
Setelah melihat Paus Orca entah kenapa aku menjadi sedikit takut. Ikan itu terlihat sedikit mengerikan dan sangat berbahaya.
Aku tak sedikitpun melepas peganganku yang masih menggandeng lengan Haku. Dan mungkin saja ekspresi wajahku masih terlihat sedikit ketakutan saat ini. Haku yang menyadarinya segera berbalik ke arahku sementara aku kini berdiri membelakangi akuarium itu. Kini Haku terlihat seperti sedang menjebakku di kaca.
Haku mengelus kepalaku dengan tangan kirinya dan tersenyum hangat padaku. "Jangan takut, aku akan selalu ada untuk melindungimu. Dan semua akan baik-baik saja." ucapnya terdengar sangat lembut dan rendah. Bahkan sangat menenangkan hati.
Haku sedikit membungkuk padaku. Aku bisa melihat matanya yang dalam dan alis tegasnya yang sangat indah. Wajahnya sangat tampan dan menawan. Rasanya saat ini hanya ada kita berdua di dunia ini.
Aku sedikit mencondongkan tubuhku ke depan secara impulsif dan mengecup bibirnya dengan lembut dengan singkat.
Beberapa saat kita hanya melakukan kontak mata dan diwarnai senyuman hangat dari masing-masing.
"Aku akan membalasmu suatu saat nanti ..." ancamnya dengan sebuah tawa kecil.
"Hhm ... Lakukan saja!" sahutku dan aku mulai tersenyum kembali saat ini.
Setelah beberapa jam kita menjelajahi Sea Paradise akhirnya kita memutuskan untuk ke pantainya sebentar. Pemandangan alamnya sangat indah, dan banyak sekali pengunjung yang datang hari ini. Mungkin mereka juga sedang berlibur bersama untuk mengistirahatkan otak dari kesibukan. Yeap, sama dengan yang sedang aku lakukan bersama Haku.
Kali ini kita tidak bermain pasir atau air di pantai, kita hanya duduk menikmati pemandangan indah di hadapan kita.
"Apa kau ingin melihatku bermain surf lagi, Yuko?" tanya Haku tiba-tiba. "Tapi sayang sekali disini tidak bisa bermain surf." lanjutnya dengan senyum lebar seakan sedang menggodaku.
"Ahaha ... Tidak apa-apa. Lain kali saja kalau begitu." ucapku dengan tawa kecil.
"Well, Ok! Sekarang kita makan dulu yuk!" ajaknya lalu bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya padaku.
"Okay ..." aku membalas uluran tangannya dan Haku membantuku untuk berdiri.
Kita berdua mulai berjalan menyusuri pantai itu untuk menuju ke sebuah cafe yang tak jauh dari tempat itu. Lalu kita memilih untuk duduk di sisi samping kanan karena pemandangan dari tempat itu sangat indah. Langsung menghadap ke sisi pantai. Indah sekali.
Seorang waitress datang menghampiri kita dan memberikan buku menu.
"Selamat datang." sapanya dengan sangat ramah. "Mau pesan apa ya Tuan, Nona?" lanjutnya dengan sebuah note dan pena yang sudah dia siapkan dan bersiap untuk menulis pesanan kita.
"Wait! Saya dan tunangan saya akan memilihnya dulu." sahut Haku lalu melihat buku menu. Dan aku juga segera melihat buku menu. Sebenarnya aku masih merasa sedikit malu saat mengatakan bahwa aku adalah tunangannya. Dan sepertinya juga wajahku kini sedikit memerah. Aku segera menunduk dan berpura-pura melihat buku menu itu.
__ADS_1
"Sayang, Kau mau pesan apa?" tanya Haku yang masih sibuk melihat buku menu.
"Aku sama saja denganmu, Haku." ucapku pelan.
"Ehm, Baiklah." sahutnya yang masih melihat buku menu itu. "Kalau begitu kita pesan Yakitori, Curry Rice, Sukiyaki, Tonkatsu, Japanese Soba, dan minuman dingin terbaik dari restauran ini." kata Haku lalu menutup buku menu itu.
Sementara waitress tadi masih menyelesaikan menulis pesanan kita.
"Baik. Silakan tunggu sebentar, Tuan, Nona!" sahutnya dengan senyum ramah lalu undur diri.
"Haku, Kau banyak sekali memesan makanan?" tanyaku sedikit membulatkan mataku menatapnya.
"Ahahaha ... Tidak apa-apa. Kita akan menghabiskannya bersama nanti! Karena kita akan butuh tenaga untuk yang akan kita lakukan selanjutnya?" sahutnya dengan tersenyum lebar menatapku.
