
Kak Yuki benar. Yang dibutuhkan kak Zen sekarang ini adalah support. Sebuah semangat untuk kembali membuka matanya kembali. Dia mungkin seperti sedang tertidur, tapi dia bisa mendengarkan saat kita mengajaknya berbicara.
Sama seperti saat itu. Saat aku sedang terbaring koma. Selalu ada beberapa orang yang mendatangiku dan memberiku semangat. Dan aku merasa salah satu dari mereka sangat memberikan sebuah semangat yang sangat membara. Membuatku untuk tetap berjuang untuk tetap hidup dan melewati masa itu.
Aku tidak tau pastinya, tapi semua itu rasanya seperti aku sedang tertidur dan seakan sedang bermimpi. Mimpi yang terasa begitu panjang sekali.
"Masuklah! Kau dari tadi belum sempat menjenguk Zen bukan?" kata kak Yuki ramah.
"Uhm ... Iya, Kak. Kalau begitu aku ke dalam dulu ya." kataku pelan dan segera bangkit dari dudukku.
"Hhm ..." sahut kak Yuki sembari melempar senyumnya padaku.
Aku segera bangkit dan mulai melangkahkan kakiku menuju ruang ICU. Perlahan aku meraih gagang pintu itu lalu kemudian membukanya perlahan.
Aku melangkahkan kakiku menuju pembaringan kak Zen. Masih terpasang lengkap selang-selang itu di tubuh kak Zen. Dan dia juga masih memakai alat bantu pernapasan. Beberapa perban juga masih melilit beberapa anggota tubuhnya.
Ah, sakit dan sesak sekali rasanya aku melihat kondisi kak Zen yang seperti ini.
Dia sedang terbaring lemah dan sedang berjuang antara hidup dan matinya. Saat ini dia sedang melawan maut. Andai saja aku bisa kembali ke masa lalu seperti saat itu, aku tak akan membiarkan ini semua terjadi.
Apakah akan ada keajaiban seperti saat itu lagi? Jika memang ada, rasanya aku benar-benar ingin kembali pada malam itu lagi. Hiks ... Air mataku kini mulai memberontak untuk segera keluar.
Perlahan aku duduk di samping ranjangnya. Aku menatap nanar wajah putih dan pucatnya itu. Wajah yang selama ini selalu tersenyum hangat, dengan mata birunya yang indah seperti Okavango Blue Diamond. Ucapan dan setiap perlakuan ramahnya saat itu kini terlintas kembali pada benakku. Dan jujur saja aku sedikit merindukannya.
Bukan hanya aku, Kak. Pasti semua orang banyak sekali yang sangat merindukan semua tentangmu. Kak Zen sangat baik, ramah dan disukai banyak orang. Mereka akan sangat bersedih melihat kakak yang seperti ini. Cepatlah bangun, Kak Zen! Bukalah matamu kembali, Kak!
"Kak ... Ini aku ... Aku sudah datang, Kak." aku memberanikan diri untuk meraih pelan jemarinya dan sedikit menggenggamnya. "Aku yang pernah kakak temui saat 14 tahun yang lalu." kini suaraku mulai terdengar serak.
"Si gadis kecil yang selama ini kakak cari ... Sekarang aku sudah disini, Kak." kini air mataku kembali membasahi pipiku. "Bangunlah, Kak! Bukankah kakak ingin bertemu dengannya kembali? Bukankah kakak bilang akan bahagia jika melihatnya bahagia? Tapi kenapa kakak malah membuatnya bersedih. Jika kakak tidak segera bangun dia akan sangat bersedih, Kak. Jadi bangunlah kak, Zen ..." kini aku sudah menunduk dan menyandarkan kepalaku kembali di atas ranjang kak Zen. Aku menangis tersedu dan masih menggenggam jemarinya yang hangat.
"Kak Zen bangunlah, Kak ..." ucapku lirih. Dan lagi-lagi aku terus menangis hingga aku tertidur disisinya.
...***...
Aku membuka mataku perlahan. Dan aku sudah berada di dalam sebuah taman bermain. Taman bermain yang sangat tidak asing untukku. Dan itu adalah taman bermain yang berada di Hokkaido.
__ADS_1
Kenapa aku tiba-tiba saja berada disini? Aku mulai berjalan menyusuri taman bermain itu. Aku melihat beberapa wahana yang sedang ramai oleh pengunjung.
Aku terus berjalan menyusuri tempat ini, hingga tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di sebuah bangku taman bermain sendirian. Dan dia terlihat sedikit murung.
Tiba-tiba ada seorang gadis kecil yang datang menghampirinya. Dia membawa dua buah ice cream strawberry. Kemudian gadis kecil itu memberikan salah satu ice cream itu kepada anak laki-laki itu.
