My Little Prince

My Little Prince
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Perlahan aku mulai melangkahkan kakiku menuju ruangan gawat darurat. Dan Anzu kini menyadari kedatanganku. Dia mulai berjalan menghampiriku.


"Apa yang kau lakukan disini? Sudah kubilang jangan dekati Haku lagi!" ucap Anzu masih dipenuhi oleh amarah yang masih memuncak.


"Anzu! Kau tidak berhak untuk melarangku! Biar bagaimanapun Haku masih menjadi tunanganku. Aku berhak untuk selalu ada untuknya."


Anzu tersenyum sinis menatapku, "Kau bahkan hampir saja membunuhnya. Tunangan macam apa itu? Kau tidak pantas untuknya!"


"Ya ... aku memang salah karena tidak mengetahui dan memahami semua tentang Haku. Tapi kau tidak berhak melakukan semua ini padaku, Anzu!" ucapku memberanikan diri.


"Memang kenapa? Aku hanya tidak ingin melihat Haku terpuruk lagi! Seharusnya kau tidak membiarkannya untuk memasuki teater itu kembali! Atau kau sengaja melakukannya? Diam-diam kau ingin menghancurkan Haku karena sudah meninggalkanmu ke Tokyo!"


"Sudah cukup, Anzu!" hardikku dengan dada yang sudah sangat bergemuruh. Antara marah, sedih, terluka, khawatir semua bercampur menjadi satu. "Kau tidak tau apa-apa tentangku dan Haku! Jadi jangan berkata sesuka hatimu, Anzu!"


Anzu terlihat begitu kesal mendengar ucapanku. Dia segera membelakangiku dan terdiam untuk beberapa saat. Lalu dia kembali mendekati pintu ruangan UGD itu. Sementara aku mulai menghempaskan tubuhku di sebuah bangku.


Kedua jemariku saling bertaut. Rasanya seperti saat itu ... rasa sedih tak terkira karena sudah kehilangan Haku saat itu. Dan aku tidak mau lagi kehilangan untuk yang kedua kalinya.


Beberapa saat aku masih menunggu dengan perasaan yang sangat tak menentu. Kini Yuri dan kedua pria rekan kerja Haku juga mulai berdatangan dan segera menghampiri Anzu.


Rasanya aku sangat merasa terpojok kali ini. Namun tiba-tiba salah satu rekan kerja Haku yang pria mulai menghampiriku yang masih terduduk di sebuah bangku panjang.


"Teruslah berdoa untuk keselamatan pak Haku, Nona." ucapnya dengan pelan dan tersenyum tipis.


Aku hanya mengangguk pelan saja tak bisa berkata-kata lagi.


Setelah menunggu beberapa saat, terlihat seorang pria dengan memakai jas almamater putih kebanggaanya mulai keluar dari ruangan penanganan Haku. Anzu terlihat segera menghampiri dokter itu. Sementara aku juga mulai bangkit dari dudukku dan berjalan mendekati mereka.


"Bagaimana keadaan Haku, Dokter?" tanya Anzu yang terlihat begitu khawatir.


"Pasien masih tak sadarkan diri. Ini diakibatkan karena pasien terlalu banyak menghirup asap panas kebakaran. Kita sudah melakukan yang terbaik. Jadi kita tunggu saja dulu." sahut dokter itu dengan tenang. Namun tentu saja ucapannya belum bisa membuat tenang hatiku sepenuh hati.

__ADS_1


"Bolehkah saya masuk, Dok?" tanya Anzu tiba-tiba.


"Boleh. Tapi hanya boleh satu orang saja. Atau kalian bergantian."


"Baik, Dokter." Anzu membungkukkan badannya dan langsung saja memasuki ruangan dimana Haku berada. Sedangkan aku tak bisa berkata dan berbuat apa-apa.


"Dok. Haku akan baik-baik saja kan? Dia akan sadar kembali kan?" tanyaku saat dokter itu melenggang tepat di hadapanku.


"Kita sudah mengupayakan yang terbaik, Nona. Selanjutnya kita hanya bisa menyerahkan kepada Tuhan. Asap panas yang dihirupnya terlalu banyak. Sebenarnya ini sudah sangat baik karena pasien masih bisa bertahan." jawab dokter itu dengan tenang.


Mendengar perkataan dari dokter itu membuatku terdiam membeku seketika. Astaga ... lagi-lagi Haku sedang berada di titik seperti ini.