"Memang kita akan melakukan apa setelah ini?" tanyaku sedikit penasaran.
"Uhm ... Kamu akan segera mengetahuinya nanti ..." sahutnya lalu bersandar di kursinya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Sementara wajahnya masih tersenyum menatapku. Membuatku sangat penasaran saja.
Apa yang sedang Haku pikirkan saat ini? Kita masih butuh banyak tenaga untuk sesuatu yang akan kita lakukan selanjutnya?
Oh My! Apa itu artinya dia sedang menginginkan itu? Aduh ... Hanya dengan memikirkan dan membayangkannya saja sudah membuatku merasa malu sekali, dan mungkin saja kini wajahku kembali memerah.
"Uhm ... Tidak, Haku. Tidak ... Aku hanya sedikit merasa panas saja. Tidak apa-apa kok." sahutku berbohong. Karena tidak mungkin aku mengatakannya kepada Haku dengan jujur jika aku sedang memikirkan hal yang dia bicarakan tadi.
Kini aku menggigit bibir bawahku dan menetapnya dengan mengkerutkan keningku. "Aku baik-baik saja!"
"Serius? Kalau memang kepanasan aku bisa mengatakannya kepada mereka."
"Tidak, Haku." aku mencoba tersenyum dan mengelus salah satu jemarinya.
"Oh. Baiklah. Tapi jika merasa tidak nyaman katakan saja padaku."
"Hai ..."
Beberapa saat seorang waitress datang dengan membawakan makanan pesanan kita. Dia kembali dua kali ke meja kita karena pesanan kita yang lumayan banyak.
__ADS_1
"Terima kasih ..." kata Haku dengan ramah setelah waitress tadi selesai mengantarkan seluruh pesanan makanan kita.
"Sama-sama, Tuan.'" balasnya ramah lalu sedikit membungkukkan badan dan segera pergi dari meja kita.
"Wah aku jadi membayangkan di tempat kamu bekerja, Haku. Beruntung sekali mereka memiliki partner kerja dan atasan yang sangat ramah sepertimu." kataku kagum.
"Ah, tidak juga kok. Aku bisa sangat menyeramkan lho jika sedang serius apalagi saat aku sedang marah." sahutnya tenang.
"Hhm? Kau juga bisa marah? Tapi aku tak pernah melihatmu marah?" godaku sedikit tersenyum padanya.
"Tentu saja aku bisa, Yuko. Aku hanya manusia biasa. Dan punya batas kesabaran." sahutnya seadanya.
"Benarkah? Ehm ... Berarti aku belum mengetahuimu dengan baik." gumamku sambil bertopang dadu menatapnya.
Haku tersenyum menatapku lalu ikut bertopang dadu menatapku.
"Tidak apa-apa." ucapnya dengan tenang. "Enam bulan lagi kita akan selalu bersama. Dan kamu akan mengetahui semuanya tanpa ada yang terlewat satupun. Bahkan hal terkecilpun." lanjutnya lembut. "Sekarang makanlah dulu, sebelum makanannya menjadi dingin."
"Uhm, Iya." sahutku sambil mengambil satu tusuk Yakitori dan mulai menyantapnya. "Haku ... Aku masih khawatir dengan Sora."
"Hhm? Memang ada apa dengannya?" tanya Haku sambil menikmati Japanese Soba.
"Aku kira selama ini Sora dan Ken saling menyukai, namun ternyata Ken malah menjalin ikatan dengan seorang gadis saat ini ..."
"Uhm ... Iya. Aku baru tau kemarin kalau dia sudah berkencan dengan seseorang." sahut Haku sambil memasukkan sepotong Tonkatsu ke dalam mulutnya.
Aku sedikit mendengus mendengar ucapan Haku.
"Yuko. Jangan terlalu mencampuri urusan mereka ... Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dengan dewasa. Karena mereka bukan anak kecil lagi. Mengkhawatirkan boleh, dan memberi saran juga boleh. Namum pilihan tetap ada di tangan mereka." kata Haku dengan menatapku dalam dan kemudian tersenyum samar.
"Hhm ... Iya. Aku hanya khawatir dengan Sora." kataku sedikit murung dan memainkan makananku.
"Sora pasti bisa melewati semua ini. Kalaupun dia tidak bersama dengan Ken, itu artinya bukan Ken yang tertulis di garis takdir untuk Sora." kata Haku lalu meminum minuman dingin di hadapannya yang terlihat sangat cantik seperti pelangi.
"Kau cukup selalu mendukung Sora dan selalu ada saat dia membutuhkanmu."
__ADS_1
"Hhm ... Iya ..."
...***...