Aku berjalan sedikit mendekati mereka. Dan aku bisa mendengar sedikit percakapan mereka.
"Aku punya 2 ice cream. Tapi aku tidak tau mau memakannya bersama siapa. Apa kakak mau?" ucap gadis kecil itu sambil menyodorkan salah satu ice creamnya. Suaranya terdengar begitu lucu dan menggemaskan.
Si anak laki-laki tersenyum lebar dan segera menerima ice cream itu.
"Terima kasih ..." ucap anak laki-laki itu yang terlihat sangat berbinar.
Lalu mereka berdua dengan asyik menikmati ice cream mereka. Dan setelah beberapa saat anak laki-laki itu menyodorkan sebuah kotak untuk gadis kecil itu.
"Apa ini, Kak?" tanya gadis kecil itu sedikit bersemangat.
"Kakak suka sekali membuat kue. Apa kau mau coba beberapa?" ucap anak laki-laki itu dengan senyum lebar.
"Enak sekali. Ini adalah kue terenak yang pernah aku makan, Kak!" ucap gadis kecil itu dengan mata yang sangat berbinar. Dia juga terlihat sangat ceria sekali.
"Benarkah? Apa kau mau aku buatkan lagi suatu saat nanti?" tanya anak laki-laki itu dengan mata birunya yang sangat berbinar indah.
"Benarkah itu, Kak? Aku mau sekali!" ucapnya sangat bersemangat.
"Berapa umurmu?" tanya anak laki-laki itu.
"Tiga bulan lagi akan genap 6 tahun. Kalau kakak?"
"Kakak 9 tahun bulan depan. Oh iya, Siapa namamu?"
"Aku masih dalam tahap belajar menulis, Kak. Aku akan menulis namaku!" gadis kecil itu mengeluarkan sebuah buku di dalam tasnya dan dia mulai menulis namanya pada buku itu. Anak laki-laki itu sedikit mendekat untuk melihat dan membaca tulisan itu. Lalu kemudiam anak laki-laki itu itu tersenyum.
"Kalau kakak namanya siapa?"
__ADS_1
"Sini ..." kini anak laki-laki itu menulis namanya pada buku itu.
"Bagaimana bacanya, Kak? Aku masih hanya bisa membaca dan menulis namaku saja." ucap gadis kecil itu.
Sedangkan anak laki-laki itu hanya tersenyum lebar. Dan aku sempat melihat namanya yang tertulis pada buku itu.
Li Zeyan.
Ternyata kedua anak kecil itu adalah aku dan kak Zen. Aku pernah bertemu dengannya di Hokkaido. Di taman bermain itu.
Aku mulai terduduk lemas melihat semua ini. Tangisku mulai pecah kembali setelah menyaksikan mereka. Apa ini mimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata sekali. Dan rasanya dada ini begitu sesak.
Tiba-tiba ada sebuah sentuhan lembut yang menyentuh pundakku.Terdengar suara lembut yang membuatku terbangun. Dan aku mulai membuka mataku perlahan. Dan aku sudah melihat kak Misha yang sudah berdiri disampingku. Dia sedikit bingung memandangiku, dan aku segera melepas jemari kak Zen.
Ternyata semua itu memang hanya mimpi. Tapi rasanya begitu nyata sekali. Bahkan pipiki juga basah karena aku menangis. Dan aku segera mengelapnya.
"Maaf aku ketiduran, Kak." ucapku cepat-cepat.
"Tidak apa-apa kok." sahut kak Misha ramah. "Ehm, malam ini aku akan menjaga Zen." ucap kak Misha pelan.
"Uhm, Iya. Maaf, Kak. Aku juga harus segera pulang." ucapku cepat-cepat lalu bangkit dari dudukku.
Kak Misha hanya tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hati-hati ya. Kau bawa payung? Di luar sedang hujan." kata kak Misha ramah.
Aku menggeleng pelan. "Aku tidak sempat melihat ramalan cuaca hari ini, Kak. Tapi tidak masalah kok. Aku tinggal tak jauh dari sini." ucapku berbohong.
"Oh, begitu ya ..."
"Baik, kalau begitu aku permisi, Kak." aku membungkukkan sedikit badanku dan segera meninggalkan ruangan ICU.
Aku melirik jam tanganku dan ternyata sudah jam 8 pm. Aku segera bergegas untuk keluar dari rumah sakit. Dan ternyata memang sedang turun hujan.
Suara rintik hujan kali ini terdengar sangat memilukan menurutku. Setiap tetesan airnya seperti sebuah lara yang tak berujung. Aku kembali menumpahkan air mataku tanpa sadar. Dan aku mulai berjalan menuju halte.
__ADS_1