Apa yang harus aku katakan kepada mereka. Jika aku bilang lampu itu akan terjatuh apa mereka akan percaya? Terus gimana kalau seandainya lampu itu tidak jatuh? Pikirkan sesuatu Yuko..!!


" Yuko. Ada apa ini? Jangan membuat kita bingung..!! Katakan kenapa kau berkata begitu?!" tanya Kak Ave yang terlihat kesal.


" Pokoknya kakak semua harus pindah!" kataku.


" Dasar junior satu ini..!! Kau kembalilah ke tempat dudukmu dan tonton filmnya..!!" perintah kak Ave dingin.


Aku kembali menatap lampu itu dan kini mulai bergoncang agak keras. Lalu tiba-tiba saja rantai lampu itu mulai terlepas dan hendak jatuh. Tidak...!!


" Kak Zen. Awasss..!!" aku berteriak sambil menarik kuat kak Zen. Kita berdua terlempar bahkan sampai berguling hingga aku mendarat diatas tubuh kak Zen. Dan sesuatu kurasakan menggores lenganku. Aku segera bangun karena malu menindihi kak Zen.


Semua yang sedang berada di aula berteriak histeris. Ternyata lampu benar-benar terjatuh. Oh tidak. Para senior itu juga akan terluka. Semua orang berusaha mendekati korban dan segera menolong korban yang tertimpa lampu itu. Ada 6 orang terluka. Dan mereka segera membawa ke ruangan medis. Aku menatap lampu raksasa yang terjatuh itu. Tepat di tempat duduk kak Zen poros utama lampu itu terjatuh dan menancap. Tubuhku bergetar hebat menatap semua ini.


Hampir saja.


Hampir saja.


" Yuko. Kau terluka. Lenganmu berdarah." kata Kak Zen sedikit panik.


Aku segera melihat lenganku. Dan bajuku juga sudah berlumuran darah. Ternyata aku tergores terkena bagian ujung hiasan lampu itu.


" Ayo kakak antar ke ruang medis." kak Zen segera membawaku ke ruang medis. Sora dan Ken mengikuti kita.


Beginikan rasa nikmatnya dijahit? 😭


Ini pertama kalinya aku merasakannya dan tanpa bius.


Setelah beberapa saat Sora dan Ken mendatangiku.


" Yuko. Kau baik-baik saja?" tanya Sora sedikit panik.


" Aku baik-baik saja kok." aku berusaha untuk tersenyum.


" Tapi darimana kau tau lampu itu akan jatuh, Yuko?" tanya Ken terlihat bingung.


" Aku melihatnya di mimpiku. Sebenarnya aku tidak begitu yakin. Tapi semuanya begitu sama seperti yang berada di mimpiku. Jadi aku sedikit khawatir. Karena di dalam mimpiku kak Zen terluka sangat parah. Bahkan poros utama lampu itu telah menembus tubuh kak Zen."


Sora dan Ken bergidik ngeri mendengar aku menceritakan mimpiku.


" Untungnya kau segera menarik kak Zen ya." sahut Sora. " Kalau tidak entah bagaimana nasib kak Zen." lanjut Sora sedih.

__ADS_1


" Yuko..!" kak Zen tiba-tiba datang. " Bagaimana lukamu?"


" Sudah dijahit kak." kataku ramah.


" Syukurlah.."


" Bagaimana keadaan kak Ave dan senior lainnya kak?" tanyaku khawatir.


" Mereka luka ringan saja kok. Jangan khawatir." sahut kak Zen ramah lalu duduk di samping ranjangku. "Aku tak tau apa yang akan terjadi jika saat itu kau tidak menarikku, Yuko. Besi poros utama lampu itu terjatuh tepat di tempat dudukku. Terima kasih sudah menyelamatkanku ya." kak Zen tersenyum manis padaku.


Aku hanya tersenyum kikuk.


" Sora, Ken kalian bersiaplah. Sebentar lagi fakultas sastra akan segera berangkat ke Kanto Utara." perintah Kak Zen.


" Ah.. Lalu bagaimana dengan Yuko?" tanya Sora.


" Yuko tidak diijinkan ikut berkemah. Dia sedang terluka. Dan aku yang akan menjaganya." kata kak Zen ramah.


" Ah. Baik kak. Kalau begitu kita permisi kak. Yuko, cepat sembuh ya." kata Ken lalu menarik Sora.


" Aku masih bisa kok kak ikut berkemah." kataku lalu meraih ranselku.


" Kau tidak kuijinkan mengikuti acara kali ini, Yuko."


" Tapi kak. Bukannya yang membolos acara kali ini akan kena hukuman?"


" Memang benar. Tapi kau tidak akan mendapat hukuman kok. Kau sedang terluka. Dan kakak yang akan bertanggung jawab merawatmu sampai kau sembuh."


" Aku tidak apa-apa kok kak. Aku bisa mengurus diriku sendiri kok. Dan kakak bisa mengikuti acara berkemah itu bersama yang lainnya." kataku ramah.


" Kalau aku melakukan itu, itu akan membuatku merasa jadi orang paling jahat dan dingin di dunia ini."


" Kenapa?"


" Aku hampir saja terbunuh. Dan aku bisa selamat dari maut itu karena kau, Yuko." kak Zen menatapku serius lalu tersenyum menatapku.


" Jadi jangan menolakku lagi ya."


" Ehm.. Baiklah." kataku nurut saja.


" Kau mau makan sesuatu? Biar kakak belikan di kantin dulu?"


" Ehm.. Tidak usah repot-repot kak."

__ADS_1


" Hhm.. Kalau begitu tunggu disini sebentar. Kakak akan membelikan sesuatu."


Aku hanya mengangguk pelan lalu kak Zen segera pergi meninggalkanku.


__ADS_2