Bagaimana ini? Sekarang apa yang harus aku lakukan? Ini semua salahku! Andai saja aku tidak bersikeras untuk mengambil kalung itu, pasti Haku akan baik-baik saja. Rasanya remuk sekali hatiku saat ini. Rasanya tak ada lagi kekuatan dalam diri ini. Seketika lenyap begitu saja.


Seketika badanku ambruk begitu saja, lututku terasa lemas dan seperti tak sanggup untuk menopang tubuh ini.


BBRRUUKK ...


Aku membuka mataku perlahan dan hanya melihat atap putih? Dimana ini? Aku segera melihat sekeliling dan ternyata ini adalah sebuah ruangan di rumah sakit. Aku juga melihat Sora sudah duduk di sofa. Dia segera menghampiriku saat melihatku sadar.


"Yuko. Syukurlah kamu sudah sadar." ucap Sora lalu memelukku erat.


"Sora. Dimana Haku? Apa dia sudah sadar?" tanyaku penuh kekhawatiran.


"Yuko ... Haku masih belum sadar." sahut Sora dengan sangat lirih.


Dengan cepat aku segera menuruni brankar dan bergegas untuk meninggalkan ruangan ini diikuti oleh Sora. Aku melenggang cepat menuju ruangan IGD. Namun ternyata Yuri dan rekan kerja Haku yang lainnya sudah tidak ada. Dimana mereka?


Aku memasuki ruangan IGD, dan di dalam sudah tidak ada Haku. Kemudian aku kembali keluar dan meninggalkan ruangan itu. Aku mulai menghampiri seorang perawat yang kebetulan sedang berjalan tak jauh dariku.


"Permisi. Pasien korban kebakaran yang tadi di ruangan IGD sekarang dimana ya, Sus?" tanyaku padanya.

__ADS_1


"Ada di ruang perawatan Edelweiss 3-3, Nona. Baru saja dipindahkan." jawab perawat itu dengan sangat ramah.


"Baiklah. Terima kasih ..." aku membungkukkan badan dan segera menuju ruangan yang dimaksud oleh suster itu. Sora masih dengan sabar menemaniku saat ini.


Beberapa saat kita sudah menemukan ruangan itu. Hanya ada dua pria rekan kerja Haku yang sedang duduk di bangku luar. Dengan langkah cepat aku dan Sora segera menghampirinya.


"Dimana Haku?" tanyaku padanya.


"Dia di dalam, Nona. Namun Anzu sedang bersamanya. Dan kita hanya boleh bergantian untuk menjenguknya." sahut salah satu dari mereka.


Dengan hati yang sudah tidak menentu akhirnya aku menghempaskan tubuhku di atas bangku itu. Aku ingin sekali bertemu dengan Haku! Mengapa aku tidak bisa menemaninya saat ini?! Ah ... aku begitu frustasi saat ini!


"Aku akan berbicara dengan Anzu!" ucap Sora tiba-tiba.


"Jangan, Sora!" sergahku. "Kita tunggu Anzu keluar dulu dari ruangan itu. Kita tidak boleh masuk sekaligus ..." imbuhku dengan lirih.


"Anzu benar-benar keterlaluan ..." ucap Sora yang terlihat begitu kesal.


Beberapa saat aku melihat ibu Haku yang datang bersama Mirae. Raut wajah mereka berdua terlihat begitu khawatir. Mirae mulai berlari untuk menghampiriku dan langsung memelukku begitu saja.


"Kakak. Dimana kak Haku?" tanya Mirae setelah melepas pelukannya.


"Haku masih di dalam." ucapku begitu lirih.


"Kakak tidak apa-apa kan?" tanya Mirae yang terlihat begitu khawatir.


"Kakak baik-baik saja, Mirae." jawabku berusaha untuk tetap tersenyum walaupun mataku kini sudah membengkak karena terlalu banyak menangis.


Kini ibu Haku mendekatiku dan memelukku dengan hangat. Tak tahan aku menahan air mataku, dan kini mereka memberontak untuk membanjiri pipiku lagi.


"Haku pasti akan baik-baik saja. Kita harus percaya itu." ucap ibu Haku yang semakin membuatku semakin sesak.

__ADS_1


"Maaf, Ibu. Ini semua salah Yuko ... andai Haku tidak mengambil kalung itu, pasti Haku akan baik-baik saja." ucapku dalam isak tangisku.


__ADS_2